
Tak cuma piawai menyutradarai film cerita, Garin Nugroho juga pintar bersandiwara soal kisah ranjang. Siapa Siti, perempuan cantik yang diajaknya ke Swiss pada pertengahan Agustus lalu? Menurut penuturan Kang Gareng, eh, Garin kepada saya, Siti itu adalah sosok yang dikenalnya sebagai perempuan anggun. Namun dalam urusan seks, bisa mendua. Bahkan, praktek perselingkuhan pernah dilakukannya di samping suaminya, yang tertidur pulas di ranjang.
Dua wajah Siti yang bertolak-belakang itu, rupanya hanyalah sebutir zarah, debu dunia. Bukan monopoli masyarakat perkotaan, namun sudah menyelusup ke pedalaman. Lelaki atau perempuan, sama saja. Sama-sama memiliki potensi menunjukkan wajah gandanya: baik-buruk bisa saja ditampilkan pada saat hampir bersamaan.
Kembali ke soal Siti, jangan buru-buru berprasangka kalau Siti adalah perempuan selingkuhan Kang Gareng. Kisah seputar ranjang Siti adalah rekaan Mas Garin untuk menandai debutnya sebagai sutradara tari. Dalam karya ini, ia dibantu dua koreografer alumnus UCLA, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto.
Sebagai penikmat seni pertunjukan, karya Mas Garin berjudul The Iron Bed -menurut saya- itu sangat bagus. Meski lama tak sempat menyaksikan pertunjukan tari di Jakarta dan Bandung, saya sangat yakin The Iron Bed akan menyita perhatian media massa dan para kritikus tari. Apalagi, karya perdana seorang sutradara film itu sampai diundang untuk tampil dalam kategori penampilan khusus dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2008, 28 Oktober mendatang.

Bukan hanya karena Garin lebih dikenal sebagai sutradara film dan tidak memiliki catatan perjalanan seni sebagai koreografer sehingga karyanya bakal disorot banyak pihak. Lebih dari itu, karena bagusnya garapanlah yang menurut prediksi saya, bakal menyentak dunia tari di Indonesia.
Sepanjang pengamatan saya, The Iron Bed sangat enak ditonton. Kisahnya mengalir, mudah dicerna, sehingga penonton mudah memahami pesan yang hendak disampaikan Garin. Bahkan, saya berani menyebut The Iron Bed lebih bagus dibanding versi filmnya, Opera Jawa, yan menjadi induk cerita. Maka, tak aneh pula kalau The Iron Bed memukai publik Swiss saat dipertunjukkan dalam Zurcher Theater Spektakel 2008, sebuah festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika.
Mungkin karena tak terlalu banyak pretensi, sehingga Garin tidak terbebani dalam proses penyusunan karya. Sehingga, dari dirinya lahir karya tari yang nyaris sempurna. Padahal, tiga bulan latihan –tiga hari setiap pekan, bukanlah waktu yang memadai untuk menyusun sebuah karya sarat pesan. Enam bulan pun belumlah layak disebut sebagai waktu yang cukup untuk berproses.
Uniknya, tiga pekan sebelum mereka terbang ke Swiss, The Iron Bed belum matang betul. Saat menyaksikan presentasi pertama karya itu di ISI Surakarta, target 70 menit belum kesampaian. Malah, durasinya molor hingga hampir setengah jam. Yang terbayang saat itu, Mas Garin kesulitan memenggal adegan yang tak perlu. Ia larut dalam visualisasi yang memang indah. Bahkan, saat ia meminta komentar, saya menjawabnya secara sinis.

”Saya paham apa yang mau sampeyan sampaikan!” ujar saya.
”Asem! Bagaimana menurutmu? Aku serius,” tukas Kang Garin.
”Saya juga serius, kok. Intinya, saya wis mudheng,” jawab saya.
Dua pekan kemudian, undangan kembali datang. Dengan pembenahan di sana-sini dan memotong adegan yang semula panjang, akhirnya jadilah The Iron Bed sebagai karya tari yang bagus, enak ditonton dan perlu. Saya pun tercengang! Padahal saya tahu, menyutradarai Mas Miroto itu bukan soal gampang.
Melalui tulisan ini, saya sarankan Anda untuk menontonnya. Siapa tahu Anda sependapat dengan saya, bahwa The Iron Bed cukup bisa mengisi keringnya karya-karya tari bagus, yang diciptakan oleh seniman-seniman tari Indonesia, setidaknya sejak lima tahun terakhir.
Update :

