TeaterJuly 2, 2008 12:14 pm

Penggemar drama modern berbahasa Jawa, kini bisa menarik nafas lega. Pementasan TUK di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 26-28 Juni lalu, sekaligus menandai era baru kelanjutan Teater Gapit yang sempat mati suri, dengan nama baru: Teater Lungid. Beberapa aktor muda bergabung, namun personil lama masih mendominasi sehingga ruh Gapit nyaris tak berubah.

Pemakaian nama baru, kata aktor kawakan Jarot Budi Dharsono, semata-mata untuk membebaskan paguyuban seniman itu dalam mengembangkan kreatifitas mereka. “Kami tidak ingin berhenti pada pemanggungan naskah-naskah almarhum Kentut (Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah Gapit, Pen.) saja. Kami akan terbuka terhadap lakon-lakon baru, sepanjang spiritnya masih sama,” ujar Jarot.

Lungid adalah kosa kata Jawa yang berpadanan dengan landhep, tajam. Kepekaan rasa dan ketajaman indera itu pula yang selama ini menjadi ciri khusus naskah-naskah Kentut. Problem-problem sosial, termasuk benturan budaya akibat kuatnya pengaruh modernisasi, selalu menjadi fokus bahasan lewat tujuh naskah yang telah dibuatnya: BRUG (1982), STUP atawa Suk-suk Peng (1983), ROL (1983), LENG (1985), REH (1986/1987), TUK (1989) dan DOM (1990).

TUK yang dipentaskan akhir bulan lalu, misalnya, merupakan potret keresahan di perkampungan padat, kumuh, yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang desa yang mengadu nasib di kota. Di perantauan itu, mereka hidup secara magersari alias hidup menumpang pada Den Darsa, seorang duda kaya nan dermawan. Di pekarangan itulah, mereka lantas beranak-pinak, hidup turun-temurun.

Harmoni dan solidaritas sosial yang telah lama mapan mulai terkoyak. Isu kedatangan investor properti yang kompleks itu merebak melalui Menik (diperankan Yasinta). Menik, pengganti sang ibu sebagai penarik uang sewa ‘rumah’ warga magersaren, yang tak segan mengancam mengusir para penunggak.

Sikap galak Menik lantas berbuah gugatan dan omelan. Menik diragukan keabsahannya sebagai keturunan langsung Den Darsa lewat hubungan gelap dengan sang ibu. Sementara sang ibu, sejatinya juga warga magersaren, bekas ledhek jalanan yang hamil entah dengan siapa, namun berhasil memaksa Den Darsa menikahinya. Alhasil, Menik merasa sebagai pewaris yang sah atas tanah peninggalan Den Darsa, yang mati ngenes saat ia baru berusia tujuh bulan.

Hasil othak-athik gathuk, ilmu yang menghubung-hubungkan terkaan dan prasangka seolah memperoleh pembenaran saat menjumpai bahwa Soleman (Jarot BD) –seorang makelar yang juga tinggal di sana, ikut-ikutan menawarkan ganti rugi kepada para tetangganya.

Adalah Mbah Kawit (Wahyu ‘Inong’ Widayati), penghuni tertua di kawasan itu yang selalu mengingatkan kebaikan-kebaikan semasa hidup Den Darsa kepada tetangganya. Mbah Kawit pula yang pertama kali merasa bakal terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan bekal ilmu klenik Jawa yang kental, ia menghubungkan banyak kejadian-kejadian tak normal sebagai pertanda akan datangnya disharmoni.

Ingatan pun tertuju pada tindakan Soleman yang mengencingi sumur, sesaat setelah ia mengetahui ayam jago kesayangannya mati akibat kecebur di sumur satu-satunya itu. Sumur, adalah tuk, sumber air, yang berarti pula simbol sumber kehidupan. Di sekitar sumur, kebersamaan terbangun, persaudaraan erat terikat. Semua bergantung dan bermuara pada tuk.

Ketika simbol rejeki dan harmoni kehidupan ternoda, maka petakalah yang muncul. Mbah Kawit berteriak histeris. Ia melihat api mulai menjalar dari rumah-rumah kumuh mereka. Air yang diminta untuk menyiram tak kunjung datang. Penghuni gaduh, saling menyalahkan. Harapan pun sia-sia, kawasan ludes karena lonceng Udan Arum tak kuasa menghadirkan hujan, sementara pusaka Singkir Geni tak bisa serta merta mematikan api.

***

TUK adalah empati dan advokasi Kentut pada kaum pendatang tak berdaya, yang selalu digusur oleh beragam kepentingan dan kedigdayaan kuasa uang. Kebakaran atau pembakaran nyaris sama dengan penggempuran dengan buldozer, yang sering ditayangkan di televisi. Hasilnya sama: semua rata dengan tanah, semua meratap kehilangan harap.

Dan TUK yang disutradarai Pelog Trisno Santoso kali ini, nyaris sama dengan apa yang dilakukan mendiang Kentut. Suasana bebrayan mereka masih terasa, semangat meneruskan obsesi Kentut lewat Gapit pun masih membara. Kalaupun harus menggunakan nama Lungid, bukan Teater Gapit Jilid Dua, semata-mata karena mereka ingin lebih leluasa mengembangkan budaya Jawa lewat drama, dan karya sastra.

