Peristiwa, Uluk SalamAugust 1, 2009 8:51 am

Melalui posting ini, saya beritahukan kepada Anda sekalian, bahwa terhitung sejak Juli 2009, saya menempati alamat baru: http://blontankpoer.com/

Rumah baru itu merupakan penyatuan dari tiga blog yang saya kelola, dimana dua yang lain, yakni:

1. http://solo.dagdigdug.com/ yang merupakan panduan bagi yang ingin jalan-jalan ke Solo dan sekitarnya, dan

2. http://caturanoragawe.dagdigdug.com/ yang tak lain adalah blog berbahasa Jawa

Saya tunggu kehadiran Anda di rumah baru saya, nikmati foto-foto yang (siapa tahu) Anda suka.

salam,
blontank poer

PeristiwaFebruary 14, 2009 3:27 pm

Sepulang Jum’atan, saya mampir di warung tempat teman-teman biasa nongkrong. Belum sempat duduk, seorang teman mengajak motret perayaan Hari Kasih Sayang di sebuah supermarket. Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah unjuk rasa menentang perayaan Valentine’s Day juga terjadi di Solo, Jumat siang itu.

Saya memilih yang pertama. Menyaksikan, apalagi meliput ajakan kedua, tak menarik bagi saya. Mereka punya sikap, demikian pula saya.

Diselenggarakan oleh sebuah komunitas gereja, perayaan itu cukup unik. Pesertanya orang-orang lanjut usia, bahkan ada yang untuk berjalan pun harus ditopang tongkat, juga kotak penyangga. Kehangatan dan kasih sayang mereka terpancar. Sebagian bahkan menangis ketika pasangannya menyatakan cinta kasih (dan suka duka hidup) mereka dengan pengeras suara, dan di depan banyak orang.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan ungkapan kasih sayang seperti apa yang nantinya akan saya saksikan. Sekadar peluk cium, atau malah ada yang bergaya ala teenagers nan metropolis: lips kissing.

Macam-macam rupanya. Ada perempuan yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara mengelap wajah pasangan dengan sapu tangan. Ada yang menuntun istrinya, jalan pelan-pelan karena nenek renta sudah tak sanggup tegak menapak red carpet, arena utama kontes pengungkapan kasih sayang.

Saya tersenyum geli, kadang tergelak menyaksikan sebagian ulah para manula yang tampil sambil bercanda. Tapi juga iri, sebab saya merasa bukanlah seorang lelaki yang romantis. Mungkin ini kelemahan seorang yang baru menapaki jalan baru, meninggalkan gaya hidup bohemian yang lama saya jalani.

Kalaupun saya tak merayakan Valentine’s Day, itu lebih karena hati kecil belum bisa menerima. Nalar juga menggiring saya pada kesadaran, bahwa kasih sayang yang berbeda, yang penuh kejutan, tak perlu dibuktikan dengan perayaan sekali dalam setahun itu. Bukan lantaran agama, bukan pula oleh sebab sentimen budaya.

Jujur, saya tak suka dengan gerakan menentang perayaan Valentine’s Day. Karena itu, saya juga akan ikut menentang, bila ada kelompok yang memaksakan kehendak, lalu melibatkan instrumen negara untuk turut campur pada wilayah privat dengan cara membuat kebijakan pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang.

Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Begitu Allah memerintahkan umatNYA agar menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan dan keragaman. Karena Islam, maka saya percaya dan menjalankan sepenuhnya. Islam juga menyuruh agar manusia saling mengasihi dan menyayangi, terhadap sesama, juga yang berbeda. Terhadap alam saja disuruh Tuhan untuk merawat, apalagi sesama manusia?!? Begitulah keyakinan saya.

Dari Valentine’s Day, justru saya menemukan kaca. Cermin untuk melihat diri saya, yang ternyata bukanlah orang yang romantis. Menyatakan kasih sayang kepada istri pun, saya masih sering kedodoran. Hehehe…..

Happy Valentine, pakDHE……….

PeristiwaFebruary 8, 2009 3:01 pm

Memarut kelapa itu asyik, meski bisa mendorong mulut jadi berisik kalau jari tergores lantaran kurang hati-hati. Saya baru tahu, ternyata ada trik khusus dalam memarut kelapa. Arah parutan harus berbeda, antara untuk dibuat santan atau untuk bikin srundeng alias abon nira.