Menyaksikan The Iron Bed ini, kita seperti sedang berada di dalam sebuah gedung bioskop. Mata benar-benar dimanjakan oleh visual-visual yang cantik, eksotis, seperti film-film Garin sebelumnya. Rasa ‘Jawa’-nya menjadi kabur, tidak seperti dalam Bulan Tertusuk Ilalang yang sarat unsur bedaya Surakarta (yang dimainkan oleh Mbak Hadawiyah) dan tembang-tembang klasik lantunan almarhum Ki Sutarman.
Jejak Garin sebagai sineas sangat terasa pada penyusunan koreografi The Iron Bed ini. Pendekatan editing pada film layar lebar sangat mendominasi model penyutradaraan. Alhasil, bagi yang tak memiliki referensi langendriyan, maka seseorang seperti dibawa ke alam teater-tari gaya Surakarta itu. Untuk yang film minded, bolehlah Anda mengasosiasikannya dengan film bisu, meski sebagian adegan ada ‘insert‘ tetembangan oleh pengrawit, yang juga masuk ke tengah arena pertunjukan.
Tak tahulah, saya seperti terlalu bernafsu menceritakan The Iron Bed kepada Anda. Habis, baru kali ini saya terpuaskan oleh sebuah pertunjukan tari karya orang Indonesia. Beberapa kali nonton pertunjukan pada event sekaliber Indonesian Dance Festival (IDF) dan Art Summit Indonesia sekalipun, saya baru terpuaskan oleh penampilan Yin Mei, Takiko Iwabuchi, dan Min Tanaka.
[Sejatinya, ada beberapa koreografer Indonesia yang berbakat. Tapi, ya begitulah dunia kesenian kita. Ada beberapa anak muda yang memiliki karya-karya bagus, kadang cuma diikutsertakan dalam showcase atau dimasukkan kategori emerging, sementara yang tua-tua sudah pada kehabisan ide, sehingga karyanya cuma begitu-begitu saja. Kalau kuratornya dibuat variatif antargenerasi, kira-kira kok bakal lebih bagus dinamika kesenian kita. Hehehe…..] Updated: 16 Okt 2008 12:49 PM

Tak apalah. Biar saya menggonggong, toh para kafilah gerak juga tak akan rugi. Sekeras apapun gonggonganku, pasti tak akan merusak selaput gendang telinga mereka. Gemuruh kanlpot peserta kampanye yang jelas-jelas merusak telinga dan mengusik kenyamanan (dan menyusahkan keluarga penderita sakit jantung) saja dibiarin, kok. So what!!, gitu lo…
Saya kira, inilah pemahaman saya pada sosok Srintil seperti yang dimaui Kang Tohari. Dan, Srintil versi Cahwati, bagi saya hanyalah ronggeng murahan. Untung, Kang Tohari tak jadi datang pada pertunjukan malam itu (dan, kabar bahwa beliau akan datanglah yang membuatku ingin bertemu sekalian menyaksikan pertunjukan itu, setelah empat tahun tak bertemu). 
Saya menyampaikan apologi permisif: karena pertama kali mengenal balet saat nyantrik pada Mbak Wied, maka wajar saja kalau keterpengaruhan itu terasa mewarnai. Apalagi, Kemarin, hari ini….. dan esok? merupakan karya perdana Dedu, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan baru akan tampak pada karya-karya selanjutnya. 
Rupanya, semua gerakan sudah terukur. Selamat berkarya untuk Dedu. Jangan ragu dalam mencari jatidiri, meski tak perlu meninggalkan Mbak Wied Sendjayani.
Yang pasti, petinggi MURI akhirnya datang ke Surakarta dan memberikan penghargaan berupa pencatatan dalam daftar rekor Ter…. itu kepada sang event organizer yang berhasil menyelenggarakan pentas Tari Gambyong massal dengan menampilkan 1.000 penari.

Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.
Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.
Menjadi raja (ideal) itu tidak mudah. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi, karenanya banyak proses mesti dilalui. Seorang raja, tentu harus cakap, bisa membawa diri, berwibawa, dan bisa menjadi manajer yang baik, baik itu dalam lingkup urusan internal kerajaan maupun dalam kaitannya dengan pihak di luar kraton, seperti rakyat atau kerajaan (negara lain).
Baik tafsir Goenawan atas 























