TeaterJune 21, 2009 9:30 pm

Urusan mencari visa untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika adalah urusan njlimet, verifikasi yang ekstrahati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan. Apalagi di Kedutaan Amerika di Jakarta, yang dari arah Stasiun Gambir bisa kita saksikan sehari-hari seperti zona perang: kawat berduri, panser dan polisi Indonesia bersenjatakan senapan serbu.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia, musuh utama Amerika sejak Bush berkuasa dan merasa tak punya musuh lagi setelah isu komunis dianggap usang. Apalagi, secara (mungkin) kebetulan, Amerika dan Indonesia telah ‘dipersatukan’ oleh kehadiran musuh yang sama: teroris beraroma Islam. Runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian adalah potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Dan, ruwetnya birokrasi pengurusan visa adalah imbas. Amerika harus hati-hati, jangan sampai kemasukan orang Indonesia, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat. Dan itu pula yang mengilhami Goenawan Mohamad menulis Visa, sebuah naskah drama, yang berpijak pada perubahan sikap staf kedutaan Amerika terhadap calon tamu negaranya.

Maka yang terbayang di benak saya seusai membaca Visa, adalah ruang antrian yang bersih, teratur, dan suasana hening menegangkan. Hal yang sekurang-kurangnya bisa dibaca dari luar tembok pembatas kompleks: antrian panjang, di bawah sengatan sinar mentari, diawasi petugas pengamanan khusus yang disewa kedutaan serta polisi Indonesia bersenjata laras panjang!

***

Namun, bayangan tetaplah bayangan dan harapan akan kebenaran atas suasana serba tegang dan menyeramkan di Kedutaan Amerika, lenyap begitu menyaksikan pementasan Visa oleh Teater Lungid di Taman Budaya Surakarta, 21 Juni, malam. Bangku panjang untuk antri pemohon visa, mestinya jenis statis. Karenanya, sangat mengganggu ketika para aktor memindah kursi-kursi murahan (dan bertolak belakang dengan citra Amerika yang kaya dan moderen) seenaknya, demi blocking yang tampak semaunya.

Ruang tunggu menjadi gaduh oleh dialog antar-pengantri visa, yang keseluruhannya tampak mencitrakan sebagai kelas pekerja rendahan, buruh murah yang diidentikkan dengan TKI. Ya, Tenaga Kerja Indonesia! Padahal, di sana ada pengusaha berdarah Cina dan memiliki stereotip kaya. Juga ibu-ibu yang ingin berkunjung sekadar ingin menengok cucu setelah empat tahun tak bertemu.

Calon pengunjung Amerika, umumnya berbeda dengan calon pendatang ke Malaysia. Kalau tak untuk bekerja, urusan bisnis atau misi kesenian, pakansi, ya itu tadi: menengok cucu atau sanak-kerabat. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia dengan kepentingan nyaris seragam: berharap hujan emas lantaran tak sanggup menghadapi hujan batu di negeri sendiri.

Dalam satu hal, eksplorasi Lungid cukup berhasil, terutama saat menghadirkan monitor besar sebagai pengganti desk staf verifikasi kelengkapan data formulir yang sudah harus diisi sebelumnya oleh para pemohon visa. Tapi sayangnya, ya baru pada sisi itulah tampak kepiawaian Djarot BD sebagai sutradaranya. Dialog pun masih tampak kedodoran, apalagi menilik pada salah satu aktor utama, yang mendominasi suasana, namun dengan intonasi yang selalu keras, dan monoton.

Catatan lain yang menurut saya perlu dilekatkan pada penggarapan Visa, adalah adaptasi naskah dari bahasa Indonesia ke Jawa. Dialog dan sejumlah persoalan yang ingin disampaikan Goenawan Mohamad seperti kehilangan ruh, kurang menyentuh. Bisa jadi, banyaknya pernyataan-pernyataan filosofis dan yang berasosiasi dengan problem-problem kotemporer menyangkut hubungan Barat-Timur terlalu di awang-awang bagi Trisno Santosa sebagai penerjemah dan Djarot yang mengadaptasinya kemudian.

Boleh jadi juga, oleh sebab ketelanjuran persepsi saya terhadap aktor/aktris Lungid, yang tak lain dan tak bukan adalah penerus spirit Teater Gapit, yang lebih akrab dengan problem-problem sosial kaum kelas bawah, kaum urban yang terdesak oleh modernitas. Dan baru kali ini, mereka bertemu dengan naskah yang mewakili dunia kelas atas, yang selama ini telanjur dilawan karena menjadi momor, terutama lewat kerja kreatif mereka memanggungkan naskah-naskah Bambang Widoyo SP yang berpihak pada kaum kalah dan tertindas itu.

Rasanya, bedah naskah dan mencocokkannya dengan situasi yang sesungguhnya dengan kerumitan mengurus visa di Kedutaan Amerika bisa menjadi jalan tengah untuk lebih membumikan naskah Goenawan Mohamad. Apalagi cukup banyak seniman-seniman asal Solo yang beberapa saat terakhir pernah berhubungan dengan Kedutaan Amerika. Juga, orang yang terbiasa berurusan dengan mereka, baik sebelum dan sesudah sejumlah peristiwa yang memupuk paranoia bangsa dan penguasa Amerika. Prinsipnya, menempatkan riset dan observasi sebagai hal penting, apalagi untuk bentuk garapan realis.

Dua bulan masih cukup untuk membuat perubahan-perubahan, sebelum pementasan Visa yang sesungguhnya dilangsungkan di Salihara, di kompleks ‘kerajaan’ baru Goenawan Mohamad dan teman-teman dalam menggiatkan kegiatan-kegiatan kultural dan humaniora di Jakarta. Untuk pementasan kali ini, bolehlah kita terima (seperti yang mereka niatkan), sebagai ajang uji coba.

Semoga, masih ada perbaikan sehingga proses penggarapan yang telah berlangsung tiga bulan sebelumnya, tidak menguap sia-sia…..

performing artsMay 28, 2009 3:20 am

Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) akan digelar di Solo, 3-6 Juni mendatang. IPAM seperti tak menawarkan keragaman pilihan kepada para buyers, mengingat materi penampil didominasi oleh artis-artis ‘lokal’, yakni seniman-seniman dari Solo dan sekitarnya. Lebih khusus lagi, mereka berasal dari STSI-Connections, yakni staf atau alumnus STSI (kini ISI) Surakarta.

Saya tak bermaksud meremehkan kualitas karya-karya artis yang saya sebut ‘lokal’ di atas, atau mengabaikan kerja keras dewan kuratornya yang kebanyakan juga berasal dari ISI Surakarta. Apapun alasannya, sulit bagi kurator dan penyelenggara untuk memilih calon penampil dengan reputasi tertentu, berikut kualitas produk kreatif para komponis dan koreografer.

Hingga dua bulan silam, perbincangan mengenai IPAM sudah ramai di kalangan seniman di Solo. Bahkan, beberapa seniman yang sudah mendengar bakal diundang pun masih ragu, sebab undangan resmi sebagai bukti keikutsertaan mereka dalam IPAM tak kunjung datang, bahkan hingga beberapa pekan sesudahnya.

Persoalan klasik mengemuka: nilai kontrak!

Hingga sebulan silam, para calon penampil masih belum tahu nilai kontrak pada event rutin ‘milik’ Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya itu. Akibatnya, para artis harus disibukkan dengan urusan keuangan hingga ke dinas terkait di Provinsi Jawa Tengah. Mereka yakin akan memperoleh honor dari penyelenggara, namun masih ragu akan besarannya, sehingga dikuatirkan hasil kalkulasinya tidak sepadan dengan biaya proses penciptaan dan latihan.

Pangkal persoalannya ada pada pemerintah, dalam hal ini Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya. IPAM masih disikapi sebagai sebuah proyek, yang orientasinya hanya pada kerja-kerja administratif dengan output berupa laporan pertangungjawaban (LPJ).

Mestinya, IPAM bisa dijadikan sebagai forum kompetisi, dimana seniman-seniman Indonesia terdorong membuat karya-karya monumental untuk ditampilkan dalam forum semacam itu. Apalagi ada unsur market di dalam IPAM, sehingga ‘konsumen’ benar-benar memperoleh ‘produk-produk bermutu’ Made in Indonesia! Dengan demikian, calon penampil juga memiliki harapan ‘dibeli’ oleh para manajer festival atau para kurator dari berbagai institusi seni dari luar negeri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah para kurator, manajer festival dan pengelola gedung-gedung kesenian akan datang melihat-lihat produk seni kita dalam IPAM? Saya termasuk orang yang meragukan hal itu bakal terjadi. Kurator dan manajer festival, biasanya punya network di berbagai negara. Mencari track record artis juga sudah bukan hal sulit atas peran Mbah Gugel, hantu lucu yang serba tahu itu.

Belum lagi, persiapan yang terkesan tak matang dari segi ketersediaan waktu bagi penyelenggara. Kita tahu, tak mudah mengundang orang-orang penting selevel kurator, manajer atau maesenas asing dalam waktu kurang dari dua bulan. Mereka, jelas jauh lebih serius dalam menyikapi kerja-kerja seni dibanding sebagian besar ‘orang-orang seni’ kita, apalagi kalangan birokrasi!

Kritik yang lainnya, adalah soal penyelenggaraan. Pada level teknis pemanggungan dan support pada wilayah artistik, orang-orang Solo sudah cukup mampu. Namun mengelola event dengan sebutan festival dalam arti yang luas, saya masih menyangsikan kemampuannya. Strategi pencitraan dan isu besar yang bakal dijadikan sebagai sebuah tawaran masih menjadi problem besar di Solo. Apalagi hal-hal yang dianggap remeh, seperti ketersediaan informasi yang memadai akan sebuah event, juga rekam jejak artis-artis penampilnya yang bukan sekadar overview yang bombastis.

Sekali lagi, mepetnya waktu yang tersedia tak bakal memungkinkan panitia pelaksana leluasa berkreasi merancang event. Visi yang tak terlalu jelas dan pelimpahan kewenangan operasional dari Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya yang setengah hati menjadi kendala lain, di luar masalah administrasi proyek.

Sedang bagi seniman, jelas mereka tak sanggup menyiapkan karya bermutu dalam waktu yang singkat, meskipun ‘hanya’ sebuah refreshing untuk karya-karya yang sudah jadi.

Aneh, memang. Penyakit lama yang sepertinya enggan beranjak dari dunia birokrasi kita, dimana kerja-kerja kesenian masih diperlakukan sama dengan lelang proyek pengadaan barang dan jasa. Saya kuatir, komisi dan akrobat akuntansi masih mendominasi kepala dan hati kalangan birokrasi. Semoga, yang saya kemukakan ini hanya fiksi…

performing artsMay 17, 2009 2:00 pm

Beberapa bulan silam, saya menginisiasi sebuah pertemuan kecil. Kami membahas sebuah konsep penyelenggaraan festival seni pertunjukan yang dikaitkan dengan upaya mem-branding Kota Solo menjadi salah satu kota festival. Pesertanya tak banyak, beberapa dari Jakarta. Ada budayawan yang tak diragukan lagi komitmen moralnya pada seni pertunjukan, sastra, senirupa dan kegiatan kebudayaan lainnya.

Ada juga komponis yang bermukim di Solo, dan dikenal memiliki jaringan luas serta sering terlibat sebagai artis tamu pada festival-festival bergengsi di seluru dunia. Juga ada seorang tokoh yang selama ini dikenal sebagai manajer festival dengan pengalaman sangat banyak dan berhasil. Ada pula seorang redaktur budaya, yang bersama-sama turut merancang sebuah festival di Solo. Dari pihak Solo, ada Walikota dan kepala Dinas Pariwisata dan beberapa staf. Diskusi santai namun intens, belangsung pada malam dan siang hari, dimana Pak Wali Jokowi aktif dan antusias, tanpa sejenak pun meninggalkan forum.

Prinsipnya, Solo akan menggelar festival yang periodisasinya pasti: dua tahunan. Bergantian dengan SIEM yang rencananya juga akan dibuat dua tahun sekali. Gagasannya bisa dibilang sederhana, meski pelaksanaannya akan rumit dan penuh tantangan dan kendala, meski wajar sifatnya.

