TariMay 17, 2007 7:50 am

* Untuk AnakPeri

Sebuah pesan ditinggalkan oleh AnakPeri di salah satu halaman blog saya. Sejumlah pertanyaan membayang. Jangan-jangan Si AnakPeri bersaudara dengan indang, danyang yang merasuk pada diri Srintil, wahyu ronggeng yang merasuk pada tokoh sentral dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Kang Ahmad Tohari. Atau, barangkali Si AnakPeri cuma ingin mencari jawaban, apakah saya menyaksikan pertunjukan itu?!?

Usai menonton Banjaran Ronggeng Dukuh Paruk, Senin (14/5) malam lalu, sejatinya aku sudah tak hendak menuliskannya di sini. Kemeriahan pertunjukan memang bisa kunikmati. Tapi untuk lebih dari itu, ada keraguan membayang. Saya kuatir tak ada diskusi atau dialog sehat bila saya mengatakan apa adanya, sesuai opini dan impresi saya atas pergelaran koreografi Cahwati itu.

Tak apalah. Biar saya menggonggong, toh para kafilah gerak juga tak akan rugi. Sekeras apapun gonggonganku, pasti tak akan merusak selaput gendang telinga mereka. Gemuruh kanlpot peserta kampanye yang jelas-jelas merusak telinga dan mengusik kenyamanan (dan menyusahkan keluarga penderita sakit jantung) saja dibiarin, kok. So what!!, gitu lo…

Begini, AnakPeri . Menurut saya, sulit untuk membandingkan sosok Srintil dalam karya Cahwati dengan Srintil versi Kang Tohari. Yang saya pahami dari karya Kang Tohari, Srintil merupakan sosok perempuan yang rapuh saat sendiri, namun tampak perkasa saat menari. Ia juga seorang religius. Bagi Srintil, ronggeng bukan sekadar profesi yang memberi kenikmatan duniawi yang nyaris tanpa batas.

Seperti waitress di restoran mewah, ia harus selalu tersenyum kepada para tamu, dan tak enggan meminta maaf ketika melihat gelagat sang tamu kurang berkenan. Profesonalisme harus melekat pada para pelaku bisnis jasa. Begitu pula Srintil. Ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani orang-orang yang mengejar kesenangan. Harta, kuasa, juga kepuasan seksual, sudah pasti akan selalu mengikuti kemanapun ronggeng pergi.

Satu hal yang harus dimengerti, dalam konteks apa harta, kuasa dan kepuasan seksual itu mengikuti. Seorang Srintil, jelas tidak menjadikan ketiga hal itu sebagai obsesi, melainkan konsekwensi. Karena itu, seorang Srintil tidak pernah menyajikan pertunjukan yang dibuat-buat, apalagi sengaja mengeksploitasi tubuh demi memikat penonton. Ia menyajikan gerak dengan kecakapan dan inner beauty yang dimilikinya.

Sebaliknya, justru penontonlah yang secara dengan sengaja mengumbar fantasinya secara liar, sehingga imajinasi lebih menuntun mereka untuk melepas seluruh kain yang melekat pada sang ronggeng. Fantasi dan imajinasi itulah yang kemudian membangkitkan nafsu untuk merengkuh dan memiliki tubuh sang ronggeng dalam kehidupan pribadinya. Maka, menjadi mudah dimengerti kalau mereka tak segan menelantarkan istri dan anak-anak –bahkan kehormatan mereka, dengan cara mengumbar harta mereka untuk memikat sang ronggeng.

Kebaikan Srintil yang berbagi harta dengan para tetangga, impiannya untuk berkeluarga dengan Rasus, lelaki pujaannya, rasanya sudah memberi bukti yang kuat bahwa Srintil bukanlah ronggeng murahan, yang mau mengobral kehormatannya demi kesuksesan duniawi.

