OlahragaJune 13, 2007 4:43 pm


Pembalap cilik beradu cepat, bahkan memacu semangat dengan mengajak sang kura-kura kesayangan menemani berlaga.

Indonesia pernah punya crosser legendaris bernama Popo Hartopo. Reputasinya terukir dengan memenangi kejuaraan Asia selama tiga kali berturut-turut di Jepang. Sempat redup, kini dunia motocross kita mulai bangkit. Banyak sekolah balap berdiri meski biayanya mencapai Rp 50 juta per tahun. Sayang, banyak crosser kita masih mengendarai motor ilegal.

Disebut ilegal, sebab kebanyakan motor trail, terutama merk-merk terkemuka, kebanyakan masuk tanpa bayar pajak. Begitu kata teman, seorang promotor balapan trail. “Kecuali satu merk asal Eropa, saya berani jamin semua kendaraan itu masuk ke Indonesia lewat jalur ilegal,” kata teman yang minta identitasnya disembunyikan.

Soal memasukkan motor lewat jalan haram, rupanya bukan tanpa sebab. Belasan tahun silam, Pemerintah pernah memberi dispensasi kepada organisasi yang menaungi dunia adu balap. Setiap motor yang diimpor untuk keperluan olahraga keras ini dibebaskan dari pajak barang mewah dan bebas bea masuk. Rupanya, dispensasi itu diselewengkan oknum pengurus. Alhasil, “Ijin impor 10 unit, yang datang 100 unit,” seorang sumber mengibaratkan. Akibat peristiwa itu, pemerintah menghentikan kebijakan pemberian dispensasi itu.

Maka tak aneh, motor 125 cc seharga sekitar Rp 100 juta per unit itu membanjiri pasar gelap sejak beberapa tahun silam. Seorang crosser akan tahu kemana harus memperoleh motor-motor buatan Jepang, tanpa harus mendatangi agen tunggal pemegang merk (ATPM). Konon, ATPM pun tak pernah punya stok kendaraan built up ini.

Menyaksikan praktek perdagangan gelap semacam ini, sebagian penggiat olahraga motocross gerah. Bukan saja lantaran banyak oknum melakukan penyelewengan, namun juga kesal sebab ATPM juga ogah mendatangkan motor balap itu ke Indonesia. Konon, mengimpor motor jenis ini tak ekonomis. Pasar tak secerah motor bebek. Benarkah?

Jimmy Budhijanto menyangkal. Menurut pemilik ATPM motor merk KTM sekaligus promotor klub balap Coyote- KTM ini, pajak dan bea masuk tak bisa dijadikan alasan produsen membuka gerainya di Indonesia. Buktinya, meski harga motor KTM berada di kisaran Rp 90 juta hingga Rp 125 juta, toh angka penjualannya juga bagus. “Harga motor hanya merupakan komponen kecil dalam olahraga motocross. Yang mahal justru untuk pembinaan atlet, latihan rutin dan saat mengikuti perlombaan,” ujar Jimmy.

Jimmy benar. Sekolah balap kini mulai bermunculan di Jakarta, Surakarta dan Yogyakarta. Peminatnya lumayan banyak, terutama anak-anak, meski biaya kursusnya, konon ada yang mencapai Rp 50 juta per tahun. MNE, sebuah klub di Jakarta, bahkan berani mengirim dan membiayai crosser papan atas kita, Aep Dadang untuk berlaga dalam satu musim kompetisi di Australia.

Kini, yang diperlukan adalah sportifitas para stakeholders. Pemerintah perlu membuka kembali kemudahan berupa dispensasi, namun para jangan ada lagi permainan pengurus organisasi olahraga yang memanfaatkan dispensasi untuk memperkaya diri. Bila ini terjadi, “Saya yakin dalam sepuluh tahun ke depan, kita bisa memiliki crosser-crosser handal, yang mampu bersaing dalam kancah internasional,” ujar Judiarto, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jakarta.