Pijakannya jelas. Solo merupakan gudang seniman pertunjukan. Ada Konservatori (kini SMK), ada Institut Seni Indonesia (ISI), juga banyak sanggar/kelompok-kelompok kerja seni (tari, teater, musik) dan budaya. Pada masa lalu, Solo punya legenda Wayang Orang Sriwedari yang hingga kini masih eksis. Juga seni ketoprak di Balekambang.

Dalam percaturan seni pertunjukan kontemporer, Solo masih jadi salah satu kota utama sebagai penyangga seni pertunjukan di Indonesia. Terutama dalam bidang tari, banyak koreografer (nasional dan internasional) yang berkolaborasi atau melibatkan seniman-seniman Solo sebagai artis pendukungnya.

Singkat cerita, ketemulah satu usulan konsep festival, yang pelaksanaannya baru bisa dimulai tahun depan. Pertimbangannya, tak mungkin menghadirkan artis dengan bobot kesenimanan tertentu (unggul) dari luar tanpa pertimbangan waktu yang matang. Setahun adalah batas minimal sebuah persiapan agar menghasilkan event yang bermutu, bermanfaat, dan ‘nendang’!

Untuk menapak ke sana, pun perlu pertimbangan kuratorial yang matang. Siapa artis yang diundang, mesti ditelisik dengan jernih dan obyektif. Tren dialog multikultur juga harus jadi pertimbangan, sebab menghadirkan seniman-seniman internasional dan nasional yang berbiaya mahal akan sia-sia manakala tak memberi dampak apa-apa terhadap Surakarta dan masyarakatnya.

Ada aspek apresiasi, yakni artis penampil bisa jadi rujukan ‘belajar’ atau ‘dialog’ bagi sesama pelaku dan penggiat seni. Juga bisa membangkitkan partisipasi, dimana semua komponen merasa terlibat dan memiliki event demikian. Efeknya juga mesti dikalkulasi melalui prediksi, sejauh mana memberi dampak citra atau imaji bagi sebuah kota yang sedang tumbuh menapaki sebagai MICE City atau Kota Pertemuan, Wisata, Konvensi dan Pameran/Eksibisi.

Dampak ekonomi juga mesti dijadikan sebagai salah satu tujuan, dimana karya-karya kreatif bisa dinikmati publik yang lebih luas, sehingga pelakunya bisa memperoleh manfaat ekonomis dan kesejahteraan.

Bagaimana soal pembiayaan?

Ini memang masalah krusial dan harus menjadi perhatian utama. Dan, pada teman-teman yang terlibat dalam diskusi ketika itu, semua ditemukan komitmen moral yang sama. Bahwa penyelenggaraan event besar pesta seni pertunjukan bisa dicipta/direkayasa tanpa harus membebani anggaran Pemerintah Kota.

Dengan dana tak terlalu besar, berarti kegiatan ‘pesta’ semacam itu tidak mengurangi publik untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara yang membayar pajak, retribusi dan sejenisnya. Hak untuk memperoleh jaminan kesehatan, akses ekonomi, dan sebagainya.

Solusinya adalah, melibatkan pihak ketiga, seperti perusahaan-perusahaan dengan alokasi promosi/marketing dan CSR-nya, lembaga-lembaga funding untuk kebudayaan, juga pusat-pusat kebudayaan asing yang intens melakukan kerja-kerja diplomasi merekatkan hubungan persaudaraan antarbangsa melalui jalur kebudayaan.

Tantangannya, jelas sungguh berat. Mentalitas penyikapan kegiatan kebudayaan mesti diubah. Dari sekadar ‘menjalankan sebuah proyek’ harus digeser menjadi sebuah kerja besar dengan landasan perhitungan strategi kebudayaan yang matang. Dan ini, terletak pada aparatur birokrasi dalam institusi negara/pemerintah. Goodwill dan komitmen moral seorang walikota tak ada gunanya tanpa dikawal sebuah sikap aparatus pendukungnya.

Keberhasilan sebuah kerja kesenian/kebudayaan tak bisa diukur hanya dari keramaian dan kemeriahaan penyelenggaraannya semata. Apalagi bila hanya mendasarkan pada besaran publisitasnya semata.

Pukulan balik justru akan menjadi sandungan berat ke depannya, manakala publikasi besar-besaran sebuah peristiwa sudah diyakini sebagai kebenaran yang sesungguhnya, sementara faktanya, materi tampilannya tak memberi dampak apa-apa, baik kebanggaan bagi si seniman yang tampil, komunitas seniman di sekitar venue acara, juga masyarakatnya dalam artian yang lebih luas.

Pedagang makanan/kuliner, pengrajin cinderamata, pengrajin/produsen batik, industri jawa seperti travel, hotel-hotel dan jasa-jasa lainnya adalah mereka-mereka yang mestinya memperoleh manfaat atas sebuah peristiwa. Bila mereka memperoleh manfaat, otomatis multiplier effects-nya akan merambah kemana-mana.

Melalui forum ini, saya harap Anda berkenan memberikan masukan, catatan dan kritik. Tak bijak kalau Anda hanya bercerita sisi baiknya semata, sebab sisi-sisi lain yang ‘negatif’ perlu dikemukakan pula, agar kelak bisa jadi masukan dan bahan pertimbangan untuk menghasilkan sebuah event besar yang bermutu, dan memberi manfaat kepada banyak pihak. Tak cuma masyarakat Solo dan sekitarnya, namun juga Indonesia dan peradaban manusia pada umumnya.

Prinsipnya, beberapa beberapa hal penting dijadikan pertimbangan, di antaranya:

Pertama, penyelenggaraan harus ditangani oleh orang yang profesional dan memiliki pengalaman yang matang. Meng-handle artis asing tak semudah mengurus wisatawan biasa.

Kedua, kuratorial sangat mutlak. Sebuah festival tak akan bisa melibatkan seniman-seniman berkualitas bila sistem kuratorialnya lemah. Kriteria kurator menjadi penting, sebab mereka harus obyektif, independen, memiliki network nasional/internasional yang bagus, terbuka terhadap keragaman (multikultur) serta memiliki kredibilitas di kancah seni/kebudayaan dunia. Kurator yang kredibel akan mampu mendongkrak bobot sebuah event dan menumbuhkan kepercayaan artis dan manajer festival dari seluruh penjuru dunia, sehingga dialog peradaban melalui kerja-kerja kesenian/kebudayaan bisa terwujud.

Ketiga, semua pihak harus terlibat, terutama stakeholder lokal di sekitar venue, sebab merekalah penyangga utama event untuk bisa terlaksana dengan baik.

Keempat, penyelenggara harus memiliki komitmen moral yang bagus terhadap penyelenggaraan festival, sehingga memiliki kiat untuk meminimalisir pengeluaran negara/pemerintah, di antaranya dengan melibatkan sponsorship dan jaringan penyedia dana (funding agency) tanpa merusak bobot/nilai sebuah event.

Saya harap, Anda sudi meninggalkan catatan-catatan Anda di sana, sebab catatan di atas belumlah memiliki arti apa-apa tanpa dilengkapi masukan-masukan Anda.

Terima kasih.

MusikOctober 30, 2008 10:33 am

Sejak Juli lalu, bahkan hingga beberapa hari silam, banyak teman berolok-olok kepada saya. Kalimatnya beragam. Muaranya jelas, mereka mempertanyakan alasan sikap diam saya terhadap pelaksanaan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival . Emangnya saya siapa?

Mungkin, teman-teman menilai saya berubah. Saya tidak lagi secerewet sebelumnya, yang menyebut SIEM sebagai festival asal-asalan , festival nonkomponis dan sebagainya. Karena perubahan sikap itulah, maka muncul tafsir dan tuduhan, bahwa saya memperoleh sesuatu atau terlibat dalam kepanitiaan.

Aneh juga rasanya, seseorang begitu mudahnya menghakimi orang lain, meski sejatinya saya paham, bahwa dunia kesenian tak berbeda jauh dengan politik. Banyak intrik, bejibun gosip. Makanya, anggap saja sudah lazim kalau di antara mereka lalu saling intip.

Mungkin Anda akan bertanya, dimana posisi saya? Maka, saya akan menjawab begini: saya berada di antara mereka.

Kebetulan saya berkawan dengan mereka semua, maka komplitlah gosip yang saya terima. Setidaknya, lebih banyak dibanding gosip yang dipunya orang pada masing-masing blok, kubu, atau apapun namanya.

Sejatinya, saya hanyalah penonton yang punya harapan manfaat terhadap peristiwa semacam itu. Mungkin berlebihan, mungkin pula terlalu mengangankan sesuatu yang ideal, sehingga terkesan sangat emosional. Monggo saja bila Anda ingin menilai saya. Memaki-maki sikap saya, pun silakan saja.

Umpatan, cacian bahkan ancaman seperti terlihat pada komentar-komentar pembaca tulisan saya terdahulu, toh itu juga ekspresi kemarahan sesaat. Bagi komentator yang kebetulan panitia SIEM
, tentu saja mereka tidak rela bila kerja kerasnya dikritik secara terbuka.

Baik saya, panitia, publik seni dan masyarakat awam sekalipun, pasti memilik harapan yang sesungguhnya baik. Yang membedakan dan kadang membuat seolah-olah berbenturan, biasanya karena alasan kepentingan yang memang beraneka ragam.

Kendang Rampak, karya tari yang menempatkan musik sebagai tempelan sajian.

Bagi yang tidak suka terhadap saya, kali ini, Anda punya kesempatan tertawa sepuasnya. Mau nyukur-nyukurin juga boleh. Ceritanya begini:

Pada tengah hari, 6 Agustus 2008 silam, wajah saya disiram air teh sebanyak satu gelas. Yang menyiram seorang teman pula, yang tersinggung atas tanggapan saya terhadapnya atas sebuah perkara. Ternyata, nama SIEM dibawa-bawa, karena saya dianggap mempengaruhi seseorang, sehingga pelaksanaan SIEM pertama itu menjadi ternoda, hanya oleh sebuah kata-kata. Padahal, demi Allah, tak pernah saya menyuruh atau memanfaatkan seseorang untuk menyerang atau mengganggu kepentingan orang lain.

Tak perlu saling curiga. Penyiram teh itu bukan anggota kelompok orang-orang di dalam kepanitiaan, yang pernah mencerca, menyerang dan mengancam-ancam saya melalui tanggapannya di blog saya.

Kalau sudah puas tertawa, mari kembali ke pokok persoalan semula. Asal Anda tahu saja, saya termasuk salah satu dari (mungkin) sekian orang yang mendorong Mas Bambang Sutejo untuk kembali mengadakan SIEM Festival. Alasan saya sederhana saja, saya tak rela kalau Mas Bambang dipojokkan seperti layaknya seorang tersangka. Apalagi, gosipnya dia tidak transparan dalam keuangan, meski yang saya dengar pula, dia mesti nombok atas kekurangan biaya. Makanya, dia memilih tidak membuka posisi keuangan akhir penyelenggaraan festival pertama.

Catatan saya atas dua kali pelaksanaan SIEM Festival sederhana saja. Pertama, dibentuk dewan kurator yang sifatnya tetap untuk jangka waktu tertentu. Anggota dewan kurator berjumlah ganjil, sedikitnya terdiri dari tiga orang. Kalau perlu, dari dua atau tiga kelompok yang berseberangan. Sebab, terdapat kecenderungan seorang kurator memilih teman-teman dan anggota jaringannya sendiri.

Dengan perbedaan sikap dan jaringan antarkurator, maka materi penampil akan lebih beragam. Dengan demikian, publik menjadi punya banyak pilihan.

Kedua, untuk posisi-posisi tertentu, panitia mesti diisi oleh orang-orang yang punya pengalaman pengorganisasian memadai, kredibel, dan memiliki sikap mental yang baik sehingga bisa melayani tamu dengan baik pula. Kalau tak ada pilihan, tak usah ragu melibatkan event organizer yang profesional.

Innisisri, satu-satunya kelompok musik yang tampil dalam pembukaan festival

Ketiga, festival musik etnik adalah forum bagi penggiat dan pelaku world music. Mereka bukan berasal dari kategori musik mainstream, sehingga penyikapan penyelenggaraan tidak mengacu pada festival rock atau pertunjukan-pertunjukan sejenis, yang ukuran kesuksesannya hanya pada berjubelnya penonton. Percayalah, asal gratisan, sebuah tontonan apapun pasti bakal ramai.