Kalau saja hujan masih menimpa Surakarta dan sekitarnya, mungkin tulisan semacam ini tak akan pernah ada di blog saya. Langit yang cerah sejak Jumat sore membuat saya tak punya alasan lain untuk tidak pulang kampung, sampai akhirnya saya harus menunjukkan solidaritas saya, mencungkil lantas memarut kelapa. Tengah malam itu, saya harus menemani istri memasak, membuat hidangan bersahaja untuk sebuah rapat kampung esok hari.

Malam itu, istriku memerlukan santan. Baru satu teratasi, ibuku menyela. Mengingatkan akan arah parutan agar saya tak salah. Karena akan diperas untuk memperoleh santan, bidang putih harus berada di bawah. Sebaliknya, bidang kekuningan alias kulit kelapa harus berada di bawah bila ampas hendak di-srundeng-kan.

Tapi, bukan soal parut-memarut yang menarik. Lebih dari itu, justru pengetahuan baru terkait dengan kegunaan hasil parutan, sekaligus bangkitnya kenangan lamalah yang saya dapat. Memori jadul muncul kembali.

Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya paling suka di dapur. Membuat telor dadar dan telor mata sapi adalah kesukaan saya, selain mengiris tipis-tipis beberapa biji kentang sebelum saya goreng lalu saya simpan dalam kaleng biskuit. Satu kaleng biskuit penuh kentang, biasanya akan habis dalam dua hari. Agar crispy, saya dikasih tahu bapakku agar direndam beberapa saat terlebih dahulu ke dalam banyu injet, air kapur.

Keasyikan suasana dapur itu terus ada dan sering saya lakukan hingga kini. Memasak mi instan menjadi mahir, apalagi sejak berstatus sebagai anak kos, 22 tahun silam. Selain, oleh sebab dipaksa keadaan.

Bikin wedang kopi dan teh, saya juga berani mengklaim sebagai rada jagoan. Hehehe… Saya punya resep menyeduh kopi menjadi lebih enak meski dengan kualitas kopi yang pas-pasan. Meramu beberapa merek teh pun saya bisa, sebab banyak teman berkomentar enak seusai menyeduh teh buatanku (bisa jadi, mereka berbohong karena tak enak hati).

Kembali ke urusan parut-memarut kelapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika saya menyantap sisa-sisa parutan. Uenak dan……

PeristiwaDecember 3, 2008 7:12 am

Seumur-umur, baru sekali itu saya melihat bulan tersenyum begitu indahnya. Tulus, tak ada yang disembunyikan. Dengan posisi melintang, bentuk sabit sang bulan menyerupai bibir, yang indahnya tak ditemukan pada artis manapun yang film atau sinetronnya pernah saya tonton.

Dua bintang yang kebetulan bertengger di atasnya, menyerupai mata yang tak kalah indahnya. Kedua mata itu menyempurnakan senyum sang bulan, mengawali bulan Desember, yang saya harap membawa ceria. Kebetulan, ia menyapa tepat pada tanggal 1, sejak menjelang magrib hingga beberapa saat selepas waktu isya.

Saya yang ketika itu sedang uring-uringan, dibuat tak berdaya ketika istriku berteriak histeris. Menjelang kami pergi jalan-jalan, ia menunjuk kolaborasi bulan-bintang, seraya mengejekku: “Orang, kok tak pernah tersenyum. Lihat tuh, si bulan!”

***

Kita tahu, Desember lantas menjadi bulan aneh dalam enam tahun belakangan. Sejak peristiwa Bom Bali 2002 (menyusul tragedi gedung WTC di New York dua tahun sebelumnya), lembaga kepolisian dan intelijen, dari Jakarta hingga Washington tak pernah alpa mengingatkan betapa Natal dan Tahun Baru adalah saat-saat krusial. Para menteri luar negeri –terutama negara-negara barat, juga begitu kompak mengingatkan warganya yang ingin pelesiran, kalau perlu dalam bentuk travel warning.

Desember lantas berubah menjadi bulan suram bagi siapapun. Semua persoalan seperti ditarik pada situasi yang saling berhadapan, bahwa Islam dan Kristen adalah musuh. Usaha-usaha kerjasama antarbangsa dan antarmasyarakat yang selama ini sudah mengabaikan unsur-unsur primordialisme, seperti dipancing dengan stimulus berupa pesan singkat: ‘Awas Ada Islam!’