OlahragaFebruary 27, 2007 11:04 am

Menyaksikan kejuaraan nasional Motocross 2007 di Surakarta, 24-25 Pebruari kemarin, yang disponsori perusahaan rokok dan Pertamina, saya merinding. Bukan oleh serunya persaingan para crosser, tapi karena melihat banyaknya anak-anak –bahkan ada yang masih berusia 6 tahunan– ‘berpartisipasi’ dalam event semacam itu.

Yang terbayang di benak saya adalah anak-anak yang ingusnya kadang masih belepotan itu menangis meraung-raung karena patah tulang akibat terjatuh saat berusaha adu cepat melompati superbowl. Atau terjatuh saat gagal melewati tikungan tajam yang becek, yang bisa jadi akan membuatnya tertimpa motor yang semula dikendarainya sendiri. Bahwa sebagian besar dari mereka sudah cukup trampil mengemudikan motor, itu soal lain. Maksudnya, saya pancen sengaja mengesampingkannya.

Pemandangan yang menurut saya ganjil, adalah ketika ayah si bocah memegangi motor di garis START, sementara ibunya melihat dari kejauhan dengan mimik optimistis: menguarkan harapan sang anak bakal jadi pembalap hebat. Kelak. Saya mereka-reka, peristiwa demikian pastilah hanya merupakan obsesi orang tua yang dipaksakan kepada si bocah. Dalam hemat saya, anak seusia itu belumlah memiliki referensi memadai untuk berpikir muluk-muluk. Berbeda kalau sang bocah sudah menginjak remaja.

Bagi saya, sirkuit bukanlah arena permainan ketangkasan seperti terserak di mal-mal di hampir seluruh kota. Masih banyak pilihan olahraga prestasi, semisal tenis lapangan atau sepakbola, yang di samping menyehatkan, juga berguna untuk membentuk watak sportif sejak masa kanak-kanak.

Dunia balapan, bagi saya merupakan dunia anak muda dan orang dewasa. Pergaulan di arena semacam itu, justru melahirkan kompetisi negatif, sebab pembicaraan jenis spare-parts dan asesoris balapan yang dipakai akan selalu identik dengan belanja barang, yang tentu tak ada yang berharga murah. Belum lagi naluri kanak-kanak yang masih selalu ingin menonjolkan diri –tanpa tahu baik atau buruknya– sehingga bisa saja sekali waktu mereka mencuri-curi kesempatan mengendarai sepeda motor di jalan raya. Terbayangkah repotnya jadi orang tua kalau kecelakaan menimpa anak-anak mereka? Tak takutkah akan trauma yang bakal membekas dalam diri anak di kemudian hari?!?

Saya ingat cerita teman saya tentang kisah mantan crosser. Pembalap itu memiliki ketrampilan mumpuni, baik mengendarai motor atau mengemudikan mobil. Beberapa kali, kudengar ia pernah berlaga jadi stunt man partikelir: menabrakkan mobil atau menjatuhkannya di jurang demi menggerus pundi-pundi perusahaan asuransi. Sama takutnya saya pada cerita seorang bekas pembalap yang lihai menjadi joki sepeda motor, lalu menggunakan ketrampilannya untuk menjambret atau ’sekadar’ mangambil ‘cacing’ yang melingkar di leher perempuan yang dijumpainya di jalan.

OlahragaNovember 21, 2006 11:19 am

Namanya Arynxgo, panggilan akrabnya Ringgo. Dari segi angka, usianya terbilang muda, 14 tahun. Tapi, dilihat dari bakat dan prestasinya sebagai petenis, usia itu sudah di ambang senja. Sederet prestasi sudah pernah diraihnya, mulai juara pada event Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) maupun pada kejuaraan-kejuaraan terbuka. Kalau cuma juara dua, ia sudah terlalu sering. Juara pertama, juga sudah berulang kali.