Dengan materi penampil yang beragam dan berkualitas, kepanitiaan yang andal dan profesional, serta sikap penyelenggaraan yang benar, maka peristiwa SIEM Festival bisa menjadi calendar of event Surakarta, sejalan dengan gebrakan Walikota Jokowi yang mengarahkan Surakarta menjadi daerah tujuan wisata yang mendunia.

Lambang Sari, tari gaya Bali yang diiringi musik rekaman

Dengan demikian, tak bakal terjadi pula, sebuah festival musik etnik namun dibuka dengan tari-tarian, seperti saat pembukaan SIEM Festival, 28 Oktober 2008. Dalam karya tari berjudul Kendang Rampak itu, komponis dan musisi hanya berperan sebagai pengiring tarian karya Irawati Kusumorasri.

Atau, supaya penonton tidak terkecoh nama besar Guruh Soekarnoputro yang menyajikan tarian gaya Bali berjudul Lambang Sari, dengan iringan…………musik rekaman!!!

Sayang duitnya, sayang peristiwanya. Bila Anda berasal dari luar kota dan telanjur terlalu berharap pada festival ini, tetaplah sudi berkunjung ke Surakarta. Jangan kapok karena SIEM .

Silakan baca pula kritik dari KOBOI URBAN, yang menyebut SIEM Etnik Bohongan

TariOctober 12, 2008 9:55 am

Tak cuma piawai menyutradarai film cerita, Garin Nugroho juga pintar bersandiwara soal kisah ranjang. Siapa Siti, perempuan cantik yang diajaknya ke Swiss pada pertengahan Agustus lalu? Menurut penuturan Kang Gareng, eh, Garin kepada saya, Siti itu adalah sosok yang dikenalnya sebagai perempuan anggun. Namun dalam urusan seks, bisa mendua. Bahkan, praktek perselingkuhan pernah dilakukannya di samping suaminya, yang tertidur pulas di ranjang.

Dua wajah Siti yang bertolak-belakang itu, rupanya hanyalah sebutir zarah, debu dunia. Bukan monopoli masyarakat perkotaan, namun sudah menyelusup ke pedalaman. Lelaki atau perempuan, sama saja. Sama-sama memiliki potensi menunjukkan wajah gandanya: baik-buruk bisa saja ditampilkan pada saat hampir bersamaan.

Kembali ke soal Siti, jangan buru-buru berprasangka kalau Siti adalah perempuan selingkuhan Kang Gareng. Kisah seputar ranjang Siti adalah rekaan Mas Garin untuk menandai debutnya sebagai sutradara tari. Dalam karya ini, ia dibantu dua koreografer alumnus UCLA, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto.

Sebagai penikmat seni pertunjukan, karya Mas Garin berjudul The Iron Bed -menurut saya- itu sangat bagus. Meski lama tak sempat menyaksikan pertunjukan tari di Jakarta dan Bandung, saya sangat yakin The Iron Bed akan menyita perhatian media massa dan para kritikus tari. Apalagi, karya perdana seorang sutradara film itu sampai diundang untuk tampil dalam kategori penampilan khusus dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2008, 28 Oktober mendatang.

Bukan hanya karena Garin lebih dikenal sebagai sutradara film dan tidak memiliki catatan perjalanan seni sebagai koreografer sehingga karyanya bakal disorot banyak pihak. Lebih dari itu, karena bagusnya garapanlah yang menurut prediksi saya, bakal menyentak dunia tari di Indonesia.

Sepanjang pengamatan saya, The Iron Bed sangat enak ditonton. Kisahnya mengalir, mudah dicerna, sehingga penonton mudah memahami pesan yang hendak disampaikan Garin. Bahkan, saya berani menyebut The Iron Bed lebih bagus dibanding versi filmnya, Opera Jawa, yan menjadi induk cerita. Maka, tak aneh pula kalau The Iron Bed memukai publik Swiss saat dipertunjukkan dalam Zurcher Theater Spektakel 2008, sebuah festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Mungkin karena tak terlalu banyak pretensi, sehingga Garin tidak terbebani dalam proses penyusunan karya. Sehingga, dari dirinya lahir karya tari yang nyaris sempurna. Padahal, tiga bulan latihan –tiga hari setiap pekan, bukanlah waktu yang memadai untuk menyusun sebuah karya sarat pesan. Enam bulan pun belumlah layak disebut sebagai waktu yang cukup untuk berproses.

Uniknya, tiga pekan sebelum mereka terbang ke Swiss, The Iron Bed belum matang betul. Saat menyaksikan presentasi pertama karya itu di ISI Surakarta, target 70 menit belum kesampaian. Malah, durasinya molor hingga hampir setengah jam. Yang terbayang saat itu, Mas Garin kesulitan memenggal adegan yang tak perlu. Ia larut dalam visualisasi yang memang indah. Bahkan, saat ia meminta komentar, saya menjawabnya secara sinis.

”Saya paham apa yang mau sampeyan sampaikan!” ujar saya.

”Asem! Bagaimana menurutmu? Aku serius,” tukas Kang Garin.

”Saya juga serius, kok. Intinya, saya wis mudheng,” jawab saya.

Dua pekan kemudian, undangan kembali datang. Dengan pembenahan di sana-sini dan memotong adegan yang semula panjang, akhirnya jadilah The Iron Bed sebagai karya tari yang bagus, enak ditonton dan perlu. Saya pun tercengang! Padahal saya tahu, menyutradarai Mas Miroto itu bukan soal gampang.

Melalui tulisan ini, saya sarankan Anda untuk menontonnya. Siapa tahu Anda sependapat dengan saya, bahwa The Iron Bed cukup bisa mengisi keringnya karya-karya tari bagus, yang diciptakan oleh seniman-seniman tari Indonesia, setidaknya sejak lima tahun terakhir.

Update :

Menyaksikan The Iron Bed ini, kita seperti sedang berada di dalam sebuah gedung bioskop. Mata benar-benar dimanjakan oleh visual-visual yang cantik, eksotis, seperti film-film Garin sebelumnya. Rasa ‘Jawa’-nya menjadi kabur, tidak seperti dalam Bulan Tertusuk Ilalang yang sarat unsur bedaya Surakarta (yang dimainkan oleh Mbak Hadawiyah) dan tembang-tembang klasik lantunan almarhum Ki Sutarman.

Jejak Garin sebagai sineas sangat terasa pada penyusunan koreografi The Iron Bed ini. Pendekatan editing pada film layar lebar sangat mendominasi model penyutradaraan. Alhasil, bagi yang tak memiliki referensi langendriyan, maka seseorang seperti dibawa ke alam teater-tari gaya Surakarta itu. Untuk yang film minded, bolehlah Anda mengasosiasikannya dengan film bisu, meski sebagian adegan ada ‘insert‘ tetembangan oleh pengrawit, yang juga masuk ke tengah arena pertunjukan.

Tak tahulah, saya seperti terlalu bernafsu menceritakan The Iron Bed kepada Anda. Habis, baru kali ini saya terpuaskan oleh sebuah pertunjukan tari karya orang Indonesia. Beberapa kali nonton pertunjukan pada event sekaliber Indonesian Dance Festival (IDF) dan Art Summit Indonesia sekalipun, saya baru terpuaskan oleh penampilan Yin Mei, Takiko Iwabuchi, dan Min Tanaka.

[Sejatinya, ada beberapa koreografer Indonesia yang berbakat. Tapi, ya begitulah dunia kesenian kita. Ada beberapa anak muda yang memiliki karya-karya bagus, kadang cuma diikutsertakan dalam showcase atau dimasukkan kategori emerging, sementara yang tua-tua sudah pada kehabisan ide, sehingga karyanya cuma begitu-begitu saja. Kalau kuratornya dibuat variatif antargenerasi, kira-kira kok bakal lebih bagus dinamika kesenian kita. Hehehe…..] Updated: 16 Okt 2008 12:49 PM

TeaterJuly 2, 2008 12:14 pm

Penggemar drama modern berbahasa Jawa, kini bisa menarik nafas lega. Pementasan TUK di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 26-28 Juni lalu, sekaligus menandai era baru kelanjutan Teater Gapit yang sempat mati suri, dengan nama baru: Teater Lungid. Beberapa aktor muda bergabung, namun personil lama masih mendominasi sehingga ruh Gapit nyaris tak berubah.

Pemakaian nama baru, kata aktor kawakan Jarot Budi Dharsono, semata-mata untuk membebaskan paguyuban seniman itu dalam mengembangkan kreatifitas mereka. “Kami tidak ingin berhenti pada pemanggungan naskah-naskah almarhum Kentut (Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah Gapit, Pen.) saja. Kami akan terbuka terhadap lakon-lakon baru, sepanjang spiritnya masih sama,” ujar Jarot.

Lungid adalah kosa kata Jawa yang berpadanan dengan landhep, tajam. Kepekaan rasa dan ketajaman indera itu pula yang selama ini menjadi ciri khusus naskah-naskah Kentut. Problem-problem sosial, termasuk benturan budaya akibat kuatnya pengaruh modernisasi, selalu menjadi fokus bahasan lewat tujuh naskah yang telah dibuatnya: BRUG (1982), STUP atawa Suk-suk Peng (1983), ROL (1983), LENG (1985), REH (1986/1987), TUK (1989) dan DOM (1990).

TUK yang dipentaskan akhir bulan lalu, misalnya, merupakan potret keresahan di perkampungan padat, kumuh, yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang desa yang mengadu nasib di kota. Di perantauan itu, mereka hidup secara magersari alias hidup menumpang pada Den Darsa, seorang duda kaya nan dermawan. Di pekarangan itulah, mereka lantas beranak-pinak, hidup turun-temurun.

Harmoni dan solidaritas sosial yang telah lama mapan mulai terkoyak. Isu kedatangan investor properti yang kompleks itu merebak melalui Menik (diperankan Yasinta). Menik, pengganti sang ibu sebagai penarik uang sewa ‘rumah’ warga magersaren, yang tak segan mengancam mengusir para penunggak.

Sikap galak Menik lantas berbuah gugatan dan omelan. Menik diragukan keabsahannya sebagai keturunan langsung Den Darsa lewat hubungan gelap dengan sang ibu. Sementara sang ibu, sejatinya juga warga magersaren, bekas ledhek jalanan yang hamil entah dengan siapa, namun berhasil memaksa Den Darsa menikahinya. Alhasil, Menik merasa sebagai pewaris yang sah atas tanah peninggalan Den Darsa, yang mati ngenes saat ia baru berusia tujuh bulan.

Hasil othak-athik gathuk, ilmu yang menghubung-hubungkan terkaan dan prasangka seolah memperoleh pembenaran saat menjumpai bahwa Soleman (Jarot BD) –seorang makelar yang juga tinggal di sana, ikut-ikutan menawarkan ganti rugi kepada para tetangganya.

Adalah Mbah Kawit (Wahyu ‘Inong’ Widayati), penghuni tertua di kawasan itu yang selalu mengingatkan kebaikan-kebaikan semasa hidup Den Darsa kepada tetangganya. Mbah Kawit pula yang pertama kali merasa bakal terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan bekal ilmu klenik Jawa yang kental, ia menghubungkan banyak kejadian-kejadian tak normal sebagai pertanda akan datangnya disharmoni.

Ingatan pun tertuju pada tindakan Soleman yang mengencingi sumur, sesaat setelah ia mengetahui ayam jago kesayangannya mati akibat kecebur di sumur satu-satunya itu. Sumur, adalah tuk, sumber air, yang berarti pula simbol sumber kehidupan. Di sekitar sumur, kebersamaan terbangun, persaudaraan erat terikat. Semua bergantung dan bermuara pada tuk.

Ketika simbol rejeki dan harmoni kehidupan ternoda, maka petakalah yang muncul. Mbah Kawit berteriak histeris. Ia melihat api mulai menjalar dari rumah-rumah kumuh mereka. Air yang diminta untuk menyiram tak kunjung datang. Penghuni gaduh, saling menyalahkan. Harapan pun sia-sia, kawasan ludes karena lonceng Udan Arum tak kuasa menghadirkan hujan, sementara pusaka Singkir Geni tak bisa serta merta mematikan api.