Siapa yang sejatinya berkepentingan dengan situasi ‘ketidakrukunan’? Saya, kok justru curiga kepada para pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab pada penciptaan rasa aman, baik dalam sebuah negara maupun antarbangsa. Intelijen, sebagai institusi pengumpul data kecenderungan keamanan, saya yakin telah bekerja profesional. Persoalannya, bila analisis intelijen dipublikasikan dengan kemasan pesan menyeramkan.

Aparat keamanan, mestinya tak perlu membawa publik ikut serta dalam wilayah kerja dan tanggung jawab mereka. Pajak dan kewajiban-kewajiban lain yang sudah ditunaikan oleh warga negara, sudah seharusnya ditukar dengan hasil kerja yang bermutu, yang menenteramkan oleh penyelenggara negera melalui para aparaturnya.

Tentu, kalau kita sepaham, bahwa ketidakamanan, instabilitas dan semacamnya tidak boleh dimanipulasi sebagai sebuah proyek. Kita tahu, instabilitas dan kekacauan sangat mudah melahirkan ‘pahlawan’ selain memberi peluang bisnis persenjataan, apapun bentunya.

Saya percaya, ketika tatanan sebuah bangsa sudah mapan dan warganya sejahtera, tak bakal ada peluang munculnya keributan. Protes, apapun bentuknya, biasa dikelola menjadi seolah-olah berdasar, sepanjang klop dengan alasan pembenar.

Saatnya kita tersenyum, menyongsong peradaban lebih damai dan adil. Sehingga, kombinasi bulan dan bintang bisa menghasilkan senyum tulus, damai dan penuh kasih. Jangan lagi bulan-bintang (yang kerap diasosasikan dengan Islam) menjadi momok bagi umat Kristiani, atau apapun latar belakang agama, kultur, ras dan semacamnya.

Biarkan umat Kristiani merayakan Natal dengan damai dan dalam kasih Tuhan, tanpa ditakut-takuti dengan ancaman si bulan dan si bintang.

PeristiwaOctober 12, 2008 8:41 am

Alhamdulillah, telepon genggam saya jadi baru kembali. Saya memperoleh segalanya dari Mas Mansyur, pria berdarah Jawa-Kalimantan yang sangat baik hati. Kecuali cover depan yang imitasi, semua saya peroleh versi original-nya. Dia pernah bersinggungan dengan pemasaran telepon genggam asal Perancis itu, dan kini seperti jadi ketua penggemar Alcatel di Indonesia.

Selain saya, dia juga pernah mengerjakan perbaikan dan jasa lainnya dari pengguna Alcatel dari berbagai kota, tak terbatas Jakarta. Ada dari Surabaya, ada pula yang dar Jambi, nun di seberang lautan sana. Tak cuma asyik dan ramah, Mas Mansyur juga baik hati. Saya diberinya headset baru, asli bikinan Alcatel pula. Katanya, dia masih punya 150 biji!

Sejatinya, dua tahun silam saya sudah sms-an dengannya, namun tak kunjung ada kecocokan waktu bertemu. Barulah Sabtu (11/10) kemarin, saya sengaja menjumpainya di daerah Sunda Kelapa. Kebetulan, Alcatel seri OT-535 yang saya pakai sejak delapan tahun silam itu tak bisa digunakan untuk panggilan keluar. Incoming call pun tak pernah nyambung. Praktis, hanya bisa untuk kirim-terima pesan pendek.

Di Solo, tak satu pun tukang reparasi yang sanggup. Jangankan memperbaiki, membuka casing pun tak ada yang berani. Jadi, Mas Mansyur bagai juru selamat saya. Saya tak bisa memindahkan data-data di dalamnya ke komputer, sebab tak punya kabel datanya. Kebetulan, saya tak bisa mengoperasikan fasilitas infra merahnya. Maka, lengkaplah penderitaan saya bila telepon jadul itu sampai almarhum.

Asal tahu saja, 800 memori telepon dan data pendukungnya tak bisa disebut sedikit. Apalagi, satu entry nama dilengkapi 23 opsi nomor telepon utama, kantor, rumah, alamat (rumah/surat elektronik), homepage, dll. Pokoknya, rambut bakal memutih bisa sukses memindahkan semua data di dalamnya secara manual.