Saya kira, inilah pemahaman saya pada sosok Srintil seperti yang dimaui Kang Tohari. Dan, Srintil versi Cahwati, bagi saya hanyalah ronggeng murahan. Untung, Kang Tohari tak jadi datang pada pertunjukan malam itu (dan, kabar bahwa beliau akan datanglah yang membuatku ingin bertemu sekalian menyaksikan pertunjukan itu, setelah empat tahun tak bertemu).

Bila beliau hadir, saya pasti akan ikut larut dalam keharuan… (meski saya yakin, beliau tak akan tersinggung dengan Srintil yang munyal-munyal malam itu. Sudah jelas bagi Kang Tohari, juga saya, Si Ronggeng Srintil menari terakhir kali bersamaan dengan huru-hara PKI versus ABRI pada masa Gestok. Eh, GESTAPU!)

Begitulah gonggonganku, AnakPeri ………….

TariMay 11, 2007 2:23 am


Saya belum mengenal Dedu. Setidaknya sampai aku menyaksikan pertunjukan balet Kemarin, hari ini….. dan esok? di Taman Budaya Surakarta, Kamis (10/5) malam. Asyik. Juga segar. Koreografi Dedu juga menghadirkan banyak kejutan. Setidaknya, itulah pengalaman yang saya rasakan. Barangkali tertarik menyaksikan, Anda masih punya kesempatan. Malam nanti merupakan malam terakhir untuk pergelaran dua malam itu.

Bahwa visualisasi karyanya terasa sangat dipengaruhi gaya Wied Sendjayani, sangat bisa dimengerti. Dedu termasuk murid (dari segelintir orang) pada angkatan pertama Mbak Wied di Sanggar Maniratari. Karena itu, saat seorang teman mengomentari pertunjukan itu dengan menyebut ‘sangat Mbak Wied’, saya memilih membela Dedu.

Saya menyampaikan apologi permisif: karena pertama kali mengenal balet saat nyantrik pada Mbak Wied, maka wajar saja kalau keterpengaruhan itu terasa mewarnai. Apalagi, Kemarin, hari ini….. dan esok? merupakan karya perdana Dedu, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan baru akan tampak pada karya-karya selanjutnya.

Kalaupun ada ‘sisa-sisa’gaya pada karya mendatang pun, bisa saja dikategorikan pada batas kewajaran. Keterpengaruhan itu wajar. Pengidolaan terhadap seseorang yang ditokohkan (biasanya karena kekaguman) tak terasa mengendap sehingga akan menjadi potensi laten yang akan muncul pada suatu ketika. Mugiyono, Bambang ‘Besur’ Suryono dan Fajar Satriadi adalah contoh koreografer Surakarta yang banyak dipengaruhi oleh Sardono W Kusumo. Di Jakarta, Boi G Sakti juga cukup mempengaruhi garapan beberapa koreografer muda.

Sebagai murid Mbak Wied, Dedu termasuk terlambat berkarya. Siko Setyanto, generasi kedua di Sanggar Maniratari bisa disebut lebih berani berkarya dibanding seniornya itu. Bahkan penampilan solo Siko dalam forum emerging choreographers dalam forum Indonesian Dance Festival, memperoleh apresiasi yang bagus dari penonton.

Meski tak terlalu bagus, Kemarin, hari ini….. dan esok? juga tak bisa dibilang jelek. Garapannya bersih (boleh jadi) lantaran didukung materi penari yang cakap dan menguasai teknik, dari teman-temannya satu sanggar. Pertunjukannya jenaka, enak dinikmati, namun tak kehilangan esensi.

Kejutan, misalnya, muncul ketika para penari yang berlarian kesana-kemari, dan meluncur di lantai panggung dengan speed tinggi. Banyak penonton di barisan terdepan kaget, kuatir tertabrak.

Rupanya, semua gerakan sudah terukur. Selamat berkarya untuk Dedu. Jangan ragu dalam mencari jatidiri, meski tak perlu meninggalkan Mbak Wied Sendjayani.