MusikSeptember 7, 2007 7:16 am

Kalau Anda menganggap saya getol ‘menyerang’ Solo International Ethnic Music , percayalah itu bukan berarti saya menolak kehadiran peristiwa semacam itu di Kota Surakarta. Saya hanya tidak setuju jika gagasan (dan misi) yang baik semacam itu diserahkan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi dan reputasinya tak teruji. (Artinya, saya berharap event semacam ini tidak berlalu sia-sia karena memang memiliki potensi menjadi lebih bagus asal digarap serius)

Berjubelnya pengunjung selama lima hari festival berlangsung, tidak bisa dijadikan alasan penyelenggara menepuk dada. Itu bukan bukti kesuksesan acara. Sebaliknya, kian banyak yang datang, kian berlipat pula beban ‘dosa moral’ yang seharusnya dipertanggungjawabkan penyelenggara. Etnisitas dimanipulasi, dijadikan magnet penarik massa.

Saya yakin, sepulang menonton festival, banyak orang akan keliru membedakan mana musik etnik dan mana pula ‘pop kontemporer’ yang menggunakan instrumen musik etnik sebagai sumber bunyi untuk menambah kekuatan instrumen barat modern seperti drum, gitar atau keyboard elektrik. Perkawinan alat musik modern dengan gamelan Jawa atau gamelan Bali, misalnya, bisa diartikan sebagai musik etnik.

Sekali lagi, panitia telah gegabah dalam merancang dan mewujudkan sebuah festival musik dengan menggunakan label etnisitas. Bukan hanya itu, panitia juga ‘menipu’ publik dengan memperkenalkan penari yang menyukai musik sebagai seorang musisi. Neerja Srivastava (India) adalah penari Kathak, namun dihadirkan di panggung dengan iringan tabla. Kamal al-Bayati juga koreografer sekaligus penari berdarah Irak namun diklaim sebagai musisi (padahal, para pengiringnya, konon dari Institut Kesenian Jakarta).

Mau bukti lagi? Karagouna-Karditsa adalah grup tari asal Yunani yang sedang melakukan tur kesenian di beberapa kota di Indonesia. Karena grup ini membawa serta musisi sebagai pengiring, maka ditampilkanlah mereka sebagai ‘kelompok musik etnik’ yang mewakili Yunani.

Nasi telah menjadi bubur. Kita hanya bisa berharap, andai festival itu bakal dilanjutkan lagi pada masa mendatang, maka harus ada standar kuratorial yang jelas. Untuk itu, maka harus tepat memasang orang-orang yang berkompeten dan cukup memiliki wawasan musik yang memadai dalam dewan artistik.

Sebab, amburadulnya festival ini tak lepas dari peran Yasudah sebagai ‘pemikir tunggal’. Padahal, Yasudah yang saya kenal bukanlah pemikir kebudayaan. Sebagai musisi, pun dia jarang terlibat dalam proyek-proyek pementasan, apalagi pada event-event bergengsi di berbagai kota di Indonesia.

Lihatlah semrawutnya pikiran dia seperti terlihat dalam katalog resmi festival. Pada halaman TEMA, POSITIONING, TUJUAN & KONSEP, ia menuliskan kalimat yang tak mudah dipahami. Begini:

…Dari azas tunggal humanitas hingga berbagai ragam kehidupan yang ada, kita adalah bersaudara!!! Namun demikian, mengapa terjadi krisis berbagai faktor dan habitat kehidupan manusia di hampir seluruh penjuru bumi saat ini?…Marilah kita tanya pada hati & jiwa kita masing-masing.

Untuk POSITIONING, Yasudah menulis begini: ”Memposisikan Musik Etnik di tengah Dinamika Kebudayaan*, guna meningkatkan kwalitas apresiasi masyarakat seluas-luasnya pada Seni & Budaya, hingga merambah pada hal-hal yang mendasar & mendesak realisasinya.

Saya yakin, Anda pasti akan masuk kategori sangat jenius bila bisa memahami maksud kalimat-kalimatnya. Kalau saya, sepanjang ikhtiar yang mampu dan sudah saya lakukan, ternyata saya hanya sanggup untuk ‘memaklumi’. Itu pun dengan agak berat hati. Apalagi kalau membaca uraian TUJUAN Jangka Panjang, yang ditulisnya begini:

Menanggapi mendesaknya krisis iklim dan meningkatnya pemanasan global: “Bila kubilang bahwa Musik Etnik adalah Gizi Asli Bunyi Lingkungan hidup,…Bagaimanakah selanjutnya?” (Sungguh keterlaluan! Merangkai kata saja tak bisa, kok berani bikin festival besar-besaran!!!)