Rupanya, penyebab rusaknya telepon saya hanya sederhana: terjadi crash program antara software pesawat dengan SIM Card. Tak lebih dari 10 menit, telepon saya berfungsi kembali.

Selebihnya, pertemuan pertama yang berlangsung hampir dua jam di sebuah rumah makan Padang itu sangat mengasyikkan. Semua aksesoris asli dibawanya, dan saya bisa membelinya dengan harga sangat murah. Termasuk, sebuah baterai cadangan yang juga asli punya. Masih baru pula!

Sayangnya, Mas Mansyur berhati terlalu baik. Untuk membuat baru telepon saya, dia hanya meminta biaya pengganti sebesar Rp 150 ribu. Sebagai bentuk apresiasi kepuasan, dia tak mau menerima ongkos tambahan. Sebaliknya, saya malah diberi headset secara cuma-cuma. Aneh!

Bila mengacu pada hukum pasar, mestinya dia bisa menjualnya dengan harga mahal. Apalagi, telepon genggam keluaran Alcatel sudah tak beredar lagi di Indonesia, sehingga barang yang saya punya pun masuk kategori langka….

Matur nuwun, Mas Mansyur….. Kini, telepon saya sudah tak bisa diremehkan teman-teman saya lagi. Dulu, setiap diejek, saya selalu bilang bahwa telepon milik saya itu sangat Islami. Akronimnya asyik, Alcatel = Alhamdulillah Kayak Telepon!

PeristiwaApril 17, 2008 1:57 pm

Jalan raya adalah cermin peradaban manusia. Kadang kelucuan kita terpampang di sana. Begitu pula kedewasaan seseorang, mudah ditemukan di jalan raya.

Di jalanan Jakarta yang riuh, pengemudi saling sodok. Untuk sampai di tempat tujuan tepat waktu, dijadikan dalih untuk mengabaikan tata krama berlalu-lintas. Mikrolet, bus kota, mobil pribadi dan sepeda motor bagai berebut lahan. Kemacetan timbul karena orang cenderung egois, enggan berbagi dengan pengguna jalan lainnya.

Penyakit demikian, rupanya tak hanya ada di Jakarta. Di Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, misalnya, orang biasa berdesak-desakan saat naik kendaraan umum. Meski banyak angkutan sejenis mengantre, calon penumpang tetap saja tak sabar menanti giliran. Pengemudi juga merasa diuntungkan lantaran jejalan penumpang. Ora urus, tidak peduli! Termasuk soal keselematan yang menjadi hak semua orang.

Di Giriwoyo, Wonogiri, saya juga menjumpai hal serupa. Puluhan pelajar SLTP berdesak-desakan di atas mobil bak terbuka. Sepertinya, mereka bukan sekadar nebeng. Sebab, lama saya ikuti, mobil itu tak kunjung berhenti. Mobil berbelok ke satu arah, menuju pedesaan, tempat para pelajar itu berasal.

Di Baturetno, masih Kabupaten Wonogiri, saya menjumpai seorang anak yang membonceng sepeda motor pada seorang pedagang mainan anak-anak. Posisinya sama dengan seorang bocah perempuan yang duduk membelakangi sang ayah, di atas sepeda motor sepulang mencari rumput pada suatu petang, di Klaten.

Bagi saya, kedua orang tua itu pantas disebut pembunuh berdarah dingin. Sadar atau tidak, perilaku berlalu lintas yang demikian berpotensi mencelakai orang lain. Pengereman mendadak atau tancap gas secara tiba-tiba merupakan peristiwa lumrah di jalan raya, dan bisa saja tindakan demikian merupakan refleks semata saat menyikami ‘dinamika’ di jalan.

Andai tancap gas tiba-tiba, kedua pembonceng bisa terjatuh karena kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba pula. Mengacu pada hukum gaya (seperti kata guru fisika SMA dulu), bila pembonceng terjatuh, maka ia akan mengikuti arah laju kendaraan. Artinya, bisa saja kepala bagian belakang yang akan terlebih dahulu membentur aspal yang keras. Kita tahu, otak kecil yang menjadi organ vital, rentan pada benturan.

Masih lebih menghibur tindakan awak truk (yang saya jumpai di Klaten), yang memanfaatkan angin untuk mengeringkan, atau sekadar mengusir bau badan yang telanjur melekat pada pakaian yang semula dikenakan. Daripada menjemur di rumah, yang entah kapan bakal sampai, mendingan memanfaatkan tali pengaman muatan sebagai jemuran berjalan.