Tapi, nasib sering tak berpihak kepadanya. Ia sering gagal mengikuti perlombaan bergengsi lantaran tak ada biaya. Apalagi bila jauh dari Klaten, kota kecil tempat dia lahir dan dibesarkan. Untuk ikut turnamen di Bandung, misalnya, ia harus berhitung. Dibela-belain merengek pun, kadang tak terwujud, sebab orangtuanya hanyalah seorang guru sekolah swasta dengan gaji pas-pasan. Apalagi, Ringgo masih punya dua adik.

Nahas terakhir dialaminya saat ingin mengikuti kompetisi ITF (International Tennis Federation?) di Surakarta, Jawa Tengah. Saat ayahnya mendaftarkan nama Arynxgo, Jumat (17/11) siang, dijawab panitia supaya datang kembali hari Minggu, tiga hari kemudian. Namun, saat kembali Minggu siang, seorang panitia menjawab: “Pendaftaran sudah ditutup hari Jumat. Sekarang sudah mulai penyisihan,” ujar sang ayah, menirukan jawaban panitia.

Selidik punya selidik, konon peminatnya turnamen itu terlalu banyak, sehingga harus dibatasi. Soal pembatasan jumlah pendaftar dengan cara menyembunyikan informasi, tentu itu soal lain. Konon, begitulah ‘budaya’ yang berkembang di Pelti, organisasi payung olah raga tenis lapangan Indonesia.

Yang lebih seru adalah penuturan seorang teman jurnalis yang biasa meliput peristiwa olahraga. Katanya, untuk bisa mendaftar event-event bergengsi, memang diperlukan kelenturan tersendiri, mulai mendekati panitia hingga pengurus Pelti. “Tanpa koneksi, jangan harap bisa ikut kejuaraan bergengsi,” ujar sang teman.

Rupanya, Ringgo sengaja digiring supaya ikut kelas lomba nasional untuk kategori Kelompok Umur 14 tahun atau KU-14. Sayang, pada giliran bermain kedua kalinya, ia harus menyerah melawan penyandang peringkat pertama KU-14, seorang pemain asal Bandung. Tangan kanannya terkilir saat ia berhasil membalas kekalahan dengan skor 6-4. Pada set pertama, ia dikalahkan dengan skor yang sama. Alhasil, Ringgo yang berhasil menekan permainan lawan dan optimis menang pada set penentuan, akhirnya harus menyerah meski ia sempat memimpin 4-1.

Namun, bukan kekalahan itu yang ingin saya kemukakan di sini. Lebih dari itu, Ringgo hanyalah potret seorang korban sistem pembinaan atlet yang tak jelas, kalau tak ingin menyebutnya dengan mafia pengurus organisasi olahraga. Untuk ikut event semacam itu, Ringgo tak pernah masuk daftar atlet yang difasilitasi Pelti cabang Klaten.

Kita jadi ingat kasus Angelique Wijaya, pesohor tenis asal Bandung. Semula, orang tak mengenal namanya. Bahkan, Pengurus Besat Pelti pun tak pernah meliriknya, bahkan saat ia sukses menyabet kemenangan prestisius dalam sebuah turnamen tenis profesional bergengsi tingkat dunia. Para pengurus Pelti baru merasa kebakaran jenggot, ketika (karena prestasinya yang mengharumkan bangsa) Anggie dipertemukan dengan Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Negara.

Kapan ya, para pengurus organisasi-organisasi olahraga mulai memikirkan perkembangan para atlet binaannya? Tentu, supaya orang-orang seperti Ringgo tak patah arang gara-gara kekacauan sebuah sistem pembinaan, yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan segelintir orang yang duduk sebagai pengurus. Maklum, secara kejiwaan, seorang anak yang masih belia, tentu tak memiliki mental sekukuh orang dewasa.