Terakhir, saya ingin memohon dengan sangat kepada Anda, pembaca yang budiman. Tolong sebarluaskan ke handai-taulan, sanak, kerabat dan kenalan, agar jangan kapok datang ke Surakarta. Percayalah, amburadulnya festival kemarin bukan salah warga Surakarta, dan sebagian panitia yang menentukan jalannya acar festival, bukanlah orang-orang yang cakap di bidangnya. Jangan kapok datang ke Surakarta.

Kalau tahun depan ada lagi event serupa (semoga juga masih di tempat yang sama), tapi masih dikelola mereka-mereka, bolehlah Anda tidak datang. Tolong kasihani Walikota Joko Widodo. Dia baik dan tulus. Kebetulan saja kalau kali ini dia terjerembab, terperosok ke lubang selokan. Dan itu pun, bukan salah dia pula, melainkan memang ada orang yang menuntun dia dan menjerumuskan dia……

Untuk para penggagas Solo International Ethnic Music (yang tulus karena ingin memajukan pariwisata Surakarta), percayalah yang Anda lakukan merupakan kontribusi bagi kemajuan kota. Hanya saja, Anda harus jujur dan arif menyikapi pro-kontra, termasuk kekecewaan seperti yang saya lontarkan di sini. Banyaknya orang yang gela, getun dan sebagainya, sesungguhnya merupakan ekspresi yang mendalam atas kecintaan mereka akan dinamika perubahan sosial sebuah kota yang bernama Surakarta. Tinggal bagaimana Anda bisa mengelolanya dengan baik dan tepat sasaran.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

MusikSeptember 3, 2007 8:17 am


Kamal Al-Bayati, musisi Irak sedang menari diiringi musik berirama Arab. Berkolaborasi dengan musisi Indonesia, namun musik yang disuguhkan tak lebih bagus dari musik-musik Islami yang mendominasi seluruh televisi televisi nasional saat Ramadhan

Solo International Ethnic Music memang festival unik. Digagas penuh ambisi, dieksekusi setengah hati. Sudah setahun gagasan di-launching, kurang dari sebulan publikasi terpampang. Tak heran kalau akhirnya hanya kelas musisi yang tampil, sementara para komponis disuguhkan bagai gula-gula, sebagai pelipur lara, pengalih perhatian untuk kanak-kanak.

Saya akan mengangguk segera bila Anda mengira saya sedang kecewa, lalu marah-marah di sini. Ya, saya tak marah-marah di sini saja. Kepada panitia pun, saya tak segan berteriak. Seorang jurnalis televisi dari perwakilan kantor berita asing di Jakarta pun saya sarankan agar mengurungkan niatnya menjadikan SIEM sebagai obyek liputan.

< --- Musisi Papua saat pawai menjelang pembukaan. Konon, mereka adalah 'pegawai' Pemda Papua yang ditugaskan di anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah.

Saya punya argumentasi sederhana. Sebuah event tanpa standar kuratorial yang benar pasti akan melahirkan banyak cacat. Dan, keburukan akan menjadi kian sempurna manakala kurator tak kredibel dan organizing committee . tak berpengalaman mendominasi jalannya sebuah festival, apalagi dengan embel-embel ’international’.

Beruntung, publikasi tak terlalu gencar. Andai (minimal) setengah tahun silam sudah ada banyak iklan mengenai event itu, pasti akan melahirkan kekecewaan pada ratusan (mungkin ribuan) pelancong yang sudah merancang liburan ke Surakarta. Dampak bisa ditebak. Rumor negatif akan menyebar, lalu mengancam dunia pariwisata kota.

Lihat saja publikasi resmi panitia . Mereka tak pernah menyebutkan nama artis atau kelompok yang bakal tampil dalam festival. Saat konperensi pers digelar dua hari menjelang pembukaan acara pun, tak ada panduan memadai mengenai siapa saja yang bakal tampil, kecuali nama-nama para bintang seperti Dwiki Darmawan, Gilang Ramadhan, Djaduk Ferianto, juga Waldjinah.

Pencantuman nama negara (bukan nama ‘artis’-nya) dalam seluruh materi publikasi, menurut saya menunjukkan penyelenggara tak memiliki rasa percaya diri yang memadai. Bahkan kelewat inferior, sebuah mental bangsa terjajah, kaum inlander (meski negara telah merdeka). Asal sudah menyebut nama-nama negara asing, seolah-olah peristiwa tersebut sudah akan dengan sendirinya menjadi kelas dunia, menginternasional.

Sawung Jabo, salah satu penampil yang mengeluhkan tiadanya toilet bagi artis —>

Oalaahhh, Duh Gusti paringana eling Pak Walikota. Ingatkan pada dia agar pada masa mendatang tak lagi bisa dipermainkan siapa saja yang tiba-tiba datang membawa gagasan muluk. Tidak seperti sekarang, dimana uang hanya terbuang percuma. Saya sedih mendengar teman bertutur memperoleh undangan menonton dalam wujud mengenaskan: selembar kertas fotokopian selebar karcis parkir yang disahkan dengan stempel resmi panitia. Para pekerja pers yang berduyun-duyun ke konperensi pers pun, bahkan hanya memperoleh empat bendel informasi pendukung dalam bentuk kertas fotokopian, bukan cetak sablon, apalagi cetak offset. Sungguh ngirit (dan pelit) untuk peristiwa berbiaya tak kurang dari Rp 2,5 miliar (eh, konon malah sampai Rp 4 miliar!)