Jalan raya, memang pantas disebut sebagai cermin kita yang senyatanya. Beradab atau tidaknya seseorang, bisa dilihat dari perilakunya di jalan raya.

PeristiwaDecember 31, 2007 12:45 pm

Konversi lahan di lereng Gunung Lawu menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah, sehingga membuat sejumlah kawasan dilanda bencana tanah longsor. Perlu penelitian lebih mendalam, apakah meningkatnya eksploitasi akar pakis yang banyak dikonsumsi sebagai media tanam anthurium memiliki kontribusi kerusakan lingkungan.

Longsor di Ledoksari, Tawangmangu merenggut 34 nyawa. Pada waktu yang nyaris bersamaan, pada Rabu, 26 Desember, longsor serupa terjadi di enam kecamatan lainnya di Kabupaten Karanganyar, dan menewaskan 32 orang. Bupati Rina Iriani dan seluruh warganya berduka.

Sejumlah longsoran agak besar, terutama di Karangpandan, membuat akses transportasi dari Tawangmangu ke Karanganyar dan kota-kota lain di sekitar Surakarta terhambat. Selama dua hari, distribusi sayuran dari petani Tawangmangu ke pasar-pasar di sejumlah kota, ikut terganggu. Apalagi, beberapa longsoran kecil juga terjadi di jalur alternatif lewat wilayah Kecamatan Matesih.

Peristiwa longsor di belasan tempat itu mengingatkan saya pada peristiwa longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, dua tahun silam. Di dua lokasi itu, selain banyak perbukitan dengan tebing curam, tanaman keras nyaris tiada. Karena itu, tak ada akar kuat yang sanggup menahan pergerakan tanah manakala curah hujan tinggi. Air tak bisa diserap tanah, sedang tanah di permukaan yang gembur mudah larut bersama derasnya air.

Di sekitar Tawangmangu, misalnya, kini tak banyak lagi pohon pinus. Hijaunya bukit-bukit di sana lebih disebabkan oleh suburnya tanaman jagung, yang menjadi sumber ekonomi sebagian besar penduduk. Juga oleh berbagai jenis tanaman hias yang memang dibudidayakan.

Saya pun teringat kata-kata Pak Ginting –seorang pengusaha anthurium di Cemani, Sukoharjo, dalam sebuah percakapan ringan, dua bulan silam. Ia bertutur, eksploitasi tanaman pakis yang tak terkontrol, akan membahayakan keseimbangan lingkungan di sekitar Gunung Lawu. Ia menunjuk contoh, banyak warga di lereng Lawu, terutama di kawasan atas, banyak berbisnis batang pakis dalam beberapa tahu terakhir. Volume perdagangannya pun terus berlibat seiring dengan booming bisnis anthurium.

Andai benar kata Pak Ginting, dimana tanaman pakis memiliki peran penting dalam menahan lajur air dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan di pegunungan, maka longsor di beberapa tempat itu merupakan tragedi. Ibarat senjata makan tuan. Apalagi, Tawangmangu, Jenawi, Ngargoyoso, Karangpandan dan beberapa kecamatan sekitar lereng Gunung Lawu merupakan sentra tanaman anthurium, yang bahkan menjadi barometer bisnis tanaman mahal itu di Indonesia.

Jangankan ‘cuma’ puluhan juta, banyak tanaman jenmanii, wave of love dan beberapa varian anthurium dari daerah-daerah itu bisa laku sampai ratusan juta hingga dalam satuan miliar rupiah. Maka, tak aneh bila di daerah itu, kini banyak berseliweran mobil mewah. Orang-orang yang dulunya hidup pas-pasan, kini bisa naik berbagai jenis mobil keluaran terbaru, yang dimiliki setelah sukses berdagang daun.


Anthurium adalah jenis tanaman memanfaatkan akar pakis sebagai media tumbuhnya. Booming tanaman ini sejak beberapa tahun silam menjadikan kebutuhan akar pakis sangat tinggi ====>

Lihat saja sosok Sujarto –akrab disapa dengan sebutan Mbah Suyar, yang oleh sebagian orang di sana dijadikan figur panutan petani anthurium. Mbah Suyar adalah simbol sukses ‘pedagang daun’. Tangan dinginnya membuat ia sukses berbisnis tanaman yang digelutinya sejak awal 1990-an. Sebagai pegawai negeri yang bertugas nyopir ambulans dengan gaji tak seberapa, kini ia bisa memiliki tiga mobil baru dengan total pembelian nyaris Rp 1 miliar.