***

TUK adalah empati dan advokasi Kentut pada kaum pendatang tak berdaya, yang selalu digusur oleh beragam kepentingan dan kedigdayaan kuasa uang. Kebakaran atau pembakaran nyaris sama dengan penggempuran dengan buldozer, yang sering ditayangkan di televisi. Hasilnya sama: semua rata dengan tanah, semua meratap kehilangan harap.

Dan TUK yang disutradarai Pelog Trisno Santoso kali ini, nyaris sama dengan apa yang dilakukan mendiang Kentut. Suasana bebrayan mereka masih terasa, semangat meneruskan obsesi Kentut lewat Gapit pun masih membara. Kalaupun harus menggunakan nama Lungid, bukan Teater Gapit Jilid Dua, semata-mata karena mereka ingin lebih leluasa mengembangkan budaya Jawa lewat drama, dan karya sastra.

MusikSeptember 7, 2007 7:16 am

Kalau Anda menganggap saya getol ‘menyerang’ Solo International Ethnic Music , percayalah itu bukan berarti saya menolak kehadiran peristiwa semacam itu di Kota Surakarta. Saya hanya tidak setuju jika gagasan (dan misi) yang baik semacam itu diserahkan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi dan reputasinya tak teruji. (Artinya, saya berharap event semacam ini tidak berlalu sia-sia karena memang memiliki potensi menjadi lebih bagus asal digarap serius)

Berjubelnya pengunjung selama lima hari festival berlangsung, tidak bisa dijadikan alasan penyelenggara menepuk dada. Itu bukan bukti kesuksesan acara. Sebaliknya, kian banyak yang datang, kian berlipat pula beban ‘dosa moral’ yang seharusnya dipertanggungjawabkan penyelenggara. Etnisitas dimanipulasi, dijadikan magnet penarik massa.

Saya yakin, sepulang menonton festival, banyak orang akan keliru membedakan mana musik etnik dan mana pula ‘pop kontemporer’ yang menggunakan instrumen musik etnik sebagai sumber bunyi untuk menambah kekuatan instrumen barat modern seperti drum, gitar atau keyboard elektrik. Perkawinan alat musik modern dengan gamelan Jawa atau gamelan Bali, misalnya, bisa diartikan sebagai musik etnik.

Sekali lagi, panitia telah gegabah dalam merancang dan mewujudkan sebuah festival musik dengan menggunakan label etnisitas. Bukan hanya itu, panitia juga ‘menipu’ publik dengan memperkenalkan penari yang menyukai musik sebagai seorang musisi. Neerja Srivastava (India) adalah penari Kathak, namun dihadirkan di panggung dengan iringan tabla. Kamal al-Bayati juga koreografer sekaligus penari berdarah Irak namun diklaim sebagai musisi (padahal, para pengiringnya, konon dari Institut Kesenian Jakarta).

Mau bukti lagi? Karagouna-Karditsa adalah grup tari asal Yunani yang sedang melakukan tur kesenian di beberapa kota di Indonesia. Karena grup ini membawa serta musisi sebagai pengiring, maka ditampilkanlah mereka sebagai ‘kelompok musik etnik’ yang mewakili Yunani.

Nasi telah menjadi bubur. Kita hanya bisa berharap, andai festival itu bakal dilanjutkan lagi pada masa mendatang, maka harus ada standar kuratorial yang jelas. Untuk itu, maka harus tepat memasang orang-orang yang berkompeten dan cukup memiliki wawasan musik yang memadai dalam dewan artistik.

Sebab, amburadulnya festival ini tak lepas dari peran Yasudah sebagai ‘pemikir tunggal’. Padahal, Yasudah yang saya kenal bukanlah pemikir kebudayaan. Sebagai musisi, pun dia jarang terlibat dalam proyek-proyek pementasan, apalagi pada event-event bergengsi di berbagai kota di Indonesia.

Lihatlah semrawutnya pikiran dia seperti terlihat dalam katalog resmi festival. Pada halaman TEMA, POSITIONING, TUJUAN & KONSEP, ia menuliskan kalimat yang tak mudah dipahami. Begini:

…Dari azas tunggal humanitas hingga berbagai ragam kehidupan yang ada, kita adalah bersaudara!!! Namun demikian, mengapa terjadi krisis berbagai faktor dan habitat kehidupan manusia di hampir seluruh penjuru bumi saat ini?…Marilah kita tanya pada hati & jiwa kita masing-masing.

Untuk POSITIONING, Yasudah menulis begini: ”Memposisikan Musik Etnik di tengah Dinamika Kebudayaan*, guna meningkatkan kwalitas apresiasi masyarakat seluas-luasnya pada Seni & Budaya, hingga merambah pada hal-hal yang mendasar & mendesak realisasinya.

Saya yakin, Anda pasti akan masuk kategori sangat jenius bila bisa memahami maksud kalimat-kalimatnya. Kalau saya, sepanjang ikhtiar yang mampu dan sudah saya lakukan, ternyata saya hanya sanggup untuk ‘memaklumi’. Itu pun dengan agak berat hati. Apalagi kalau membaca uraian TUJUAN Jangka Panjang, yang ditulisnya begini:

Menanggapi mendesaknya krisis iklim dan meningkatnya pemanasan global: “Bila kubilang bahwa Musik Etnik adalah Gizi Asli Bunyi Lingkungan hidup,…Bagaimanakah selanjutnya?” (Sungguh keterlaluan! Merangkai kata saja tak bisa, kok berani bikin festival besar-besaran!!!)


Terakhir, saya ingin memohon dengan sangat kepada Anda, pembaca yang budiman. Tolong sebarluaskan ke handai-taulan, sanak, kerabat dan kenalan, agar jangan kapok datang ke Surakarta. Percayalah, amburadulnya festival kemarin bukan salah warga Surakarta, dan sebagian panitia yang menentukan jalannya acar festival, bukanlah orang-orang yang cakap di bidangnya. Jangan kapok datang ke Surakarta.

Kalau tahun depan ada lagi event serupa (semoga juga masih di tempat yang sama), tapi masih dikelola mereka-mereka, bolehlah Anda tidak datang. Tolong kasihani Walikota Joko Widodo. Dia baik dan tulus. Kebetulan saja kalau kali ini dia terjerembab, terperosok ke lubang selokan. Dan itu pun, bukan salah dia pula, melainkan memang ada orang yang menuntun dia dan menjerumuskan dia……

Untuk para penggagas Solo International Ethnic Music (yang tulus karena ingin memajukan pariwisata Surakarta), percayalah yang Anda lakukan merupakan kontribusi bagi kemajuan kota. Hanya saja, Anda harus jujur dan arif menyikapi pro-kontra, termasuk kekecewaan seperti yang saya lontarkan di sini. Banyaknya orang yang gela, getun dan sebagainya, sesungguhnya merupakan ekspresi yang mendalam atas kecintaan mereka akan dinamika perubahan sosial sebuah kota yang bernama Surakarta. Tinggal bagaimana Anda bisa mengelolanya dengan baik dan tepat sasaran.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

MusikSeptember 3, 2007 8:17 am


Kamal Al-Bayati, musisi Irak sedang menari diiringi musik berirama Arab. Berkolaborasi dengan musisi Indonesia, namun musik yang disuguhkan tak lebih bagus dari musik-musik Islami yang mendominasi seluruh televisi televisi nasional saat Ramadhan

Solo International Ethnic Music memang festival unik. Digagas penuh ambisi, dieksekusi setengah hati. Sudah setahun gagasan di-launching, kurang dari sebulan publikasi terpampang. Tak heran kalau akhirnya hanya kelas musisi yang tampil, sementara para komponis disuguhkan bagai gula-gula, sebagai pelipur lara, pengalih perhatian untuk kanak-kanak.

Saya akan mengangguk segera bila Anda mengira saya sedang kecewa, lalu marah-marah di sini. Ya, saya tak marah-marah di sini saja. Kepada panitia pun, saya tak segan berteriak. Seorang jurnalis televisi dari perwakilan kantor berita asing di Jakarta pun saya sarankan agar mengurungkan niatnya menjadikan SIEM sebagai obyek liputan.

< --- Musisi Papua saat pawai menjelang pembukaan. Konon, mereka adalah 'pegawai' Pemda Papua yang ditugaskan di anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah.

Saya punya argumentasi sederhana. Sebuah event tanpa standar kuratorial yang benar pasti akan melahirkan banyak cacat. Dan, keburukan akan menjadi kian sempurna manakala kurator tak kredibel dan organizing committee . tak berpengalaman mendominasi jalannya sebuah festival, apalagi dengan embel-embel ’international’.

Beruntung, publikasi tak terlalu gencar. Andai (minimal) setengah tahun silam sudah ada banyak iklan mengenai event itu, pasti akan melahirkan kekecewaan pada ratusan (mungkin ribuan) pelancong yang sudah merancang liburan ke Surakarta. Dampak bisa ditebak. Rumor negatif akan menyebar, lalu mengancam dunia pariwisata kota.

Lihat saja publikasi resmi panitia . Mereka tak pernah menyebutkan nama artis atau kelompok yang bakal tampil dalam festival. Saat konperensi pers digelar dua hari menjelang pembukaan acara pun, tak ada panduan memadai mengenai siapa saja yang bakal tampil, kecuali nama-nama para bintang seperti Dwiki Darmawan, Gilang Ramadhan, Djaduk Ferianto, juga Waldjinah.

Pencantuman nama negara (bukan nama ‘artis’-nya) dalam seluruh materi publikasi, menurut saya menunjukkan penyelenggara tak memiliki rasa percaya diri yang memadai. Bahkan kelewat inferior, sebuah mental bangsa terjajah, kaum inlander (meski negara telah merdeka). Asal sudah menyebut nama-nama negara asing, seolah-olah peristiwa tersebut sudah akan dengan sendirinya menjadi kelas dunia, menginternasional.

Sawung Jabo, salah satu penampil yang mengeluhkan tiadanya toilet bagi artis —>

Oalaahhh, Duh Gusti paringana eling Pak Walikota. Ingatkan pada dia agar pada masa mendatang tak lagi bisa dipermainkan siapa saja yang tiba-tiba datang membawa gagasan muluk. Tidak seperti sekarang, dimana uang hanya terbuang percuma. Saya sedih mendengar teman bertutur memperoleh undangan menonton dalam wujud mengenaskan: selembar kertas fotokopian selebar karcis parkir yang disahkan dengan stempel resmi panitia. Para pekerja pers yang berduyun-duyun ke konperensi pers pun, bahkan hanya memperoleh empat bendel informasi pendukung dalam bentuk kertas fotokopian, bukan cetak sablon, apalagi cetak offset. Sungguh ngirit (dan pelit) untuk peristiwa berbiaya tak kurang dari Rp 2,5 miliar (eh, konon malah sampai Rp 4 miliar!)

Malam pertama, event ‘diselamatkan’ oleh iming-iming duet Waldjinah-Iga Mawarni (meski Iga urung tampil karena sakit di Jakarta). Sedang pada malam kedua, banyak penonton mulai beringsut pulang saat Sawung Jabo sedang menyuguhkan komposisi keduanya.

Banyak penonton tak sadar, artis mancanegara yang tampil bagai turis backpacker yang sedang plesiran di kota Surakarta. ‘Komponis’ asal Irak datang seorang diri tapi tampil bersama musisi entah dari mana. Begitu pula artis Korea yang tampil hanyalah diwakili puluhan anak-anak sekolah internasional di Jakarta yang pamer kebolehan paduan suara. Sementara artis dalam negeri, yang disebut mewakili Papua, Kalimantan dan Aceh, konon berasal dari anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.

Hebat, bukan?

Untung, para penonton tak dipungut bayaran . Kalau mereka disuruh bayar Rp 5.000 saja, saya berani bertaruh, Benteng Vastenburg hanya akan diisi penampil, panitia, kru panggung dan sedikit penonton. Juga sejumlah jurnalis kesepian atau datang karena paksaan penugasan.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

MusikSeptember 1, 2007 12:31 pm

Sebuah festival digelar, banyak persoalan terhampar. Ada yang curiga pada motif di balik pesta, tak sedikit pula yang pesimis terhadap kesuksesan acara. Yang sudah pasti, rumor siapa untung dan siapa pula yang buntung, sudah merebak ke seantero kota.