Malam pertama, event ‘diselamatkan’ oleh iming-iming duet Waldjinah-Iga Mawarni (meski Iga urung tampil karena sakit di Jakarta). Sedang pada malam kedua, banyak penonton mulai beringsut pulang saat Sawung Jabo sedang menyuguhkan komposisi keduanya.

Banyak penonton tak sadar, artis mancanegara yang tampil bagai turis backpacker yang sedang plesiran di kota Surakarta. ‘Komponis’ asal Irak datang seorang diri tapi tampil bersama musisi entah dari mana. Begitu pula artis Korea yang tampil hanyalah diwakili puluhan anak-anak sekolah internasional di Jakarta yang pamer kebolehan paduan suara. Sementara artis dalam negeri, yang disebut mewakili Papua, Kalimantan dan Aceh, konon berasal dari anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.

Hebat, bukan?

Untung, para penonton tak dipungut bayaran . Kalau mereka disuruh bayar Rp 5.000 saja, saya berani bertaruh, Benteng Vastenburg hanya akan diisi penampil, panitia, kru panggung dan sedikit penonton. Juga sejumlah jurnalis kesepian atau datang karena paksaan penugasan.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

MusikSeptember 1, 2007 12:31 pm

Sebuah festival digelar, banyak persoalan terhampar. Ada yang curiga pada motif di balik pesta, tak sedikit pula yang pesimis terhadap kesuksesan acara. Yang sudah pasti, rumor siapa untung dan siapa pula yang buntung, sudah merebak ke seantero kota.


Benteng Vastenburg, situs bersejarah yang digunakan sebagai lokasi Festival Internasional Musik Etnik 2007

Saya adalah satu dari sebagian orang yang pesimis pada suksesnya acara Solo International Ethnic Music Festival ( SIEM). Tak cuma pesimis, saya bahkan merasa menjadi orang yang paling kecewa dengan manajemen penyelenggaraan yang menurut saya, sungguh awut-awutan. Sejak semula, saya sudah mengusulkan kepada ketua penyelenggara agar tegas merombak susunan panitia, terutama di jajaran board of artistic-nya.

Argumentasi saya sederhana, sebuah festival -apalagi seambisius SIEM, harus dirancang secara sungguh-sungguh dan dengan perencanaan yang matang. Sistem kuratorial menjadi bagian paling penting dibanding faktor-faktor lainnya, seperti manajemen penyelenggaraan dan sebagainya. Untuk itu, kredibilitas kurator menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan pertunjukan yang menarik, dan tentu saja bisa dipertanggungjawabkan.


Folkcorn, sebuah kelompok musik etnik asal Belanda. Dimotori seorang perempuan Belanda kelahiran Probolinggo, Jawa Timur

Usulan semacam itu sudah saya sampaikan sekira enam bulan silam, ketika Ketua Penyelenggara mengajak berbincang perihal ambisinya membuat acara. Rupanya, waktu bergulir sangat cepat. Sang Ketua mulai kecapekan mengurus rumor patgulipat sebagian panitia. Ia juga pusing menghadapi resistensi sejumlah seniman Surakarta atas acara yang hendak digelarnya, hingga kemudian ia mengajak kembali berbincang dengan saya.

Tapi, pembicaraan tetaplah sebatas obrolan. Tanpa komitmen, tak ada pula kesepakatan. Sang Ketua tetap berjalan dengan idenya, saya pun tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa SIEM hanya akan menjadi forum mubazir, buang-buang duit dan merugikan masa depan pariwisata Surakarta. Seperti festival-festival yang rutin digelar sebuah event organizer bersama Dinas Pariwisata Surakarta, hasilnya kerap membuat kecewa.


Anak-anak sekolah internasional Korea di Jakarta, sedang berpawai menjelang festival. Mereka tergabung dalam kelompok Korea Choir

Orang sering berharap banyak pada festival demikian, namun yang lahir hanyalah kekecewaan. Persoalannya sama dan selalu berulang: tak ada sistem dan standar kuratorial yang jelas, serta digelar oleh segelintir orang yang memang tak paham benar dengan bidang pekerjaan yang sedang dilakoninya.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

TariMay 17, 2007 7:50 am

* Untuk AnakPeri

Sebuah pesan ditinggalkan oleh AnakPeri di salah satu halaman blog saya. Sejumlah pertanyaan membayang. Jangan-jangan Si AnakPeri bersaudara dengan indang, danyang yang merasuk pada diri Srintil, wahyu ronggeng yang merasuk pada tokoh sentral dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Kang Ahmad Tohari. Atau, barangkali Si AnakPeri cuma ingin mencari jawaban, apakah saya menyaksikan pertunjukan itu?!?

