TeaterJune 21, 2009 9:30 pm

Urusan mencari visa untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika adalah urusan njlimet, verifikasi yang ekstrahati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan. Apalagi di Kedutaan Amerika di Jakarta, yang dari arah Stasiun Gambir bisa kita saksikan sehari-hari seperti zona perang: kawat berduri, panser dan polisi Indonesia bersenjatakan senapan serbu.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia, musuh utama Amerika sejak Bush berkuasa dan merasa tak punya musuh lagi setelah isu komunis dianggap usang. Apalagi, secara (mungkin) kebetulan, Amerika dan Indonesia telah ‘dipersatukan’ oleh kehadiran musuh yang sama: teroris beraroma Islam. Runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian adalah potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Dan, ruwetnya birokrasi pengurusan visa adalah imbas. Amerika harus hati-hati, jangan sampai kemasukan orang Indonesia, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat. Dan itu pula yang mengilhami Goenawan Mohamad menulis Visa, sebuah naskah drama, yang berpijak pada perubahan sikap staf kedutaan Amerika terhadap calon tamu negaranya.

Maka yang terbayang di benak saya seusai membaca Visa, adalah ruang antrian yang bersih, teratur, dan suasana hening menegangkan. Hal yang sekurang-kurangnya bisa dibaca dari luar tembok pembatas kompleks: antrian panjang, di bawah sengatan sinar mentari, diawasi petugas pengamanan khusus yang disewa kedutaan serta polisi Indonesia bersenjata laras panjang!

***

Namun, bayangan tetaplah bayangan dan harapan akan kebenaran atas suasana serba tegang dan menyeramkan di Kedutaan Amerika, lenyap begitu menyaksikan pementasan Visa oleh Teater Lungid di Taman Budaya Surakarta, 21 Juni, malam. Bangku panjang untuk antri pemohon visa, mestinya jenis statis. Karenanya, sangat mengganggu ketika para aktor memindah kursi-kursi murahan (dan bertolak belakang dengan citra Amerika yang kaya dan moderen) seenaknya, demi blocking yang tampak semaunya.

Ruang tunggu menjadi gaduh oleh dialog antar-pengantri visa, yang keseluruhannya tampak mencitrakan sebagai kelas pekerja rendahan, buruh murah yang diidentikkan dengan TKI. Ya, Tenaga Kerja Indonesia! Padahal, di sana ada pengusaha berdarah Cina dan memiliki stereotip kaya. Juga ibu-ibu yang ingin berkunjung sekadar ingin menengok cucu setelah empat tahun tak bertemu.

Calon pengunjung Amerika, umumnya berbeda dengan calon pendatang ke Malaysia. Kalau tak untuk bekerja, urusan bisnis atau misi kesenian, pakansi, ya itu tadi: menengok cucu atau sanak-kerabat. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia dengan kepentingan nyaris seragam: berharap hujan emas lantaran tak sanggup menghadapi hujan batu di negeri sendiri.

Dalam satu hal, eksplorasi Lungid cukup berhasil, terutama saat menghadirkan monitor besar sebagai pengganti desk staf verifikasi kelengkapan data formulir yang sudah harus diisi sebelumnya oleh para pemohon visa. Tapi sayangnya, ya baru pada sisi itulah tampak kepiawaian Djarot BD sebagai sutradaranya. Dialog pun masih tampak kedodoran, apalagi menilik pada salah satu aktor utama, yang mendominasi suasana, namun dengan intonasi yang selalu keras, dan monoton.

Catatan lain yang menurut saya perlu dilekatkan pada penggarapan Visa, adalah adaptasi naskah dari bahasa Indonesia ke Jawa. Dialog dan sejumlah persoalan yang ingin disampaikan Goenawan Mohamad seperti kehilangan ruh, kurang menyentuh. Bisa jadi, banyaknya pernyataan-pernyataan filosofis dan yang berasosiasi dengan problem-problem kotemporer menyangkut hubungan Barat-Timur terlalu di awang-awang bagi Trisno Santosa sebagai penerjemah dan Djarot yang mengadaptasinya kemudian.

Boleh jadi juga, oleh sebab ketelanjuran persepsi saya terhadap aktor/aktris Lungid, yang tak lain dan tak bukan adalah penerus spirit Teater Gapit, yang lebih akrab dengan problem-problem sosial kaum kelas bawah, kaum urban yang terdesak oleh modernitas. Dan baru kali ini, mereka bertemu dengan naskah yang mewakili dunia kelas atas, yang selama ini telanjur dilawan karena menjadi momor, terutama lewat kerja kreatif mereka memanggungkan naskah-naskah Bambang Widoyo SP yang berpihak pada kaum kalah dan tertindas itu.