Benteng Vastenburg, situs bersejarah yang digunakan sebagai lokasi Festival Internasional Musik Etnik 2007

Saya adalah satu dari sebagian orang yang pesimis pada suksesnya acara Solo International Ethnic Music Festival ( SIEM). Tak cuma pesimis, saya bahkan merasa menjadi orang yang paling kecewa dengan manajemen penyelenggaraan yang menurut saya, sungguh awut-awutan. Sejak semula, saya sudah mengusulkan kepada ketua penyelenggara agar tegas merombak susunan panitia, terutama di jajaran board of artistic-nya.

Argumentasi saya sederhana, sebuah festival -apalagi seambisius SIEM, harus dirancang secara sungguh-sungguh dan dengan perencanaan yang matang. Sistem kuratorial menjadi bagian paling penting dibanding faktor-faktor lainnya, seperti manajemen penyelenggaraan dan sebagainya. Untuk itu, kredibilitas kurator menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan pertunjukan yang menarik, dan tentu saja bisa dipertanggungjawabkan.


Folkcorn, sebuah kelompok musik etnik asal Belanda. Dimotori seorang perempuan Belanda kelahiran Probolinggo, Jawa Timur

Usulan semacam itu sudah saya sampaikan sekira enam bulan silam, ketika Ketua Penyelenggara mengajak berbincang perihal ambisinya membuat acara. Rupanya, waktu bergulir sangat cepat. Sang Ketua mulai kecapekan mengurus rumor patgulipat sebagian panitia. Ia juga pusing menghadapi resistensi sejumlah seniman Surakarta atas acara yang hendak digelarnya, hingga kemudian ia mengajak kembali berbincang dengan saya.

Tapi, pembicaraan tetaplah sebatas obrolan. Tanpa komitmen, tak ada pula kesepakatan. Sang Ketua tetap berjalan dengan idenya, saya pun tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa SIEM hanya akan menjadi forum mubazir, buang-buang duit dan merugikan masa depan pariwisata Surakarta. Seperti festival-festival yang rutin digelar sebuah event organizer bersama Dinas Pariwisata Surakarta, hasilnya kerap membuat kecewa.


Anak-anak sekolah internasional Korea di Jakarta, sedang berpawai menjelang festival. Mereka tergabung dalam kelompok Korea Choir

Orang sering berharap banyak pada festival demikian, namun yang lahir hanyalah kekecewaan. Persoalannya sama dan selalu berulang: tak ada sistem dan standar kuratorial yang jelas, serta digelar oleh segelintir orang yang memang tak paham benar dengan bidang pekerjaan yang sedang dilakoninya.

Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

TariMay 17, 2007 7:50 am

* Untuk AnakPeri

Sebuah pesan ditinggalkan oleh AnakPeri di salah satu halaman blog saya. Sejumlah pertanyaan membayang. Jangan-jangan Si AnakPeri bersaudara dengan indang, danyang yang merasuk pada diri Srintil, wahyu ronggeng yang merasuk pada tokoh sentral dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Kang Ahmad Tohari. Atau, barangkali Si AnakPeri cuma ingin mencari jawaban, apakah saya menyaksikan pertunjukan itu?!?

Usai menonton Banjaran Ronggeng Dukuh Paruk, Senin (14/5) malam lalu, sejatinya aku sudah tak hendak menuliskannya di sini. Kemeriahan pertunjukan memang bisa kunikmati. Tapi untuk lebih dari itu, ada keraguan membayang. Saya kuatir tak ada diskusi atau dialog sehat bila saya mengatakan apa adanya, sesuai opini dan impresi saya atas pergelaran koreografi Cahwati itu.

Tak apalah. Biar saya menggonggong, toh para kafilah gerak juga tak akan rugi. Sekeras apapun gonggonganku, pasti tak akan merusak selaput gendang telinga mereka. Gemuruh kanlpot peserta kampanye yang jelas-jelas merusak telinga dan mengusik kenyamanan (dan menyusahkan keluarga penderita sakit jantung) saja dibiarin, kok. So what!!, gitu lo…

Begini, AnakPeri . Menurut saya, sulit untuk membandingkan sosok Srintil dalam karya Cahwati dengan Srintil versi Kang Tohari. Yang saya pahami dari karya Kang Tohari, Srintil merupakan sosok perempuan yang rapuh saat sendiri, namun tampak perkasa saat menari. Ia juga seorang religius. Bagi Srintil, ronggeng bukan sekadar profesi yang memberi kenikmatan duniawi yang nyaris tanpa batas.

Seperti waitress di restoran mewah, ia harus selalu tersenyum kepada para tamu, dan tak enggan meminta maaf ketika melihat gelagat sang tamu kurang berkenan. Profesonalisme harus melekat pada para pelaku bisnis jasa. Begitu pula Srintil. Ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani orang-orang yang mengejar kesenangan. Harta, kuasa, juga kepuasan seksual, sudah pasti akan selalu mengikuti kemanapun ronggeng pergi.

Satu hal yang harus dimengerti, dalam konteks apa harta, kuasa dan kepuasan seksual itu mengikuti. Seorang Srintil, jelas tidak menjadikan ketiga hal itu sebagai obsesi, melainkan konsekwensi. Karena itu, seorang Srintil tidak pernah menyajikan pertunjukan yang dibuat-buat, apalagi sengaja mengeksploitasi tubuh demi memikat penonton. Ia menyajikan gerak dengan kecakapan dan inner beauty yang dimilikinya.

Sebaliknya, justru penontonlah yang secara dengan sengaja mengumbar fantasinya secara liar, sehingga imajinasi lebih menuntun mereka untuk melepas seluruh kain yang melekat pada sang ronggeng. Fantasi dan imajinasi itulah yang kemudian membangkitkan nafsu untuk merengkuh dan memiliki tubuh sang ronggeng dalam kehidupan pribadinya. Maka, menjadi mudah dimengerti kalau mereka tak segan menelantarkan istri dan anak-anak –bahkan kehormatan mereka, dengan cara mengumbar harta mereka untuk memikat sang ronggeng.

Kebaikan Srintil yang berbagi harta dengan para tetangga, impiannya untuk berkeluarga dengan Rasus, lelaki pujaannya, rasanya sudah memberi bukti yang kuat bahwa Srintil bukanlah ronggeng murahan, yang mau mengobral kehormatannya demi kesuksesan duniawi.

Saya kira, inilah pemahaman saya pada sosok Srintil seperti yang dimaui Kang Tohari. Dan, Srintil versi Cahwati, bagi saya hanyalah ronggeng murahan. Untung, Kang Tohari tak jadi datang pada pertunjukan malam itu (dan, kabar bahwa beliau akan datanglah yang membuatku ingin bertemu sekalian menyaksikan pertunjukan itu, setelah empat tahun tak bertemu).

Bila beliau hadir, saya pasti akan ikut larut dalam keharuan… (meski saya yakin, beliau tak akan tersinggung dengan Srintil yang munyal-munyal malam itu. Sudah jelas bagi Kang Tohari, juga saya, Si Ronggeng Srintil menari terakhir kali bersamaan dengan huru-hara PKI versus ABRI pada masa Gestok. Eh, GESTAPU!)

Begitulah gonggonganku, AnakPeri ………….

TariMay 11, 2007 2:23 am


Saya belum mengenal Dedu. Setidaknya sampai aku menyaksikan pertunjukan balet Kemarin, hari ini….. dan esok? di Taman Budaya Surakarta, Kamis (10/5) malam. Asyik. Juga segar. Koreografi Dedu juga menghadirkan banyak kejutan. Setidaknya, itulah pengalaman yang saya rasakan. Barangkali tertarik menyaksikan, Anda masih punya kesempatan. Malam nanti merupakan malam terakhir untuk pergelaran dua malam itu.

Bahwa visualisasi karyanya terasa sangat dipengaruhi gaya Wied Sendjayani, sangat bisa dimengerti. Dedu termasuk murid (dari segelintir orang) pada angkatan pertama Mbak Wied di Sanggar Maniratari. Karena itu, saat seorang teman mengomentari pertunjukan itu dengan menyebut ‘sangat Mbak Wied’, saya memilih membela Dedu.

Saya menyampaikan apologi permisif: karena pertama kali mengenal balet saat nyantrik pada Mbak Wied, maka wajar saja kalau keterpengaruhan itu terasa mewarnai. Apalagi, Kemarin, hari ini….. dan esok? merupakan karya perdana Dedu, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan baru akan tampak pada karya-karya selanjutnya.

Kalaupun ada ‘sisa-sisa’gaya pada karya mendatang pun, bisa saja dikategorikan pada batas kewajaran. Keterpengaruhan itu wajar. Pengidolaan terhadap seseorang yang ditokohkan (biasanya karena kekaguman) tak terasa mengendap sehingga akan menjadi potensi laten yang akan muncul pada suatu ketika. Mugiyono, Bambang ‘Besur’ Suryono dan Fajar Satriadi adalah contoh koreografer Surakarta yang banyak dipengaruhi oleh Sardono W Kusumo. Di Jakarta, Boi G Sakti juga cukup mempengaruhi garapan beberapa koreografer muda.

Sebagai murid Mbak Wied, Dedu termasuk terlambat berkarya. Siko Setyanto, generasi kedua di Sanggar Maniratari bisa disebut lebih berani berkarya dibanding seniornya itu. Bahkan penampilan solo Siko dalam forum emerging choreographers dalam forum Indonesian Dance Festival, memperoleh apresiasi yang bagus dari penonton.

Meski tak terlalu bagus, Kemarin, hari ini….. dan esok? juga tak bisa dibilang jelek. Garapannya bersih (boleh jadi) lantaran didukung materi penari yang cakap dan menguasai teknik, dari teman-temannya satu sanggar. Pertunjukannya jenaka, enak dinikmati, namun tak kehilangan esensi.

Kejutan, misalnya, muncul ketika para penari yang berlarian kesana-kemari, dan meluncur di lantai panggung dengan speed tinggi. Banyak penonton di barisan terdepan kaget, kuatir tertabrak.

Rupanya, semua gerakan sudah terukur. Selamat berkarya untuk Dedu. Jangan ragu dalam mencari jatidiri, meski tak perlu meninggalkan Mbak Wied Sendjayani.

TariApril 30, 2007 6:51 am

Sen Hea Ha
Kesenian sungguh dunia yang unik. Setidaknya, begitulah yang saya pahami, setelah mengenal banyak komunitas dan pelaku seni. Perayaan Hari Tari Internasional di Surakarta pada 29 April lalu, misalnya, dirayakan dengan penuh persaingan –yang menurut hemat saya- tidak bermutu.

Petugas humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, misalnya, mengeluhkan proposal permintaan dana kepada Dinas Pariswisata setempat dikabulkan, namun setelah dana cair justru dialihkan kepada pihak lain, sebuah event organizer yang memang memiliki relasi sangat dekat dengan pejabat Dinas Pariwisata. Oleh sang event organizer, dana itu juga digunakan untuk membuat perayaan Hari Tari Internasional.

Kekecewaan kedua yang dialami ISI Surakarta, mereka gagal acara mencatatkan perayaan berupa pentas tari selama 24 jam pada 29-30 April itu ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Alasannya, “MURI minta duit untuk proses pencatatan itu, sementara kami tak memiliki budget untuk itu,” ujar sang petugas humas itu.

Yang pasti, petinggi MURI akhirnya datang ke Surakarta dan memberikan penghargaan berupa pencatatan dalam daftar rekor Ter…. itu kepada sang event organizer yang berhasil menyelenggarakan pentas Tari Gambyong massal dengan menampilkan 1.000 penari.

Seperti dalam dunia lembaga swadaya masyarakat, sebuah momentum perayaan bisa memiliki status SEKSI atau TIDAK SEKSI. KeSEKSIan itu, jelas merujuk pada besar-kecilnya peluang menggaet dana dari lembaga penyedia dana, apakah itu sebuah kantor pemerintah maupun lembaga donor.

Tapi, begitulah kekuatan uang. Dia luwes, menggoda dan siap mengadu domba kepada siapa saja yang mau menyediakan diri secara sadar untuk ‘terlena’ atau ‘khilaf’.