Usai menonton Banjaran Ronggeng Dukuh Paruk, Senin (14/5) malam lalu, sejatinya aku sudah tak hendak menuliskannya di sini. Kemeriahan pertunjukan memang bisa kunikmati. Tapi untuk lebih dari itu, ada keraguan membayang. Saya kuatir tak ada diskusi atau dialog sehat bila saya mengatakan apa adanya, sesuai opini dan impresi saya atas pergelaran koreografi Cahwati itu.

Tak apalah. Biar saya menggonggong, toh para kafilah gerak juga tak akan rugi. Sekeras apapun gonggonganku, pasti tak akan merusak selaput gendang telinga mereka. Gemuruh kanlpot peserta kampanye yang jelas-jelas merusak telinga dan mengusik kenyamanan (dan menyusahkan keluarga penderita sakit jantung) saja dibiarin, kok. So what!!, gitu lo…

Begini, AnakPeri . Menurut saya, sulit untuk membandingkan sosok Srintil dalam karya Cahwati dengan Srintil versi Kang Tohari. Yang saya pahami dari karya Kang Tohari, Srintil merupakan sosok perempuan yang rapuh saat sendiri, namun tampak perkasa saat menari. Ia juga seorang religius. Bagi Srintil, ronggeng bukan sekadar profesi yang memberi kenikmatan duniawi yang nyaris tanpa batas.

Seperti waitress di restoran mewah, ia harus selalu tersenyum kepada para tamu, dan tak enggan meminta maaf ketika melihat gelagat sang tamu kurang berkenan. Profesonalisme harus melekat pada para pelaku bisnis jasa. Begitu pula Srintil. Ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani orang-orang yang mengejar kesenangan. Harta, kuasa, juga kepuasan seksual, sudah pasti akan selalu mengikuti kemanapun ronggeng pergi.

Satu hal yang harus dimengerti, dalam konteks apa harta, kuasa dan kepuasan seksual itu mengikuti. Seorang Srintil, jelas tidak menjadikan ketiga hal itu sebagai obsesi, melainkan konsekwensi. Karena itu, seorang Srintil tidak pernah menyajikan pertunjukan yang dibuat-buat, apalagi sengaja mengeksploitasi tubuh demi memikat penonton. Ia menyajikan gerak dengan kecakapan dan inner beauty yang dimilikinya.

Sebaliknya, justru penontonlah yang secara dengan sengaja mengumbar fantasinya secara liar, sehingga imajinasi lebih menuntun mereka untuk melepas seluruh kain yang melekat pada sang ronggeng. Fantasi dan imajinasi itulah yang kemudian membangkitkan nafsu untuk merengkuh dan memiliki tubuh sang ronggeng dalam kehidupan pribadinya. Maka, menjadi mudah dimengerti kalau mereka tak segan menelantarkan istri dan anak-anak –bahkan kehormatan mereka, dengan cara mengumbar harta mereka untuk memikat sang ronggeng.

Kebaikan Srintil yang berbagi harta dengan para tetangga, impiannya untuk berkeluarga dengan Rasus, lelaki pujaannya, rasanya sudah memberi bukti yang kuat bahwa Srintil bukanlah ronggeng murahan, yang mau mengobral kehormatannya demi kesuksesan duniawi.

Saya kira, inilah pemahaman saya pada sosok Srintil seperti yang dimaui Kang Tohari. Dan, Srintil versi Cahwati, bagi saya hanyalah ronggeng murahan. Untung, Kang Tohari tak jadi datang pada pertunjukan malam itu (dan, kabar bahwa beliau akan datanglah yang membuatku ingin bertemu sekalian menyaksikan pertunjukan itu, setelah empat tahun tak bertemu).

Bila beliau hadir, saya pasti akan ikut larut dalam keharuan… (meski saya yakin, beliau tak akan tersinggung dengan Srintil yang munyal-munyal malam itu. Sudah jelas bagi Kang Tohari, juga saya, Si Ronggeng Srintil menari terakhir kali bersamaan dengan huru-hara PKI versus ABRI pada masa Gestok. Eh, GESTAPU!)

Begitulah gonggonganku, AnakPeri ………….

TariMay 11, 2007 2:23 am


Saya belum mengenal Dedu. Setidaknya sampai aku menyaksikan pertunjukan balet Kemarin, hari ini….. dan esok? di Taman Budaya Surakarta, Kamis (10/5) malam. Asyik. Juga segar. Koreografi Dedu juga menghadirkan banyak kejutan. Setidaknya, itulah pengalaman yang saya rasakan. Barangkali tertarik menyaksikan, Anda masih punya kesempatan. Malam nanti merupakan malam terakhir untuk pergelaran dua malam itu.

Bahwa visualisasi karyanya terasa sangat dipengaruhi gaya Wied Sendjayani, sangat bisa dimengerti. Dedu termasuk murid (dari segelintir orang) pada angkatan pertama Mbak Wied di Sanggar Maniratari. Karena itu, saat seorang teman mengomentari pertunjukan itu dengan menyebut ‘sangat Mbak Wied’, saya memilih membela Dedu.