Rasanya, bedah naskah dan mencocokkannya dengan situasi yang sesungguhnya dengan kerumitan mengurus visa di Kedutaan Amerika bisa menjadi jalan tengah untuk lebih membumikan naskah Goenawan Mohamad. Apalagi cukup banyak seniman-seniman asal Solo yang beberapa saat terakhir pernah berhubungan dengan Kedutaan Amerika. Juga, orang yang terbiasa berurusan dengan mereka, baik sebelum dan sesudah sejumlah peristiwa yang memupuk paranoia bangsa dan penguasa Amerika. Prinsipnya, menempatkan riset dan observasi sebagai hal penting, apalagi untuk bentuk garapan realis.

Dua bulan masih cukup untuk membuat perubahan-perubahan, sebelum pementasan Visa yang sesungguhnya dilangsungkan di Salihara, di kompleks ‘kerajaan’ baru Goenawan Mohamad dan teman-teman dalam menggiatkan kegiatan-kegiatan kultural dan humaniora di Jakarta. Untuk pementasan kali ini, bolehlah kita terima (seperti yang mereka niatkan), sebagai ajang uji coba.

Semoga, masih ada perbaikan sehingga proses penggarapan yang telah berlangsung tiga bulan sebelumnya, tidak menguap sia-sia…..

TeaterJuly 2, 2008 12:14 pm

Penggemar drama modern berbahasa Jawa, kini bisa menarik nafas lega. Pementasan TUK di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta, 26-28 Juni lalu, sekaligus menandai era baru kelanjutan Teater Gapit yang sempat mati suri, dengan nama baru: Teater Lungid. Beberapa aktor muda bergabung, namun personil lama masih mendominasi sehingga ruh Gapit nyaris tak berubah.

Pemakaian nama baru, kata aktor kawakan Jarot Budi Dharsono, semata-mata untuk membebaskan paguyuban seniman itu dalam mengembangkan kreatifitas mereka. “Kami tidak ingin berhenti pada pemanggungan naskah-naskah almarhum Kentut (Bambang Widoyo SP, sutradara dan penulis naskah Gapit, Pen.) saja. Kami akan terbuka terhadap lakon-lakon baru, sepanjang spiritnya masih sama,” ujar Jarot.

Lungid adalah kosa kata Jawa yang berpadanan dengan landhep, tajam. Kepekaan rasa dan ketajaman indera itu pula yang selama ini menjadi ciri khusus naskah-naskah Kentut. Problem-problem sosial, termasuk benturan budaya akibat kuatnya pengaruh modernisasi, selalu menjadi fokus bahasan lewat tujuh naskah yang telah dibuatnya: BRUG (1982), STUP atawa Suk-suk Peng (1983), ROL (1983), LENG (1985), REH (1986/1987), TUK (1989) dan DOM (1990).

TUK yang dipentaskan akhir bulan lalu, misalnya, merupakan potret keresahan di perkampungan padat, kumuh, yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang desa yang mengadu nasib di kota. Di perantauan itu, mereka hidup secara magersari alias hidup menumpang pada Den Darsa, seorang duda kaya nan dermawan. Di pekarangan itulah, mereka lantas beranak-pinak, hidup turun-temurun.

Harmoni dan solidaritas sosial yang telah lama mapan mulai terkoyak. Isu kedatangan investor properti yang kompleks itu merebak melalui Menik (diperankan Yasinta). Menik, pengganti sang ibu sebagai penarik uang sewa ‘rumah’ warga magersaren, yang tak segan mengancam mengusir para penunggak.

Sikap galak Menik lantas berbuah gugatan dan omelan. Menik diragukan keabsahannya sebagai keturunan langsung Den Darsa lewat hubungan gelap dengan sang ibu. Sementara sang ibu, sejatinya juga warga magersaren, bekas ledhek jalanan yang hamil entah dengan siapa, namun berhasil memaksa Den Darsa menikahinya. Alhasil, Menik merasa sebagai pewaris yang sah atas tanah peninggalan Den Darsa, yang mati ngenes saat ia baru berusia tujuh bulan.

Hasil othak-athik gathuk, ilmu yang menghubung-hubungkan terkaan dan prasangka seolah memperoleh pembenaran saat menjumpai bahwa Soleman (Jarot BD) –seorang makelar yang juga tinggal di sana, ikut-ikutan menawarkan ganti rugi kepada para tetangganya.

Adalah Mbah Kawit (Wahyu ‘Inong’ Widayati), penghuni tertua di kawasan itu yang selalu mengingatkan kebaikan-kebaikan semasa hidup Den Darsa kepada tetangganya. Mbah Kawit pula yang pertama kali merasa bakal terjadi sesuatu di antara mereka. Dengan bekal ilmu klenik Jawa yang kental, ia menghubungkan banyak kejadian-kejadian tak normal sebagai pertanda akan datangnya disharmoni.