Masih beruntung, perayaan Hari Tari Internasional di ISI berlangsung cukup meriah. Selama 24 jam penuh, banyak orang berkerumun –meski sebagian besar para pengisi acara dan mahasiswa setempat- di sekitar kampus, tempat berlangsungnya perayaan.

Sayang, sedikit cacat dipertontonkan secara kasat mata di lembaga tinggi kesenian itu. Pertunjukan seorang penampil –kebetulan mahasiswa ISI Surakarta- dirusak oleh sang dosen sendiri. Belum usai Bobby, nama mahasiswa itu, menyelesaikan pertunjukannya, sang dosen sudah menyusul pentas di sebelahnya, sehingga bukan saja penampilan geraknya tak bisa dinikmati, tapi iringan musiknya dikacaukan dengan suara cemeti yang mengiringi penampilan sang dosen.

Satu cacat lainnya, panitia sangat ceroboh mempekerjakan mahasiswanya sendiri dalam hal mendokumentasi dalam bentuk video. Sang kameraman begitu ngawur, masuk dalam stage hanya untuk mengambil detil-detil pertunjukan.

Bersaing Tak Sehat

Mungkin, begitulah cara ISI Surakarta mengingatkan saya untuk semakin teguh agar tak mudah gegabah mempercayai semangat berkesenian mereka…………..

Bantahan:
Heru Prasetya, Ketua Mataya Art and Heritage, event organizer yang selama ini kerap bekerja sama dengan Dinas Pariwisata menemui saya, menyatakan bantahannya, bahwa pihaknya menggunakan dana Dinas Pariwisata Kota Surakarta untuk menggelar tarian 1.000 penari Gambyong bertepatan pada Hari Tari Internasional.

Meski di blog ini tak menyebut nama event organizer yang dikelolanya, ia merasa perlu memberi klarifikasi. “Saya sudah menemui petugas humas ISI Surakarta menjelaskan duduk persoalan dana itu. Saya sudah menegaskan kepada dia, bahwa kami tak memperoleh apalagi menggunakan dana Dinas Pariwisata untuk acara itu,” ujar Heru. (Updated: Kamis, 10 Mei 2007 pukul 15.00 WIB)

TariApril 2, 2007 11:39 am


Spanduk dan poster bertebaran di sekitar Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sepanjang Maret lalu. Tulisannya mencolok, memancing rasa ingin tahu. Reklame itu mengabarkan, akan ada pementasan tari bertajuk Kidung|40||Centhini pada 30 Maret di TBS. Itulah obat, penawar rindu setelah hampir enam bulan tak menonton pertunjukan tari.

Pertunjukan memang bisa dinikmati, setidaknya hingga 10 menit. Adegan percintaan antara Amongraga (diperankan oleh Ronnarong Khampha, dari Thailand) dan Tambangraras (Ni Kadek Yulia, sekaligus koreografer) lumayan bagus. Tak ada sensualitas yang mencolok namun cukup mengena. Apalagi, pelajaran seks yang mistis-agamis a la Serat Centhini –yang dijadikan rujukan ide garapan– memang tak menghendaki kemunculan ekspresi yang serba saru.

Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.

Bahwa Kadek ingin menghadirkan Centhini sebagai sosok penting dalam kisah itu, memang tak bisa lagi dibantah. Tapi, lagi-lagi, Centhini tak berarti apa-apa tanpa kehadiran kedua majikannya itu. Maka sempurnalah Kadek terperangkap dalam jebakan imajinasinya sendiri. Ia lalu terjebak dalam keasyikan bermain-main dengan efek-efek bayangan yang diperankan oleh sejumlah penari, yang entah mereka sedang memerankan siapa. Anehnya, adegan ini terus berulang, berlangsung lamban, bahkan hampir mendominasi seluruh pertunjukan. Dua kain putih yang terbentang sebagai medium melekatnya bayangan, yang sesungguhnya sangat mengganggu. Pada beberapa adegan (penting), kehadiran kain putih itu malah mematikan ekspresi gagasannya sendiri.

Singkat ceritera, pertunjukan itu boleh dibilang gagal. Bagi Kadek sendiri, karya terbarunya itu justru akan ‘mematikan’ namanya sebagai koreografer. Rencana mementaskan karya itu di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada 4-5 Mei mendatang, bisa membalikkan persepsi publik Jakarta, terutama yang pada 2004 lalu pernah menyaksikan pertunjukan Rene-Indahku di Taman Ismail Marzuki. Karya Kadek itu –yang memang bagus, berhasil menyabet koreografi terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta.

Tentu saja, saya ingin mengingatkan Anda, untuk tak terjebak visualisasi gerak yang telah saya bekukan lewat beberapa foto di halaman ini.

Sesungguhnya, saya hanya mengkuatirkan talenta yang dimiliki oleh anak-anak muda seperti Kadek. Dalam lima tahun terakhir ini, frekwensi pertunjukan tari bisa dibilang teramat tinggi. Di Jakarta, Bandung dan Surakarta (untuk menyebut beberapa kota yang saya kenal), nyaris setiap dua bulan ada petunjukan karya-karya baru oleh koreografer muda kita. Namun, yang saya rasakan, terlalu banyak karya-karya prematur yang ‘dijajakan’. Tak ada kedalaman gagasan, begitu pula visualisasinya yang nyaris miskin eksplorasi.

Ada kecenderungan kekeliruan memaknai ‘kemudahan’ memperoleh funding yang mendukung pembiayaan proses-proses kreatif bagi seniman seni pertunjukan, terutama tari. Meski memberi kontribusi yang lumayan, khususnya meningkatkan frekwensi pertunjukan, sesungguhnya kehadiran lembaga penyedia dana menjadi buah simalakama. Manisnya duit telah mendorong kompetisi yang kurang sehat, sebab banyak seniman terbius oleh kemudahan berpentas alias unjuk kebolehan. Sedang pada sisi yang lain, para kurator lembaga pendana masih ‘kurang gaul’. Mereka masih enggan keliling daerah untuk mengamati dinamika berkesenian di berbagai daerah. Kurator yang sebenarnya bisa berperan sebagai ‘pencari bakat’ lebih asyik memotret ‘dinamika’ kesenian lewat media massa. (Celakanya, banyak reporter di berbagai daerah tak memiliki kecakapan dan kecukupan referensi seni, sehingga kerja jurnalis lebih tepat disebut sebagai pelapor sekaligus perekam peristiwa semata!)

Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.

TariMarch 21, 2007 1:56 pm

Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.

Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.

Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.

Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.

Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.

Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.

Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)

performing artsDecember 3, 2006 12:21 pm

Konser opera kontemporer The King’s Witch (Calon Arang) bisa disebut sebagai peristiwa kesenian paling wah di Indonesia, tahun ini. Bukan hanya nama-nama besar –seperti komponis Tony Prabowo, penyair Goenawan Mohamad, konduktor Joel Sachs, dan Teater Garasi bergabung untuk proyek itu. Konon, pertunjukan selama tiga hari dan berlangsung di dua lokasi berbeda di Jakarta itu menelan biaya hingga Rp 2 miliar!

Kalaupun benar pementasan tersebut menelan dana sebesar itu, sesungguhnya bukan sebuah masalah. Tak ada salahnya, seorang seniman mencari dana untuk membiayai proses kreatifnya. Apalagi, lebih dari 50 orang artis (musik, teater dan tari) terlibat dalam The King’s Witch (Calon Arang) tersebut, dengan hampir setengahnya didatangkan dari Amerika Serikat. Itu belum termasuk belasan orang yang terlibat dalam manajemen produksi.

Apa yang dilakukan seorang (banyak) seniman dan tim produksi pada sebuah proses kreatif, pada hakekatnya adalah sedang bekerja pula. Karena itu, tak ada salahnya bila dari pekerjaannya, seseorang memperoleh imbalan (dalam dunia kesenian sering disebut dengan honor), karena (sama dengan manusia lainnya) seniman juga butuh makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Namun, namanya memang sudah tidak suka dengan salah satu artisnya (yang kebetulan merupakan figur publik), seorang teman yang sempat melihat booklet pertunjukan itu, tetap saja berupaya mencari celah untuk memojokkannya. Ia misalnya, menuduh sang artis telah menjalin hubungan yang disebutnya ‘tak baik’ dengan Sukanto Tanoto, bos konglomerasi Grup Raja Garuda Mas, hanya karena ia mendapati nama Tanoto Foundation tercantum sebagai salah satu sponsor. Begitu pula dengan logo Medco Energi, perusahaan milik Arifin Panigoro yang juga menjadi sponsor pertunjukan tersebut.

Tentu, sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada sang teman tadi. Di kepalanya, prasangka sudah sedemikian dalam terpatri, sehingga keterlibatan Medco Energi dan Tanoto Foundation dalam pendanaan pertunjukan tersebut seolah-olah telah menunjukkan sebuah ‘persekutuan terkutuk’. Seolah-olah kesenian merupakan sesuatu yang agung dan suci, sementara kedua lembaga tersebut dicap sebagai racun atau polutan, hanya karena menghubungkannya dengan kinerja dan profil seorang Sukanto Tanoto dan Arifin Panigoro.

Celakanya, saya sengaja datang jauh-jauh dari Surakarta untuk menyaksikan acara tersebut atas undangan Tony Prabowo. Meski dengan biaya sendiri, argumentasi yang bisa dinilai ‘membela’ Tony dan kawan-kawan itu bisa ‘menjerumuskan’ saya sebagai advokat yang bias nan subyektif!

Mungkin teman saya itu lupa, bahwa produk kesenian bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa, sementara senimannya sesungguhnya layak menyandang julukan sebagai diplomat pula. Tarian Cak dan Legong, misalnya, telah menjadi sihir mahakuat bagi orang-orang dari berbagai negara nun jauh di seberang lautan untuk datang ke Bali, kendati pada masa lampau menenggelamkan nama Indonesia (lantaran Bali dianggap sebagai bukan dari bagian Indonesia).

Semoga, prasangka teman saya itu hanya sebatas potret atas ketidaktahuannya semata. Sebab, banyak dari masyarakat kita masih lebih parah dalam hal prasangka dan penghakiman terhadap hasil-hasil kerja kesenian dan seniman. Bahwa ada sebagian orang yang berperilaku dan berpenampilan sesuka hati hanya semata-mata karena ingin dicap sebagai seniman, harus diakui hal itu masih banyak terjadi. Tapi, sebaiknya tak perlu pula terburu-buru mengatakan “Dasar seniman!” hanya karena seseorang tampil atau berkerja secara tak sama dengan lingkungannya.

Pertunjukan Pastoral, kuartet gesek dan dua soprano yang dimainkan oleh Momenta String Quartet dengan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dan Binu D. Sukaman. Pastoral diilhami oleh sajak 12-bagian karya Goenawan Mohamad

Lazim tak lazim sangat ditentukan oleh sudut pandang dan referensi seseorang. Tak ada yang perlu dianggap aneh………………..

TariNovember 22, 2006 5:25 am

Menjadi raja (ideal) itu tidak mudah. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi, karenanya banyak proses mesti dilalui. Seorang raja, tentu harus cakap, bisa membawa diri, berwibawa, dan bisa menjadi manajer yang baik, baik itu dalam lingkup urusan internal kerajaan maupun dalam kaitannya dengan pihak di luar kraton, seperti rakyat atau kerajaan (negara lain).

Untuk menjadi raja Surakarta, konon ada tahapan proses yang lebih unik lagi. Jauh sebelum prosesi penobatan dilakukan, ia mesti melakukan ritual yakni menari sendirian di kamar pusaka. Jenis gerakan apa yang harus dilakukan, cara berdiri hingga ke arah mana telapak kaki diarahkan, semua sudah ada aturannya. Singkat cerita, sebelum jadi raja, seorang pangeran mesti lelaku, supaya kelak bisa mengendalikan emosi dan perilaku.

Setidaknya, begitulah inti pesan tari Panji Sepuh yang bisa ditemukan dalam Wedhataya (wedha berarti kitab, taya merupakan padanan kata gerak/tari), yang diperkirakan dibuat pada masa Pakubuwono X (1866-1939). Adalah Tumenggung Kusuma Kesawa, empu tari Kraton Surakarta yang konon telah mempopulerkan tarian itu lewat metode pengajaran kepada para cantriknya, pada awal 1950-an hingga 1960-an.