Saya menyampaikan apologi permisif: karena pertama kali mengenal balet saat nyantrik pada Mbak Wied, maka wajar saja kalau keterpengaruhan itu terasa mewarnai. Apalagi, Kemarin, hari ini….. dan esok? merupakan karya perdana Dedu, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan baru akan tampak pada karya-karya selanjutnya.

Kalaupun ada ‘sisa-sisa’gaya pada karya mendatang pun, bisa saja dikategorikan pada batas kewajaran. Keterpengaruhan itu wajar. Pengidolaan terhadap seseorang yang ditokohkan (biasanya karena kekaguman) tak terasa mengendap sehingga akan menjadi potensi laten yang akan muncul pada suatu ketika. Mugiyono, Bambang ‘Besur’ Suryono dan Fajar Satriadi adalah contoh koreografer Surakarta yang banyak dipengaruhi oleh Sardono W Kusumo. Di Jakarta, Boi G Sakti juga cukup mempengaruhi garapan beberapa koreografer muda.

Sebagai murid Mbak Wied, Dedu termasuk terlambat berkarya. Siko Setyanto, generasi kedua di Sanggar Maniratari bisa disebut lebih berani berkarya dibanding seniornya itu. Bahkan penampilan solo Siko dalam forum emerging choreographers dalam forum Indonesian Dance Festival, memperoleh apresiasi yang bagus dari penonton.

Meski tak terlalu bagus, Kemarin, hari ini….. dan esok? juga tak bisa dibilang jelek. Garapannya bersih (boleh jadi) lantaran didukung materi penari yang cakap dan menguasai teknik, dari teman-temannya satu sanggar. Pertunjukannya jenaka, enak dinikmati, namun tak kehilangan esensi.

Kejutan, misalnya, muncul ketika para penari yang berlarian kesana-kemari, dan meluncur di lantai panggung dengan speed tinggi. Banyak penonton di barisan terdepan kaget, kuatir tertabrak.

Rupanya, semua gerakan sudah terukur. Selamat berkarya untuk Dedu. Jangan ragu dalam mencari jatidiri, meski tak perlu meninggalkan Mbak Wied Sendjayani.

TariApril 30, 2007 6:51 am

Sen Hea Ha
Kesenian sungguh dunia yang unik. Setidaknya, begitulah yang saya pahami, setelah mengenal banyak komunitas dan pelaku seni. Perayaan Hari Tari Internasional di Surakarta pada 29 April lalu, misalnya, dirayakan dengan penuh persaingan –yang menurut hemat saya- tidak bermutu.

Petugas humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, misalnya, mengeluhkan proposal permintaan dana kepada Dinas Pariswisata setempat dikabulkan, namun setelah dana cair justru dialihkan kepada pihak lain, sebuah event organizer yang memang memiliki relasi sangat dekat dengan pejabat Dinas Pariwisata. Oleh sang event organizer, dana itu juga digunakan untuk membuat perayaan Hari Tari Internasional.

Kekecewaan kedua yang dialami ISI Surakarta, mereka gagal acara mencatatkan perayaan berupa pentas tari selama 24 jam pada 29-30 April itu ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Alasannya, “MURI minta duit untuk proses pencatatan itu, sementara kami tak memiliki budget untuk itu,” ujar sang petugas humas itu.

Yang pasti, petinggi MURI akhirnya datang ke Surakarta dan memberikan penghargaan berupa pencatatan dalam daftar rekor Ter…. itu kepada sang event organizer yang berhasil menyelenggarakan pentas Tari Gambyong massal dengan menampilkan 1.000 penari.

Seperti dalam dunia lembaga swadaya masyarakat, sebuah momentum perayaan bisa memiliki status SEKSI atau TIDAK SEKSI. KeSEKSIan itu, jelas merujuk pada besar-kecilnya peluang menggaet dana dari lembaga penyedia dana, apakah itu sebuah kantor pemerintah maupun lembaga donor.

Tapi, begitulah kekuatan uang. Dia luwes, menggoda dan siap mengadu domba kepada siapa saja yang mau menyediakan diri secara sadar untuk ‘terlena’ atau ‘khilaf’.

Masih beruntung, perayaan Hari Tari Internasional di ISI berlangsung cukup meriah. Selama 24 jam penuh, banyak orang berkerumun –meski sebagian besar para pengisi acara dan mahasiswa setempat- di sekitar kampus, tempat berlangsungnya perayaan.

Sayang, sedikit cacat dipertontonkan secara kasat mata di lembaga tinggi kesenian itu. Pertunjukan seorang penampil –kebetulan mahasiswa ISI Surakarta- dirusak oleh sang dosen sendiri. Belum usai Bobby, nama mahasiswa itu, menyelesaikan pertunjukannya, sang dosen sudah menyusul pentas di sebelahnya, sehingga bukan saja penampilan geraknya tak bisa dinikmati, tapi iringan musiknya dikacaukan dengan suara cemeti yang mengiringi penampilan sang dosen.

Satu cacat lainnya, panitia sangat ceroboh mempekerjakan mahasiswanya sendiri dalam hal mendokumentasi dalam bentuk video. Sang kameraman begitu ngawur, masuk dalam stage hanya untuk mengambil detil-detil pertunjukan.