Ingatan pun tertuju pada tindakan Soleman yang mengencingi sumur, sesaat setelah ia mengetahui ayam jago kesayangannya mati akibat kecebur di sumur satu-satunya itu. Sumur, adalah tuk, sumber air, yang berarti pula simbol sumber kehidupan. Di sekitar sumur, kebersamaan terbangun, persaudaraan erat terikat. Semua bergantung dan bermuara pada tuk.

Ketika simbol rejeki dan harmoni kehidupan ternoda, maka petakalah yang muncul. Mbah Kawit berteriak histeris. Ia melihat api mulai menjalar dari rumah-rumah kumuh mereka. Air yang diminta untuk menyiram tak kunjung datang. Penghuni gaduh, saling menyalahkan. Harapan pun sia-sia, kawasan ludes karena lonceng Udan Arum tak kuasa menghadirkan hujan, sementara pusaka Singkir Geni tak bisa serta merta mematikan api.

***

TUK adalah empati dan advokasi Kentut pada kaum pendatang tak berdaya, yang selalu digusur oleh beragam kepentingan dan kedigdayaan kuasa uang. Kebakaran atau pembakaran nyaris sama dengan penggempuran dengan buldozer, yang sering ditayangkan di televisi. Hasilnya sama: semua rata dengan tanah, semua meratap kehilangan harap.

Dan TUK yang disutradarai Pelog Trisno Santoso kali ini, nyaris sama dengan apa yang dilakukan mendiang Kentut. Suasana bebrayan mereka masih terasa, semangat meneruskan obsesi Kentut lewat Gapit pun masih membara. Kalaupun harus menggunakan nama Lungid, bukan Teater Gapit Jilid Dua, semata-mata karena mereka ingin lebih leluasa mengembangkan budaya Jawa lewat drama, dan karya sastra.

TeaterMarch 1, 2006 6:59 am

Teater Ruang, Solo mempertunjukkan lakon Dudak alias Dunia Dalam Kardus di Taman Budaya Surakarta, pertengahan Desember 2005. Menurut penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan itu, Joko ‘Bibit’ Santosa, Dudak diilhami oleh pleidoi Soekarno yang dikenal dengan buku ’supertebalnya’ (?), Indonesia Menggugat. Naskah saduran itu sesungguhnya menarik dan relevan dengan situasi penindasan sosial-ekonomi-politik yang terjadi di Indonesia kini.

Sayang, kelompok ini gagal mengkomunikasikan gagasan itu. Seandainya eksplorasi artistiknya matang, kardus-kardus yang dijadikan properti utama itu akan menguatkan visualisasi simbol penjajahan ekonomi. Penonton pun, akan menjadi dimudahkan mengikuti alur cerita yang disajikan dalam dialog-dialognya yang sangat panjang dan cenderung menyesatkan.

TeaterFebruary 27, 2006 8:48 am

Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.

TeaterFebruary 23, 2006 9:53 am

DA-M Theatre dari Jepang ini termasuk kelompok dengan produk kerja teater yang ‘mencerdaskan’ aku pribadi. Memang, aku sulit memahami jalinan cerita yang coba dirajut dan mereka beri label Aruku itu. Tapi, aku bisa menikmati pertunjukan mereka, sajian tata artistik yang diperkenalkannya lewat tabung-tabung neon berserakan dan intensitas gerak para pemainnya. Sungguh, aku merasa masih lebih bingung menikmati pertunjukan Mas Putu Wijaya.