Kini, Panji Sepuh sedang ditafsir kembali oleh penyair Goenawan Mohamad menjadi komposisi baru, yang akan dipentaskan di Museum Nasional Singapura, 8-9 Desember mendatang. Bila kitab asalnya menyebut Panji Sepuh sebagai tarian tunggal, Goenawan menambahkan unsur perempuan ke dalamnya. Mungkin, ia terinspirasi oleh perilaku pangeran dan para raja Jawa (khususnya dinasti Mataram), yang selalu memiliki ‘banyak’ istri, juga para perempuan ‘independen’ sebagai ‘lawan main’.

Panji Sepuh versi Goenawan adalah seorang pangeran yang akan naik tahta pada masa ketika kerajaan sudah di ambang keruntuhan, baik secara politis maupun budaya. Karena itu, menjadi raja hanyalah proses menuju kesia-siaan belaka. Predikat raja tak berbanding lurus dengan kekuasaan, sementara bila mengacu pada eksistensi kemanusiaan dalam pengertian hakiki, menjadi raja sama saja dengan menjadi ‘yang lain’, menjauhkan diri dari watak dan perilaku yang seharusnya.

Karena itu, tafsir Panji Sepuh diwakili melalui topeng-topeng aneka rupa, baik yang dikenakan tokoh Panji Sepuh maupun tujuh penari perempuan. Ya, para perempuan itulah yang dalam kehidupan nyata merupakan manusia-manusia terpenjara, yang nyaris tak boleh mewujudkan kehendak/keinginannya sendiri, bahkan untuk hal-hal paling pribadi sekalipun. Lalu, oleh Goenawan, perempuan yang senyatanya sosok yang mudah berganti peran dalam waktu sekejap (seperti dari pelayan menjadi istri dan sebaliknya) itu dibalikkan perannya.

Sisi manusiawi para perempuan dan Panji Sepuh lalu ditonjolkan. Perempuan yang terpenjara digambarkan melakukan hubungan seks sejenis dengan sesama selir (lantaran hanya kadang-kadang saja dipenuhi haknya oleh raja), sementara Panji Sepuh digambarkan sebagai sosok yang sesungguhnya ingin menggunakan haknya secara tak terbatas karena kedudukannya sebagai raja, namun terbentur pada beban-beban moralitas yang juga harus diwujudkannya.

Baik tafsir Goenawan atas Panji Sepuh maupun makna tarian itu sebagaimana tersurat dalam Wedhataya, tak ada salahnya kalau kita menoleh pada situasi kontemporer Kraton Surakarta. Dua pangeran berebut tahta, meski keduanya sama-sama tak memiliki watak, perilaku dan kearifan sebagaimana yang dikehendaki, baik oleh masyarakat atau rakyat yang telah berubah maupun oleh parameter moralitas itu sendiri.

Ibarat rebut balung tanpa isi, berebut tulang, kedua pangeran (yang lantas memiliki dua pusat pemerintahan berbeda), sama-sama ngotot, merasa paling baik dan benar, meski sesungguhnya publik sudah paham kapasitas dan kompetensi masing-masing pihak, termasuk para supporter-nya.

TariJune 6, 2006 10:35 am


Keiko Takeya membawakan tari Passion

Keiko Takeya pernah datang ke Surakarta pada 1993. Ia menampilkan sebuah repertoar tari yang bukan saja indah, namun sarat makna. Dong Feng, judul tari itu, merupakan karya tari modern dengan ruh Jepang. Bukan karena ada Butoh di dalamnya, namun lebih dari itu, Keiko mengangkat vokabuler gerak-gerak tarian tradisional Jepang sebagai idiom visualisasi gagasannya.


Passion, karya Keiko Takeya

Semula, aku mengira Dong Feng sebagai salah satu jenis tarian tradisional Jepang, atau mirip dengan Langendriyan dalam khazanah seni tari Jawa, khususnya gaya Surakarta. Belakangan baru kutahu, Keiko termasuk salah satu seniman tari yang hampir selalu menggunakan ikon-ikon tradisi sebagai materi garapan-garapannya.


Fuji-Musume, tarian tradisional Jepang diperankan oleh Terushi Bando

Tiga belas tahun berlalu, bulan lalu, Keiko kembali hadir di Indonesia. Ia berkeliling ke berbagai kota di Indonesia seperti Surakarta, Yogyakarta, Tegal, Jakarta dan Bandung. Bedanya, dia tak membawakan karya tunggal. Ia seperti membawa misi pertukaran budaya. Beberapa jenis tari tradisional Jepang dia pertunjukkan pula, sekaligus untuk memperkenalkan kepada publik Indonesia. Kiyomoto, misalnya, merupakan salah satu jenis tarian yang pada masa Kaisar Edo (1603-1867) selalu meramaikan festival rakyat di sana.


Kiyomoto, diperankan oleh Mitateru Bando

Satu hal yang mengagetkan, Passion yang diciptakan dan dimainkan sendiri oleh Keiko tak sekuat Dong Feng yang diciptakannya 13 tahun lalu. Mungkin ia beranjak tua, sehingga staminanya tak seprima dahulu. Atau barangkali ia sudah berubah. Setidaknya, nuansa Jepang yang dulu melekat kuat pada Dong Feng, kini sudah terasa hambar.

TariMarch 20, 2006 10:23 am

Koreografer Sardono Waluyo Kusumo melakukan daur ulang karya lamanya berjudul Hutan Plastik di Taman Ismail Marzuki, 15 Oktober 2004. Saat itu, ia berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan, pianis yang sedang naik daun.

Sejatinya, konon Hutan Plastik merupakan garapan teater-tari yang cukup dahsyat. Namun, saat dilakukan kolaborasi dengan Ananda yang juga melibatkan sejumlah waria Taman Lawang, karya itu malah jadi aneh. Kotor di panggung akibat penataan artistik yang kedodoran dan blocking yang serampangan. Boleh jadi, Mas Don, begitu ia akrab disapa, sudah mulai lelah. Beberapa karya-karya terakhirnya hanya merupakan pengulangan seperti Opera Diponegoro dari yang sebelumnya. Dan anehnya, pengulangan itu tak menuai keberhasilan alias tak sesempurna garapan pertamanya.

Entah karena sibuk sebagai rektor atau yang lain, Mas Don memang tampak mulai sulit menelorkan karya-karya tari yang kuat seperti yang sudah dilakoninya…..

TariMarch 2, 2006 9:15 am

Penampilan koreografi Prangbuta karya Eko Supriyanto di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Maret 2004 ini kurang menguntugkan. Karya ini menambah daftar panjang kegagalan korografer muda kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini, khususnya dalam menggarap karya-karya tari yang melibatkan banyak penari. Ia masih kelihatan lebih matang dalam menggarap karya-karya tunggal. Selain materi fisiknya, ia juga memiliki kekayaan referensi gerak dan kuat dalam ide-ide garapan.

TeaterMarch 1, 2006 6:59 am

Teater Ruang, Solo mempertunjukkan lakon Dudak alias Dunia Dalam Kardus di Taman Budaya Surakarta, pertengahan Desember 2005. Menurut penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan itu, Joko ‘Bibit’ Santosa, Dudak diilhami oleh pleidoi Soekarno yang dikenal dengan buku ’supertebalnya’ (?), Indonesia Menggugat. Naskah saduran itu sesungguhnya menarik dan relevan dengan situasi penindasan sosial-ekonomi-politik yang terjadi di Indonesia kini.

Sayang, kelompok ini gagal mengkomunikasikan gagasan itu. Seandainya eksplorasi artistiknya matang, kardus-kardus yang dijadikan properti utama itu akan menguatkan visualisasi simbol penjajahan ekonomi. Penonton pun, akan menjadi dimudahkan mengikuti alur cerita yang disajikan dalam dialog-dialognya yang sangat panjang dan cenderung menyesatkan.

TeaterFebruary 27, 2006 8:48 am

Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.

Seni TradisionalFebruary 25, 2006 10:38 am

Wayang ini masuk kategori wayang pinggiran. Ia bukan jenis kesenian produk kerajaan, melainkan lahir dari komunitas kebudayaan di lereng Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah. Tak jelas benar, apakah jenis ini merupakan produk kebudayaan yang memiliki kaitan dengan ritus pemujaan terhadap penunggu alam Merapi, atau sekadar gubahan seniman masa kini. Yang jelas, mahkota yang terbuat dari bulu-bulu unggas itu, mungkin lebih tepat disebut sebagai efek keterpengaruhan yang disebarluaskan oleh teknologi televisi. Apalagi, belum ada literatur sejarah yang memberi gambaran adanya hubungan komunitas lereng Merapi dengan suku Indian, nun jauh di seberang benua.

Seni Tradisional 10:27 am

Wayang Klithik hampir mirip dengan wayang kulit. Bedanya, boneka untuk Wayang Klithik terbuat dari kayu, sehingga terlihat lebih tebal. Coraknya juga sama. Pola pertunjukan Wayang Klithik juga sama dengan wayang kulit. Perbedaan yang mencolok hanyalah layar terdapat di sisi kanan dan kiri dalang, sementara di depan sang dalang justru tanpa layar. Penyebabnya adalah, boneka Wayang Klithik yang tebal dan tidak tembus cahaya sehingga tak memungkinkan adanya ‘bayangan berbentuk’ yang jatuh pada layar.

TeaterFebruary 23, 2006 9:53 am

DA-M Theatre dari Jepang ini termasuk kelompok dengan produk kerja teater yang ‘mencerdaskan’ aku pribadi. Memang, aku sulit memahami jalinan cerita yang coba dirajut dan mereka beri label Aruku itu. Tapi, aku bisa menikmati pertunjukan mereka, sajian tata artistik yang diperkenalkannya lewat tabung-tabung neon berserakan dan intensitas gerak para pemainnya. Sungguh, aku merasa masih lebih bingung menikmati pertunjukan Mas Putu Wijaya.

Seni TradisionalFebruary 22, 2006 7:41 am

Kesan kumuh biasa dilekatkan pada kehidupan pelaku seni tradisi, termasuk seniman Wayang Orang Sriwedari. Padahal, kotoran bisa jadi ditimbulkan saat renovasi atau pengecatan ruangan berlangsung, seperti yang menimpa meja rias Sutopo Gareng, 55 tahun (kiri) dengan Eko Wahyu, 36 tahun.

TeaterFebruary 20, 2006 6:40 am


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Teater Garasi, Yogyakarta boleh disebut sebagai kelompok teater yang paling berpengaruh di Indonesia pada kurun 2000-an. Bukan sekadar tingkat pencapaian artistik semata yang menjadikan karya-karya Garasi mengundang decak kagum para publik seni Indonesia dan mancanegara.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Keseriusan anak-anak muda –yang dipimpin Yudi Ahmad Tajudin alias Ogleng, dalam menyikapi kesenianlah yang menjadikan kelompok ini laris diundang tampil di luar negeri. Dalam menyiapkan sebuah garapan, misalnya, mereka rela menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menyiapkan naskah dan melakukan riset pendukung untuk memperkaya konsepnya.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Tak hanya riset pustaka, kelompok ini juga aktif mendiskusikan temuan mereka dengan sejumlah pakar, pelaku sejarah atau saksi peristiwa, selain antar-mereka sendiri: para aktor, kru artistik, penulis naskah dan sutradara. Yang paling tampak nyata menyita energi adalah ketika mereka menggarap lakon Waktu Batu, yang hingga repertoar Waktu Batu #3 (2004), mereka memerlukan waktu riset hingga lebih dari tiga tahun.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Sama dengan dua repertoar sebelumnya, Waktu Batu #1: Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (2002) dan Waktu Batu #2:Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah (2003), Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu masih mendasarkan pada tiga tema dasar, yakni waktu, transisi dan identitas. Kegelisahan mereka akan waktu ditelusuri melalui riset dan reinterpretasi atas teks mitologi, yang dalam hal ini memfokuskan ruwatan Murwakala, yang dalam kosmologi Jawa diwujudkan dalam upaya-upaya menolak bala.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Sementara sejarah dijadikan sebagai acuan untuk membaca transisi dalam berbagai aspek kebudayaan manusia untuk menemukan identitas, yang potretnya bisa ditemukan pada kompleksnya problema modernitas di Indonesia. Maka, tak aneh lagi bila Teater Garasi dengan Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu ditunjuk sebagai ‘wakil teater’ Indonesia bersama Teater Kubur (Jakarta) untuk tampil dalam Art Summit Indonesia IV di Jakarta, akhir September 2004 bersama sejumlah kelompok-kelompok kesenian (teater, tari dan musik) papan atas dari berbagai negara.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Teater Garasi yang semula adalah Unit Kegiatan Mahasiswa di Fisipol Universitas Gadjah Mada, bisa disebut sebagai salah satu dari sedikit kelompok teater kampus yang berhasil membangun identitas, dan sukses dalam mensejajarkan diri dengan kelompok-kelompok teater ‘profesional’ papan atas di Indonesia. Maka, bukan hal aneh kalau karya yang sama diundang untuk dipertontonkan dalam Insomnia 48 di The Art House at The Old Parliament House, Singapura, sebulan kemudian.