TariApril 30, 2007 6:51 am

Sen Hea Ha
Kesenian sungguh dunia yang unik. Setidaknya, begitulah yang saya pahami, setelah mengenal banyak komunitas dan pelaku seni. Perayaan Hari Tari Internasional di Surakarta pada 29 April lalu, misalnya, dirayakan dengan penuh persaingan –yang menurut hemat saya- tidak bermutu.

Petugas humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, misalnya, mengeluhkan proposal permintaan dana kepada Dinas Pariswisata setempat dikabulkan, namun setelah dana cair justru dialihkan kepada pihak lain, sebuah event organizer yang memang memiliki relasi sangat dekat dengan pejabat Dinas Pariwisata. Oleh sang event organizer, dana itu juga digunakan untuk membuat perayaan Hari Tari Internasional.

Kekecewaan kedua yang dialami ISI Surakarta, mereka gagal acara mencatatkan perayaan berupa pentas tari selama 24 jam pada 29-30 April itu ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Alasannya, “MURI minta duit untuk proses pencatatan itu, sementara kami tak memiliki budget untuk itu,” ujar sang petugas humas itu.

Yang pasti, petinggi MURI akhirnya datang ke Surakarta dan memberikan penghargaan berupa pencatatan dalam daftar rekor Ter…. itu kepada sang event organizer yang berhasil menyelenggarakan pentas Tari Gambyong massal dengan menampilkan 1.000 penari.

Seperti dalam dunia lembaga swadaya masyarakat, sebuah momentum perayaan bisa memiliki status SEKSI atau TIDAK SEKSI. KeSEKSIan itu, jelas merujuk pada besar-kecilnya peluang menggaet dana dari lembaga penyedia dana, apakah itu sebuah kantor pemerintah maupun lembaga donor.

Tapi, begitulah kekuatan uang. Dia luwes, menggoda dan siap mengadu domba kepada siapa saja yang mau menyediakan diri secara sadar untuk ‘terlena’ atau ‘khilaf’.

Masih beruntung, perayaan Hari Tari Internasional di ISI berlangsung cukup meriah. Selama 24 jam penuh, banyak orang berkerumun –meski sebagian besar para pengisi acara dan mahasiswa setempat- di sekitar kampus, tempat berlangsungnya perayaan.

Sayang, sedikit cacat dipertontonkan secara kasat mata di lembaga tinggi kesenian itu. Pertunjukan seorang penampil –kebetulan mahasiswa ISI Surakarta- dirusak oleh sang dosen sendiri. Belum usai Bobby, nama mahasiswa itu, menyelesaikan pertunjukannya, sang dosen sudah menyusul pentas di sebelahnya, sehingga bukan saja penampilan geraknya tak bisa dinikmati, tapi iringan musiknya dikacaukan dengan suara cemeti yang mengiringi penampilan sang dosen.

Satu cacat lainnya, panitia sangat ceroboh mempekerjakan mahasiswanya sendiri dalam hal mendokumentasi dalam bentuk video. Sang kameraman begitu ngawur, masuk dalam stage hanya untuk mengambil detil-detil pertunjukan.

Bersaing Tak Sehat

Mungkin, begitulah cara ISI Surakarta mengingatkan saya untuk semakin teguh agar tak mudah gegabah mempercayai semangat berkesenian mereka…………..

Bantahan:
Heru Prasetya, Ketua Mataya Art and Heritage, event organizer yang selama ini kerap bekerja sama dengan Dinas Pariwisata menemui saya, menyatakan bantahannya, bahwa pihaknya menggunakan dana Dinas Pariwisata Kota Surakarta untuk menggelar tarian 1.000 penari Gambyong bertepatan pada Hari Tari Internasional.