TeaterFebruary 20, 2006 6:40 am


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Teater Garasi, Yogyakarta boleh disebut sebagai kelompok teater yang paling berpengaruh di Indonesia pada kurun 2000-an. Bukan sekadar tingkat pencapaian artistik semata yang menjadikan karya-karya Garasi mengundang decak kagum para publik seni Indonesia dan mancanegara.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Keseriusan anak-anak muda –yang dipimpin Yudi Ahmad Tajudin alias Ogleng, dalam menyikapi kesenianlah yang menjadikan kelompok ini laris diundang tampil di luar negeri. Dalam menyiapkan sebuah garapan, misalnya, mereka rela menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menyiapkan naskah dan melakukan riset pendukung untuk memperkaya konsepnya.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Tak hanya riset pustaka, kelompok ini juga aktif mendiskusikan temuan mereka dengan sejumlah pakar, pelaku sejarah atau saksi peristiwa, selain antar-mereka sendiri: para aktor, kru artistik, penulis naskah dan sutradara. Yang paling tampak nyata menyita energi adalah ketika mereka menggarap lakon Waktu Batu, yang hingga repertoar Waktu Batu #3 (2004), mereka memerlukan waktu riset hingga lebih dari tiga tahun.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Sama dengan dua repertoar sebelumnya, Waktu Batu #1: Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (2002) dan Waktu Batu #2:Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah (2003), Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu masih mendasarkan pada tiga tema dasar, yakni waktu, transisi dan identitas. Kegelisahan mereka akan waktu ditelusuri melalui riset dan reinterpretasi atas teks mitologi, yang dalam hal ini memfokuskan ruwatan Murwakala, yang dalam kosmologi Jawa diwujudkan dalam upaya-upaya menolak bala.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Sementara sejarah dijadikan sebagai acuan untuk membaca transisi dalam berbagai aspek kebudayaan manusia untuk menemukan identitas, yang potretnya bisa ditemukan pada kompleksnya problema modernitas di Indonesia. Maka, tak aneh lagi bila Teater Garasi dengan Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu ditunjuk sebagai ‘wakil teater’ Indonesia bersama Teater Kubur (Jakarta) untuk tampil dalam Art Summit Indonesia IV di Jakarta, akhir September 2004 bersama sejumlah kelompok-kelompok kesenian (teater, tari dan musik) papan atas dari berbagai negara.


Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004

Teater Garasi yang semula adalah Unit Kegiatan Mahasiswa di Fisipol Universitas Gadjah Mada, bisa disebut sebagai salah satu dari sedikit kelompok teater kampus yang berhasil membangun identitas, dan sukses dalam mensejajarkan diri dengan kelompok-kelompok teater ‘profesional’ papan atas di Indonesia. Maka, bukan hal aneh kalau karya yang sama diundang untuk dipertontonkan dalam Insomnia 48 di The Art House at The Old Parliament House, Singapura, sebulan kemudian.

TeaterFebruary 18, 2006 7:27 am

Wawan Sofwan adalah aktor tulen. Ia mematangkan talenta keaktorannya di Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater yang pamornya dan reputasinya belum tertandingi dalam hal penyutradaraan naskah-naskah realis. Dari bekal itu, kini ia memilih mengembangkan format pertunjukan ‘serba tunggal’ seperti monolog, monoplay atau drama-reading lewat MainTeater, sebuah organisasi ramping yang terdiri para penggiat seni pertunjukan, khususnya teater di Bandung.

Kontrabass hanyalah salah satu dari sekian karya pertunjukan yang disutadarai sekaligus dimainkannya sendiri, tak terbatas di Bandung dan Jakarta, namun hingga ke beberapa pusat kesenian di Eropa. Pertunjukan yang mengangkat karya Patrick Süßkind berjudul Der Kontrabass di GoetheHaus, Jakarta 9 Maret 2004 lalu, merupakan salah satu unjuk kemampuan Wawan dalam akting tragikomedi tentang sosok lelaki pecundang.

Kontrabass, berkisah tentang sosok musisi yang memainkan kontrabass dalam sebuah kelompok orkestra dengan latar belakang Jerman tempo dulu. Lelaki itu, piawai membawakan komposisi karya Mozart, Beethoven, Schubert dan banyak lagi, seperti Cosi van tutte atau semacam Symphony no. 5. Tapi, ada konflik pada dirinya, yang mencintai Sarah, seorang penyanyi sopran di kelompoknya. Harga dirinya terusik, karena ia merasa perannya sebagai pemain kontrabass tak diperhitungkan. Sementara ia berkeyakinan, harmoni sebuah orkestrasi menjadi mustahil bila terdapat penyimpangan dari salah satu atau lebih instrumen musik yang dimainkan.

TeaterFebruary 12, 2006 4:53 pm

Teater Koma, Jakarta mementaskan lakon Republik Togog di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 31 Juli 2004

TeaterJanuary 29, 2006 1:56 pm

Muhamad Sunjaya alias Kang Yoyon
memerankan sosok Syaikh Siti Jenar yang
dipertunjukkan oleh kelompok teater Actors Unlimited
di Gedung Kesenian Dewi Asri, kompleks STSI Bandung.
Bandung, 25-28 Agustus 2005

Teater 1:53 pm

Jarot Budidarsono menyajikan monolog di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 15 Mei 2004

Teater 1:50 pm

Pertunjukan teater boneka karya Nonot di Sono Seni, Surakarta.
Solo, 19 Pebruari 2005

Teater 1:48 pm

Pertunjukan teater boneka karya Nonot di Sono Seni, Surakarta.
Solo, 19 Pebruari 2005

Teater 1:46 pm

Sebuah monolog Rita Matumona di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Jakarta, 14 Mei 2004