TeaterFebruary 18, 2006 7:27 am

Wawan Sofwan adalah aktor tulen. Ia mematangkan talenta keaktorannya di Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater yang pamornya dan reputasinya belum tertandingi dalam hal penyutradaraan naskah-naskah realis. Dari bekal itu, kini ia memilih mengembangkan format pertunjukan ‘serba tunggal’ seperti monolog, monoplay atau drama-reading lewat MainTeater, sebuah organisasi ramping yang terdiri para penggiat seni pertunjukan, khususnya teater di Bandung.

Kontrabass hanyalah salah satu dari sekian karya pertunjukan yang disutadarai sekaligus dimainkannya sendiri, tak terbatas di Bandung dan Jakarta, namun hingga ke beberapa pusat kesenian di Eropa. Pertunjukan yang mengangkat karya Patrick Süßkind berjudul Der Kontrabass di GoetheHaus, Jakarta 9 Maret 2004 lalu, merupakan salah satu unjuk kemampuan Wawan dalam akting tragikomedi tentang sosok lelaki pecundang.

Kontrabass, berkisah tentang sosok musisi yang memainkan kontrabass dalam sebuah kelompok orkestra dengan latar belakang Jerman tempo dulu. Lelaki itu, piawai membawakan komposisi karya Mozart, Beethoven, Schubert dan banyak lagi, seperti Cosi van tutte atau semacam Symphony no. 5. Tapi, ada konflik pada dirinya, yang mencintai Sarah, seorang penyanyi sopran di kelompoknya. Harga dirinya terusik, karena ia merasa perannya sebagai pemain kontrabass tak diperhitungkan. Sementara ia berkeyakinan, harmoni sebuah orkestrasi menjadi mustahil bila terdapat penyimpangan dari salah satu atau lebih instrumen musik yang dimainkan.

TariFebruary 17, 2006 6:03 am


Panyot pun Padam

Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi saksi bisu dinamika tari Indonesia. Malam itu, 14 Desember 2004, tujuh koreografer muda tampil sebagai finalis ‘kompetisi’ penciptaan gerak tari. Seperti dapat diduga, ketujuh finalis memang rata-rata masih pantas disebut muda, bahkan dalam pengertian denotatif. Seperti pada fase pertumbuhan manusia, masa muda memiliki banyak ciri-ciri yang khas.


Air Kehidupan

Sifat naif, misalnya, ditunjukkan oleh Aldri (Bekasi). Komposisi Air Kehidupan yang disusunnya berpijak pada vokabuler gerak tari bedhaya, termasuk dalam penempatan blocking lima penarinya dan penggunaan belasan kendi berisi air sebagai elemen artistiknya. Tak ada kedalaman eksplorasi Aldri, terutama terhadap filosofi benda yang dijadikan perangkat artistik. Sifat serupa juga ditunjukkan Lalu Suryadi (Lombok) yang menyajikan Wangsa Menak.


Mikrokosmos

Kecenderungan pamer teknik dan kamus gerak, sangat menonjol karena hampir seluruhnya menyajikan gerak yang mudah dijumpai persamannya dengan khazanah gerak yang pernah disajikan koreografer-koreografer senior lainnya, atau mengambil apa adanya dari vokabuler gerak tari-tari tradisi. Tak ada yang serius mengeksplorasi lebih dalam, bahkan untuk sekadar memodifikasi atau membuat stilisasi gerak. Sudiharto (Yogyakarta) yang mengusung Mikrokosmos, misalnya, sangat kelihatan terinspirasi oleh Penumbra karya Martinus Miroto, yang tak lain adalah guru tarinya di ISI Yogyakarta.


Meraba Raga

Yang menarik perhatian dari forum pencarian bibit-bibit baru itu, adalah tampilnya tiga pencipta asal Solo: Ni Kadek Yulia (Rene-Indahku), Rini Endah (Meraba Raga) dan Danang Pamungkas (Panyot pun Padam). Penampilan ketiganya, selain mendominasi aplaus penonton, juga menyita perhatian para juri yang terdiri dari koreografer Boy G Sakti, Wiwik Sipala dan wartawan Efix Mulyadi.


Rene-Indahku

Bukan hanya kemampuan teknik yang dikuasai seluruh penari pendukung karya-karya mereka, namun ketiga koreografer dari ’satu atap’ –mereka sama-sama berlatar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, itu mampu menyajikan pola gerak dan vokabuler yang beragam, meski tak terlalu baru. Kecenderungan pamer teknik, sudah tak terasa pada mereka. Sayang, tingkat kesulitan teknis yang berhasil ditaklukkan, kekayaan khazanah gerak dan kedalaman tema eksplorasi tema yang tampak pada Meraba Raga, luput dari perhatian para juri. Hingga akhirnya, Danang yag dinobatkan sebagai penampil terbaik.

TariFebruary 15, 2006 8:36 am

Koreografi terbaru Wied Sendjajani (Solo) yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, pertengahan 2005. Koreografer yang juga dikenal sebagai pelukis itu hampir selalu melibatkan anak-anak ke dalam hampir seluruh koreografinya. Ia selalu memasukkan idiom-idiom gerak tari klasik Jawa ke dalam karya-karya baletnya.

Mbak Wied, hampir selalu mempertaruhkan apa saja yang dimilikinya untuk membuat karya-karya balet. Karena minim sponsor, ia harus membiayai sendiri seluruh poduksinya. Uniknya, ia tak mau masuk ke dalam wilayah balet komersial yang sesungguhnya berpotensi meringankan beban produksinya. Sebab di Kota Solo, pebalet-pebalet Surabaya paling sering tampil untuk memeriahkan pesta-pesta keluarga menengah atasnya.

Tari 8:19 am

Tarian klasik Pura Mangkunegaran, Surakarta, yang bertutur tentang konflik antar-perempuan karena berebut pengaruh asmara dengan bangsawan kerajaan. Di satu pihak adalah simbol perempuan lokal sebangsa dengan si bangsawan, satu pihak lagi mewakili sosok perempuan pendatang, yang diwujudkan dengan sosok-sosok keturunan China.

Tari 6:52 am

Srimpi Srimpet adalah sebuah parodi yang sesungguhnya. Menilik dari judul tarian yang diciptakan oleh Wahyu Widayati alias Inong itu, imajinasi kita akan segera mengarah pada beragam jenis tarian agung ciptaan raja-raja di Jawa seperti Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Yang lazim diketahui umum, Srimpi diperankan oleh penari yang cantik-cantik, perawan dan dipertunjukkan dalam peristiwa-peristiwa khusus kerajaan.


Wahyu Inong Widayati

Oleh Inong, Srimpi dijadikan sebagai bahan olok-olok. Kerumitan tata cara penyajian dan kebutuhan iringan, bumbu mistis yang dilekatkan pada jenis tarian agung kerajaan itu (oleh kerajaan), dia jadikan pijakan untuk proses penciptaan. Musik iringan, misalnya, digantikannya dengan tembang-tembang Jawa. Penari yang seharusnya diam hening, diubahnya menjadi sosok-sosok yang bawel, kadang-kadang genit dan selengekan.

Cap adiluhung yang dilekatkan pada tarian itu hanyalah wujud halus keangkuhan keluarga kerajaan, karena semata-mata dilatari oleh alasan tak mau disaingi, apalagi oleh seniman atau aktor-aktor di luar tempok istana. Apalagi, banyak orang masih mempertanyakan, kenapa seorang penari bedaya atau srimpi harus berstatus perawan (virgin) dan tidak sedang menstruasi saat naik di atas pentas, yang biasanya dihadiri oleh raja, keluarga dekat beserta tamu-tamu istimewa kerajaan.

TariFebruary 12, 2006 4:59 pm

Fitri, koreografer muda asal Solo, mempertunjukkan koreografi hasil kolaborasinya dengan Tita, perupa yang bermukim di Yogyakarta. Judul karya itu mengingatkan pada salah satu lakon teater fenomenal di Indonesia pada awal 1990-an, berjudul Migrasi Dari Ruang Tamu. Kebetulan, penulis naskah lakon drama itu adalah Afrizal Malna , yang dalam koreografi terlibat sebagai tim artistik.

Teater 4:53 pm

Teater Koma, Jakarta mementaskan lakon Republik Togog di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 31 Juli 2004

Seni TradisionalFebruary 10, 2006 9:04 am

Topeng Endhel, merupakan salah satu kekayaan kultur Jawa Tengah dalam cabang seni tradisi, yang pamornya kini berangsur surut. Sawitri yang mempertunjukkan Topeng Endhel di Taman Budaya Surakarta, akhir Juli 2005 lalu menjadi salah satu seniman yang masih setia mempertahankan keberadaan tari topeng di luar tarian serupa yang dihidupi oleh kerajaan, seperti Kraton Surakarta, Pura Mangkunegaran dan kraton-kraton lain di Pulau Jawa.

Tari 8:59 am

Sianne W Halim (Surabaya), satu dari sedikit koreografer kontemporer Indonesia yang menggunakan vokabuler balet sebagai dasar penciptaan.

TariFebruary 4, 2006 6:01 am

Membaca Ruang Batu, sebuah ekperimentasi yang memadukan performance art dan koreografi oleh Eko Supendi (Surakarta)
Wonogiri, 30 Juli 2005

TariFebruary 3, 2006 10:26 am

Takiko Iwabuchi (Japan) mempertunjukkan sebuah koreografi
memikat berjudul Be… dalam Indonesian Dance Festival (IDF).
Jakarta, 16 Juli 2004

Tari 10:23 am

In Love with the Locus, sebuah koreografi karya Min Tanaka (Japan)
Gedung Kesenian Jakarta, 15 Juli 2004

Tari 10:21 am

Koreografer I Nyoman Sura (Denpasar) mempersembahkan Bulan Mati/Laku Sang Bulan.
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Jakarta, 16 Juli 2004

Tari 10:20 am

Ritus Diri, sebuah koreografi Hartati.
Gedung Kesenian Jakarta, 15 September 2004

Tari 10:18 am

Gumarang Dance Company mempertunjukkan koreografi berjudul
Api Dalam Sekam di Gedung Kesenian Jakarta, 20 Agustus 2004

MusikFebruary 1, 2006 10:15 am

Harry Roesli atau lebih akrab dengan sapaan Kang Harry , komponis sekaligus musisi, guru banyak artis pop Indonesia.

TeaterJanuary 29, 2006 1:56 pm

Muhamad Sunjaya alias Kang Yoyon
memerankan sosok Syaikh Siti Jenar yang
dipertunjukkan oleh kelompok teater Actors Unlimited
di Gedung Kesenian Dewi Asri, kompleks STSI Bandung.
Bandung, 25-28 Agustus 2005

Teater 1:53 pm

Jarot Budidarsono menyajikan monolog di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 15 Mei 2004

Teater 1:50 pm

Pertunjukan teater boneka karya Nonot di Sono Seni, Surakarta.
Solo, 19 Pebruari 2005

Teater 1:48 pm

Pertunjukan teater boneka karya Nonot di Sono Seni, Surakarta.
Solo, 19 Pebruari 2005

Teater 1:46 pm

Sebuah monolog Rita Matumona di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Jakarta, 14 Mei 2004

Tari 1:25 pm

Beyond Silence, Ku Min-Sen (Taiwan)
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta
15 Juli 2004