Meski di blog ini tak menyebut nama event organizer yang dikelolanya, ia merasa perlu memberi klarifikasi. “Saya sudah menemui petugas humas ISI Surakarta menjelaskan duduk persoalan dana itu. Saya sudah menegaskan kepada dia, bahwa kami tak memperoleh apalagi menggunakan dana Dinas Pariwisata untuk acara itu,” ujar Heru. (Updated: Kamis, 10 Mei 2007 pukul 15.00 WIB)

TariApril 2, 2007 11:39 am


Spanduk dan poster bertebaran di sekitar Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sepanjang Maret lalu. Tulisannya mencolok, memancing rasa ingin tahu. Reklame itu mengabarkan, akan ada pementasan tari bertajuk Kidung|40||Centhini pada 30 Maret di TBS. Itulah obat, penawar rindu setelah hampir enam bulan tak menonton pertunjukan tari.

Pertunjukan memang bisa dinikmati, setidaknya hingga 10 menit. Adegan percintaan antara Amongraga (diperankan oleh Ronnarong Khampha, dari Thailand) dan Tambangraras (Ni Kadek Yulia, sekaligus koreografer) lumayan bagus. Tak ada sensualitas yang mencolok namun cukup mengena. Apalagi, pelajaran seks yang mistis-agamis a la Serat Centhini –yang dijadikan rujukan ide garapan– memang tak menghendaki kemunculan ekspresi yang serba saru.

Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.

Bahwa Kadek ingin menghadirkan Centhini sebagai sosok penting dalam kisah itu, memang tak bisa lagi dibantah. Tapi, lagi-lagi, Centhini tak berarti apa-apa tanpa kehadiran kedua majikannya itu. Maka sempurnalah Kadek terperangkap dalam jebakan imajinasinya sendiri. Ia lalu terjebak dalam keasyikan bermain-main dengan efek-efek bayangan yang diperankan oleh sejumlah penari, yang entah mereka sedang memerankan siapa. Anehnya, adegan ini terus berulang, berlangsung lamban, bahkan hampir mendominasi seluruh pertunjukan. Dua kain putih yang terbentang sebagai medium melekatnya bayangan, yang sesungguhnya sangat mengganggu. Pada beberapa adegan (penting), kehadiran kain putih itu malah mematikan ekspresi gagasannya sendiri.

Singkat ceritera, pertunjukan itu boleh dibilang gagal. Bagi Kadek sendiri, karya terbarunya itu justru akan ‘mematikan’ namanya sebagai koreografer. Rencana mementaskan karya itu di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada 4-5 Mei mendatang, bisa membalikkan persepsi publik Jakarta, terutama yang pada 2004 lalu pernah menyaksikan pertunjukan Rene-Indahku di Taman Ismail Marzuki. Karya Kadek itu –yang memang bagus, berhasil menyabet koreografi terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta.

Tentu saja, saya ingin mengingatkan Anda, untuk tak terjebak visualisasi gerak yang telah saya bekukan lewat beberapa foto di halaman ini.

Sesungguhnya, saya hanya mengkuatirkan talenta yang dimiliki oleh anak-anak muda seperti Kadek. Dalam lima tahun terakhir ini, frekwensi pertunjukan tari bisa dibilang teramat tinggi. Di Jakarta, Bandung dan Surakarta (untuk menyebut beberapa kota yang saya kenal), nyaris setiap dua bulan ada petunjukan karya-karya baru oleh koreografer muda kita. Namun, yang saya rasakan, terlalu banyak karya-karya prematur yang ‘dijajakan’. Tak ada kedalaman gagasan, begitu pula visualisasinya yang nyaris miskin eksplorasi.

Ada kecenderungan kekeliruan memaknai ‘kemudahan’ memperoleh funding yang mendukung pembiayaan proses-proses kreatif bagi seniman seni pertunjukan, terutama tari. Meski memberi kontribusi yang lumayan, khususnya meningkatkan frekwensi pertunjukan, sesungguhnya kehadiran lembaga penyedia dana menjadi buah simalakama. Manisnya duit telah mendorong kompetisi yang kurang sehat, sebab banyak seniman terbius oleh kemudahan berpentas alias unjuk kebolehan. Sedang pada sisi yang lain, para kurator lembaga pendana masih ‘kurang gaul’. Mereka masih enggan keliling daerah untuk mengamati dinamika berkesenian di berbagai daerah. Kurator yang sebenarnya bisa berperan sebagai ‘pencari bakat’ lebih asyik memotret ‘dinamika’ kesenian lewat media massa. (Celakanya, banyak reporter di berbagai daerah tak memiliki kecakapan dan kecukupan referensi seni, sehingga kerja jurnalis lebih tepat disebut sebagai pelapor sekaligus perekam peristiwa semata!)

Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.

TariMarch 21, 2007 1:56 pm

Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.

Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.

Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.

Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.

Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.

Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.

Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)

TariNovember 22, 2006 5:25 am

Menjadi raja (ideal) itu tidak mudah. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi, karenanya banyak proses mesti dilalui. Seorang raja, tentu harus cakap, bisa membawa diri, berwibawa, dan bisa menjadi manajer yang baik, baik itu dalam lingkup urusan internal kerajaan maupun dalam kaitannya dengan pihak di luar kraton, seperti rakyat atau kerajaan (negara lain).

Untuk menjadi raja Surakarta, konon ada tahapan proses yang lebih unik lagi. Jauh sebelum prosesi penobatan dilakukan, ia mesti melakukan ritual yakni menari sendirian di kamar pusaka. Jenis gerakan apa yang harus dilakukan, cara berdiri hingga ke arah mana telapak kaki diarahkan, semua sudah ada aturannya. Singkat cerita, sebelum jadi raja, seorang pangeran mesti lelaku, supaya kelak bisa mengendalikan emosi dan perilaku.

Setidaknya, begitulah inti pesan tari Panji Sepuh yang bisa ditemukan dalam Wedhataya (wedha berarti kitab, taya merupakan padanan kata gerak/tari), yang diperkirakan dibuat pada masa Pakubuwono X (1866-1939). Adalah Tumenggung Kusuma Kesawa, empu tari Kraton Surakarta yang konon telah mempopulerkan tarian itu lewat metode pengajaran kepada para cantriknya, pada awal 1950-an hingga 1960-an.

Kini, Panji Sepuh sedang ditafsir kembali oleh penyair Goenawan Mohamad menjadi komposisi baru, yang akan dipentaskan di Museum Nasional Singapura, 8-9 Desember mendatang. Bila kitab asalnya menyebut Panji Sepuh sebagai tarian tunggal, Goenawan menambahkan unsur perempuan ke dalamnya. Mungkin, ia terinspirasi oleh perilaku pangeran dan para raja Jawa (khususnya dinasti Mataram), yang selalu memiliki ‘banyak’ istri, juga para perempuan ‘independen’ sebagai ‘lawan main’.

Panji Sepuh versi Goenawan adalah seorang pangeran yang akan naik tahta pada masa ketika kerajaan sudah di ambang keruntuhan, baik secara politis maupun budaya. Karena itu, menjadi raja hanyalah proses menuju kesia-siaan belaka. Predikat raja tak berbanding lurus dengan kekuasaan, sementara bila mengacu pada eksistensi kemanusiaan dalam pengertian hakiki, menjadi raja sama saja dengan menjadi ‘yang lain’, menjauhkan diri dari watak dan perilaku yang seharusnya.

Karena itu, tafsir Panji Sepuh diwakili melalui topeng-topeng aneka rupa, baik yang dikenakan tokoh Panji Sepuh maupun tujuh penari perempuan. Ya, para perempuan itulah yang dalam kehidupan nyata merupakan manusia-manusia terpenjara, yang nyaris tak boleh mewujudkan kehendak/keinginannya sendiri, bahkan untuk hal-hal paling pribadi sekalipun. Lalu, oleh Goenawan, perempuan yang senyatanya sosok yang mudah berganti peran dalam waktu sekejap (seperti dari pelayan menjadi istri dan sebaliknya) itu dibalikkan perannya.