Bersaing Tak Sehat

Mungkin, begitulah cara ISI Surakarta mengingatkan saya untuk semakin teguh agar tak mudah gegabah mempercayai semangat berkesenian mereka…………..

Bantahan:
Heru Prasetya, Ketua Mataya Art and Heritage, event organizer yang selama ini kerap bekerja sama dengan Dinas Pariwisata menemui saya, menyatakan bantahannya, bahwa pihaknya menggunakan dana Dinas Pariwisata Kota Surakarta untuk menggelar tarian 1.000 penari Gambyong bertepatan pada Hari Tari Internasional.

Meski di blog ini tak menyebut nama event organizer yang dikelolanya, ia merasa perlu memberi klarifikasi. “Saya sudah menemui petugas humas ISI Surakarta menjelaskan duduk persoalan dana itu. Saya sudah menegaskan kepada dia, bahwa kami tak memperoleh apalagi menggunakan dana Dinas Pariwisata untuk acara itu,” ujar Heru. (Updated: Kamis, 10 Mei 2007 pukul 15.00 WIB)

TariApril 2, 2007 11:39 am


Spanduk dan poster bertebaran di sekitar Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sepanjang Maret lalu. Tulisannya mencolok, memancing rasa ingin tahu. Reklame itu mengabarkan, akan ada pementasan tari bertajuk Kidung|40||Centhini pada 30 Maret di TBS. Itulah obat, penawar rindu setelah hampir enam bulan tak menonton pertunjukan tari.

Pertunjukan memang bisa dinikmati, setidaknya hingga 10 menit. Adegan percintaan antara Amongraga (diperankan oleh Ronnarong Khampha, dari Thailand) dan Tambangraras (Ni Kadek Yulia, sekaligus koreografer) lumayan bagus. Tak ada sensualitas yang mencolok namun cukup mengena. Apalagi, pelajaran seks yang mistis-agamis a la Serat Centhini –yang dijadikan rujukan ide garapan– memang tak menghendaki kemunculan ekspresi yang serba saru.

Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.

Bahwa Kadek ingin menghadirkan Centhini sebagai sosok penting dalam kisah itu, memang tak bisa lagi dibantah. Tapi, lagi-lagi, Centhini tak berarti apa-apa tanpa kehadiran kedua majikannya itu. Maka sempurnalah Kadek terperangkap dalam jebakan imajinasinya sendiri. Ia lalu terjebak dalam keasyikan bermain-main dengan efek-efek bayangan yang diperankan oleh sejumlah penari, yang entah mereka sedang memerankan siapa. Anehnya, adegan ini terus berulang, berlangsung lamban, bahkan hampir mendominasi seluruh pertunjukan. Dua kain putih yang terbentang sebagai medium melekatnya bayangan, yang sesungguhnya sangat mengganggu. Pada beberapa adegan (penting), kehadiran kain putih itu malah mematikan ekspresi gagasannya sendiri.

Singkat ceritera, pertunjukan itu boleh dibilang gagal. Bagi Kadek sendiri, karya terbarunya itu justru akan ‘mematikan’ namanya sebagai koreografer. Rencana mementaskan karya itu di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada 4-5 Mei mendatang, bisa membalikkan persepsi publik Jakarta, terutama yang pada 2004 lalu pernah menyaksikan pertunjukan Rene-Indahku di Taman Ismail Marzuki. Karya Kadek itu –yang memang bagus, berhasil menyabet koreografi terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta.

Tentu saja, saya ingin mengingatkan Anda, untuk tak terjebak visualisasi gerak yang telah saya bekukan lewat beberapa foto di halaman ini.

Sesungguhnya, saya hanya mengkuatirkan talenta yang dimiliki oleh anak-anak muda seperti Kadek. Dalam lima tahun terakhir ini, frekwensi pertunjukan tari bisa dibilang teramat tinggi. Di Jakarta, Bandung dan Surakarta (untuk menyebut beberapa kota yang saya kenal), nyaris setiap dua bulan ada petunjukan karya-karya baru oleh koreografer muda kita. Namun, yang saya rasakan, terlalu banyak karya-karya prematur yang ‘dijajakan’. Tak ada kedalaman gagasan, begitu pula visualisasinya yang nyaris miskin eksplorasi.

Ada kecenderungan kekeliruan memaknai ‘kemudahan’ memperoleh funding yang mendukung pembiayaan proses-proses kreatif bagi seniman seni pertunjukan, terutama tari. Meski memberi kontribusi yang lumayan, khususnya meningkatkan frekwensi pertunjukan, sesungguhnya kehadiran lembaga penyedia dana menjadi buah simalakama. Manisnya duit telah mendorong kompetisi yang kurang sehat, sebab banyak seniman terbius oleh kemudahan berpentas alias unjuk kebolehan. Sedang pada sisi yang lain, para kurator lembaga pendana masih ‘kurang gaul’. Mereka masih enggan keliling daerah untuk mengamati dinamika berkesenian di berbagai daerah. Kurator yang sebenarnya bisa berperan sebagai ‘pencari bakat’ lebih asyik memotret ‘dinamika’ kesenian lewat media massa. (Celakanya, banyak reporter di berbagai daerah tak memiliki kecakapan dan kecukupan referensi seni, sehingga kerja jurnalis lebih tepat disebut sebagai pelapor sekaligus perekam peristiwa semata!)

Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.

TariMarch 21, 2007 1:56 pm

Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.

Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.

Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.

Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.

Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.

Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.

Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)

performing artsDecember 3, 2006 12:21 pm

Konser opera kontemporer The King’s Witch (Calon Arang) bisa disebut sebagai peristiwa kesenian paling wah di Indonesia, tahun ini. Bukan hanya nama-nama besar –seperti komponis Tony Prabowo, penyair Goenawan Mohamad, konduktor Joel Sachs, dan Teater Garasi bergabung untuk proyek itu. Konon, pertunjukan selama tiga hari dan berlangsung di dua lokasi berbeda di Jakarta itu menelan biaya hingga Rp 2 miliar!

Kalaupun benar pementasan tersebut menelan dana sebesar itu, sesungguhnya bukan sebuah masalah. Tak ada salahnya, seorang seniman mencari dana untuk membiayai proses kreatifnya. Apalagi, lebih dari 50 orang artis (musik, teater dan tari) terlibat dalam The King’s Witch (Calon Arang) tersebut, dengan hampir setengahnya didatangkan dari Amerika Serikat. Itu belum termasuk belasan orang yang terlibat dalam manajemen produksi.

Apa yang dilakukan seorang (banyak) seniman dan tim produksi pada sebuah proses kreatif, pada hakekatnya adalah sedang bekerja pula. Karena itu, tak ada salahnya bila dari pekerjaannya, seseorang memperoleh imbalan (dalam dunia kesenian sering disebut dengan honor), karena (sama dengan manusia lainnya) seniman juga butuh makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Namun, namanya memang sudah tidak suka dengan salah satu artisnya (yang kebetulan merupakan figur publik), seorang teman yang sempat melihat booklet pertunjukan itu, tetap saja berupaya mencari celah untuk memojokkannya. Ia misalnya, menuduh sang artis telah menjalin hubungan yang disebutnya ‘tak baik’ dengan Sukanto Tanoto, bos konglomerasi Grup Raja Garuda Mas, hanya karena ia mendapati nama Tanoto Foundation tercantum sebagai salah satu sponsor. Begitu pula dengan logo Medco Energi, perusahaan milik Arifin Panigoro yang juga menjadi sponsor pertunjukan tersebut.

Tentu, sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada sang teman tadi. Di kepalanya, prasangka sudah sedemikian dalam terpatri, sehingga keterlibatan Medco Energi dan Tanoto Foundation dalam pendanaan pertunjukan tersebut seolah-olah telah menunjukkan sebuah ‘persekutuan terkutuk’. Seolah-olah kesenian merupakan sesuatu yang agung dan suci, sementara kedua lembaga tersebut dicap sebagai racun atau polutan, hanya karena menghubungkannya dengan kinerja dan profil seorang Sukanto Tanoto dan Arifin Panigoro.

Celakanya, saya sengaja datang jauh-jauh dari Surakarta untuk menyaksikan acara tersebut atas undangan Tony Prabowo. Meski dengan biaya sendiri, argumentasi yang bisa dinilai ‘membela’ Tony dan kawan-kawan itu bisa ‘menjerumuskan’ saya sebagai advokat yang bias nan subyektif!

Mungkin teman saya itu lupa, bahwa produk kesenian bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa, sementara senimannya sesungguhnya layak menyandang julukan sebagai diplomat pula. Tarian Cak dan Legong, misalnya, telah menjadi sihir mahakuat bagi orang-orang dari berbagai negara nun jauh di seberang lautan untuk datang ke Bali, kendati pada masa lampau menenggelamkan nama Indonesia (lantaran Bali dianggap sebagai bukan dari bagian Indonesia).

Semoga, prasangka teman saya itu hanya sebatas potret atas ketidaktahuannya semata. Sebab, banyak dari masyarakat kita masih lebih parah dalam hal prasangka dan penghakiman terhadap hasil-hasil kerja kesenian dan seniman. Bahwa ada sebagian orang yang berperilaku dan berpenampilan sesuka hati hanya semata-mata karena ingin dicap sebagai seniman, harus diakui hal itu masih banyak terjadi. Tapi, sebaiknya tak perlu pula terburu-buru mengatakan “Dasar seniman!” hanya karena seseorang tampil atau berkerja secara tak sama dengan lingkungannya.

Pertunjukan Pastoral, kuartet gesek dan dua soprano yang dimainkan oleh Momenta String Quartet dengan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dan Binu D. Sukaman. Pastoral diilhami oleh sajak 12-bagian karya Goenawan Mohamad

Lazim tak lazim sangat ditentukan oleh sudut pandang dan referensi seseorang. Tak ada yang perlu dianggap aneh………………..