OlahragaAugust 2, 2006 9:31 am

Baru tahu, ternyata nonton pertandingan sepakbola memang mengasyikkan. Padahal, semula saya sudah ogah-ogahan menyaksikan putaran delapan besar Liga Djarum Indonesia. Andai bukan karena tuntutan perut (maklum, jongos! :p), mungkin saya sudah melewatkan pengalaman akan peristiwa yang ternyata bisa menjadi medium katarsis itu. Bebas berteriak, boleh pula memaki –asal tak terlalu keras dan menusuk hati. Pokoknya happy!


Seperti halnya para supporter, saya memanfaatkan hari-hari pertandingan untuk sekadar melepas penat pikir, mengalihkan (sejenak) kemarahan akan kebiadaban Amerika dan Israel terhadap rakyat tak berdosa di Palestina dan Libanon. Lebih dari itu, saya bisa memanfaatkannya untuk nyapih hawa karena setiap saat rasanya pingin nesu atas sikap para pemimpin republik yang memiliki hobi berkelahi hingga kewajibannya mengatasi bencana yang dialami banyak rakyatnya menjadi keteteran.

Oh…. Lihatlah kembang api itu! Yang dibakar dan diarahkan ke tengah-tengah lapangan saat dua kesebelasan berlaga adu kuat dan kebolehan di Stadion Manahan, Surakarta, 27 Juli lalu. Andai kembang api itu jatuh tepat pada saat para pemain sedang berdesakan berebut bola, mungkin akan muncul sejarah baru: pemain sepakbola terpaksa harus keluar lapangan karena menderita luka bakar!

Seperti saya, mungkin para supporter yang jauh-jauh datang dari Semarang dan Pasuruan itu juga punya masalah pribadi, meski penyebabnya bisa pula berbeda-beda (ingat, ada pula fans berat klub sepakbola yang hobi berkelahi sehingga bisa disewa pemimpin klub untuk bikin ribut saat kekalahan menghampiri). Karena itu, di stadion, dalam suasana seperti itu, mereka bisa menumpahkan semua ekspresi perasaannya, tanpa perlu ragu, apalagi malu.

Apakah memang begitu potret psikologi sebagian masyarakat Indonesia? Entahlah. Sebagian masyarakat kita, sepertinya masih mengidap penyakit kejiwaan yang telanjur kronis. Di lingkungan sosial terkecil seperti keluarga pun, sudah banyak masalah. Ada yang disebabkan oleh pengangguran, himpitan ekonomi, hingga persoalan sosial-politik lokal. Karena itu, berbagai peristiwa yang bisa mendatangkan kerumunan akan segera berubah fungsi menjadi medium katarsis. Pertandingan sepakbola dan pertunjukan musik (campursari, dangdut, tarling) adalah beberapa contoh peristiwa yang mudah dijumpai di sekitar kita.


Namun, ekspresi semacam itu rupanya bukan monopoli orang kebanyakan. Para pemain sepakbola kita, pun seperti kejangkitan penyakit serupa. Sportifitas yang memiliki makna mulia bila dijalankan dengan sungguh-sungguh pun, rupanya sudah dihindari oleh para olahragawan kita. Selama sepekan lebih pertandingan Liga Djarum Indonesia 2006 berlangsung, para penonton selalu disuguhi pertunjukan yang jauh dari semangat sportif itu. Sliding, tackling yang juga dibenarkan dalam hukum sepakbola lebih banyak dipelesetkan menjadi trik untuk mengulur waktu, psy war hingga mencederai musuh demi kemenangan.


Sekali lagi, saya benar-benar baru tahu, kalau ternyata dunia persepakbolaan kita memang lucu juga. Lebih menghibur dibanding Srimulat atau penampilan Aming. Apalagi kalau melihat kemampuan mereka bermain silat. Wah! Kaki bisa kemana-mana, bahkan ketika tak ada bola. Sebagian besar juga punya gaya seragam: mengangkat kedua tangan setelah sukses mengakibatkan lawannya berguling-guling (dan biasanya akan berlagak mengerang kesakitan). Seolah-olah, mereka melakukannya secara tak sengaja. Sebuah trik kuno dan kasar yang menggelikan.