Sisi manusiawi para perempuan dan Panji Sepuh lalu ditonjolkan. Perempuan yang terpenjara digambarkan melakukan hubungan seks sejenis dengan sesama selir (lantaran hanya kadang-kadang saja dipenuhi haknya oleh raja), sementara Panji Sepuh digambarkan sebagai sosok yang sesungguhnya ingin menggunakan haknya secara tak terbatas karena kedudukannya sebagai raja, namun terbentur pada beban-beban moralitas yang juga harus diwujudkannya.

Baik tafsir Goenawan atas Panji Sepuh maupun makna tarian itu sebagaimana tersurat dalam Wedhataya, tak ada salahnya kalau kita menoleh pada situasi kontemporer Kraton Surakarta. Dua pangeran berebut tahta, meski keduanya sama-sama tak memiliki watak, perilaku dan kearifan sebagaimana yang dikehendaki, baik oleh masyarakat atau rakyat yang telah berubah maupun oleh parameter moralitas itu sendiri.

Ibarat rebut balung tanpa isi, berebut tulang, kedua pangeran (yang lantas memiliki dua pusat pemerintahan berbeda), sama-sama ngotot, merasa paling baik dan benar, meski sesungguhnya publik sudah paham kapasitas dan kompetensi masing-masing pihak, termasuk para supporter-nya.

TariJune 6, 2006 10:35 am


Keiko Takeya membawakan tari Passion

Keiko Takeya pernah datang ke Surakarta pada 1993. Ia menampilkan sebuah repertoar tari yang bukan saja indah, namun sarat makna. Dong Feng, judul tari itu, merupakan karya tari modern dengan ruh Jepang. Bukan karena ada Butoh di dalamnya, namun lebih dari itu, Keiko mengangkat vokabuler gerak-gerak tarian tradisional Jepang sebagai idiom visualisasi gagasannya.


Passion, karya Keiko Takeya

Semula, aku mengira Dong Feng sebagai salah satu jenis tarian tradisional Jepang, atau mirip dengan Langendriyan dalam khazanah seni tari Jawa, khususnya gaya Surakarta. Belakangan baru kutahu, Keiko termasuk salah satu seniman tari yang hampir selalu menggunakan ikon-ikon tradisi sebagai materi garapan-garapannya.


Fuji-Musume, tarian tradisional Jepang diperankan oleh Terushi Bando

Tiga belas tahun berlalu, bulan lalu, Keiko kembali hadir di Indonesia. Ia berkeliling ke berbagai kota di Indonesia seperti Surakarta, Yogyakarta, Tegal, Jakarta dan Bandung. Bedanya, dia tak membawakan karya tunggal. Ia seperti membawa misi pertukaran budaya. Beberapa jenis tari tradisional Jepang dia pertunjukkan pula, sekaligus untuk memperkenalkan kepada publik Indonesia. Kiyomoto, misalnya, merupakan salah satu jenis tarian yang pada masa Kaisar Edo (1603-1867) selalu meramaikan festival rakyat di sana.


Kiyomoto, diperankan oleh Mitateru Bando

Satu hal yang mengagetkan, Passion yang diciptakan dan dimainkan sendiri oleh Keiko tak sekuat Dong Feng yang diciptakannya 13 tahun lalu. Mungkin ia beranjak tua, sehingga staminanya tak seprima dahulu. Atau barangkali ia sudah berubah. Setidaknya, nuansa Jepang yang dulu melekat kuat pada Dong Feng, kini sudah terasa hambar.

TariMarch 20, 2006 10:23 am

Koreografer Sardono Waluyo Kusumo melakukan daur ulang karya lamanya berjudul Hutan Plastik di Taman Ismail Marzuki, 15 Oktober 2004. Saat itu, ia berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan, pianis yang sedang naik daun.

Sejatinya, konon Hutan Plastik merupakan garapan teater-tari yang cukup dahsyat. Namun, saat dilakukan kolaborasi dengan Ananda yang juga melibatkan sejumlah waria Taman Lawang, karya itu malah jadi aneh. Kotor di panggung akibat penataan artistik yang kedodoran dan blocking yang serampangan. Boleh jadi, Mas Don, begitu ia akrab disapa, sudah mulai lelah. Beberapa karya-karya terakhirnya hanya merupakan pengulangan seperti Opera Diponegoro dari yang sebelumnya. Dan anehnya, pengulangan itu tak menuai keberhasilan alias tak sesempurna garapan pertamanya.

Entah karena sibuk sebagai rektor atau yang lain, Mas Don memang tampak mulai sulit menelorkan karya-karya tari yang kuat seperti yang sudah dilakoninya…..

TariMarch 2, 2006 9:15 am

Penampilan koreografi Prangbuta karya Eko Supriyanto di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Maret 2004 ini kurang menguntugkan. Karya ini menambah daftar panjang kegagalan korografer muda kelahiran Magelang, Jawa Tengah ini, khususnya dalam menggarap karya-karya tari yang melibatkan banyak penari. Ia masih kelihatan lebih matang dalam menggarap karya-karya tunggal. Selain materi fisiknya, ia juga memiliki kekayaan referensi gerak dan kuat dalam ide-ide garapan.

TariFebruary 17, 2006 6:03 am


Panyot pun Padam

Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi saksi bisu dinamika tari Indonesia. Malam itu, 14 Desember 2004, tujuh koreografer muda tampil sebagai finalis ‘kompetisi’ penciptaan gerak tari. Seperti dapat diduga, ketujuh finalis memang rata-rata masih pantas disebut muda, bahkan dalam pengertian denotatif. Seperti pada fase pertumbuhan manusia, masa muda memiliki banyak ciri-ciri yang khas.


Air Kehidupan

Sifat naif, misalnya, ditunjukkan oleh Aldri (Bekasi). Komposisi Air Kehidupan yang disusunnya berpijak pada vokabuler gerak tari bedhaya, termasuk dalam penempatan blocking lima penarinya dan penggunaan belasan kendi berisi air sebagai elemen artistiknya. Tak ada kedalaman eksplorasi Aldri, terutama terhadap filosofi benda yang dijadikan perangkat artistik. Sifat serupa juga ditunjukkan Lalu Suryadi (Lombok) yang menyajikan Wangsa Menak.


Mikrokosmos

Kecenderungan pamer teknik dan kamus gerak, sangat menonjol karena hampir seluruhnya menyajikan gerak yang mudah dijumpai persamannya dengan khazanah gerak yang pernah disajikan koreografer-koreografer senior lainnya, atau mengambil apa adanya dari vokabuler gerak tari-tari tradisi. Tak ada yang serius mengeksplorasi lebih dalam, bahkan untuk sekadar memodifikasi atau membuat stilisasi gerak. Sudiharto (Yogyakarta) yang mengusung Mikrokosmos, misalnya, sangat kelihatan terinspirasi oleh Penumbra karya Martinus Miroto, yang tak lain adalah guru tarinya di ISI Yogyakarta.


Meraba Raga

Yang menarik perhatian dari forum pencarian bibit-bibit baru itu, adalah tampilnya tiga pencipta asal Solo: Ni Kadek Yulia (Rene-Indahku), Rini Endah (Meraba Raga) dan Danang Pamungkas (Panyot pun Padam). Penampilan ketiganya, selain mendominasi aplaus penonton, juga menyita perhatian para juri yang terdiri dari koreografer Boy G Sakti, Wiwik Sipala dan wartawan Efix Mulyadi.


Rene-Indahku

Bukan hanya kemampuan teknik yang dikuasai seluruh penari pendukung karya-karya mereka, namun ketiga koreografer dari ’satu atap’ –mereka sama-sama berlatar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, itu mampu menyajikan pola gerak dan vokabuler yang beragam, meski tak terlalu baru. Kecenderungan pamer teknik, sudah tak terasa pada mereka. Sayang, tingkat kesulitan teknis yang berhasil ditaklukkan, kekayaan khazanah gerak dan kedalaman tema eksplorasi tema yang tampak pada Meraba Raga, luput dari perhatian para juri. Hingga akhirnya, Danang yag dinobatkan sebagai penampil terbaik.