Sukses itu pula yang membuat ia terpilih sebagai penerima Danamon Award 2007 dalam kategori pengusaha menengah. Bahkan, Bupati Rina yang sangat kelewat terobsesi pada bisnis daun itu, sampai harus mendeklarasikan Karanganyar sebagai Kota Anthurium sejak pertengahan 2007.

Kalau saja bisnis pakis, yang jadi media utama budidaya anthurium menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah di lereng Gunung Lawu, agaknya Bu Bupati harus meninjau ulang kebijakannya menjadikan daerahnya sebagai Kota Anthurium. Setidak-tidaknya, ia harus mencari alternatif cara untuk melindungi alam, demi anak-cucunya kelak.

Setidaknya, jangan sampai peristiwa longsor di Ledoksari terulang kembali. Kesuksesan puluhan warga Dusun Mogol, Ledoksari berdagang anthurium menjadi sia-sia, kalau ujung-ujungnya hanya membuat mereka terkubur sia-sia, meski bersama harta berlimpah.

Kepada keluarga korban longsor, saya ucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka selama di dunia, semoga dijauhkan pula dari siksa kubur, serta bagi keluarga yang ditinggalkan dikaruniakan kesabaran dalam menghadapi cobaan dari-Nya. Amin.

PeristiwaOctober 10, 2007 11:36 am

Beberapa posting saya mengenai SIEM menuai tanggapan beragam. Ada yang mengancam saya, ada pula yang mendiskreditkan saya seperti dilakukan orang yang mengaku bernama Wahyu Indrawan, juga mengaku bernama Murtidjono. Tak apa. Itu bagian dari beda pendapat, juga kritik kepada saya.

Tapi, saya adalah saya. Sikap saya tak akan terpengaruh oleh hal-hal demikian. Berani membuat pernyataan terbuka melalui blog pribadi jelas mengandung konsekwensi keberanian pula menghadapi tanggapan, kritik, juga reaksi berlebihan. Yang saya sayangkan justru ketidakjujuran penanggap di beberapa tulisan saya, termasuk yang mengatasnamakan diri bernama Murtidjono. Itu sama saja dengan sikap tukang fitnah, yang tak berani menunjukkan jati diri, namun hanya kasak-kusuk di belakang.

Saya tahu persis siapa Pak Murti. Karena itu, tak mungkin seorang Murtidjono akan membuat tanggapan semacam itu atas sikap saya terhadap SIEM . Kalaupun tidak setuju dengan pernyataan saya, saya juga sudah paham bagaimana cara Pak Murti merespon, termasuk kalimat seperti apa yang akan digunakannya untuk menegur saya. Orang yang mengaku bernama Murtidjono dan Wahyu Indrawan, saya yakin merupakan orang yang sama, yakni si kerdil yang tak berani menunjukkan jati dirinya secara terbuka.

Saudara Wahyu, perlu Anda tahu bahwa saya menyaksikan acara itu dari awal hingga akhir, tidak seperti Anda yang mengaku melihat pada hari ke-4 dan kelima, namun sanggup menghitung total penonton sejak hari pertama. Anda telah bertindak inkonsisten. Sebaliknya saya, yang sudah tidak percaya pada materi penampil SIEM, justru menonton terus dari awal hingga akhir. Sebab, saya merasa tidak fair kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun membuat penilaian.

Tuduhan Anda bahwa saya sok-sokan dan sebagainya, biarlah itu jadi catatan saya. Mungkin selama ini saya tidak bisa berperilaku seperti layaknya ‘wartawan’ lain yang lebih suka mundhuk-mundhuk terhadap siapa saja, terutama narasumber. Soal bagaimana membawa diri saat menjalankan tugas jurnalistik, biarlah narasumber sendiri yang menilai saya. Toh, kalau memang saya tak sopan, pasti sang narasuber akan menggunakan haknya untuk menolak kehadiran saya, bahkan mengusirnya sejak awal kedatangan bila perlu….. Emang gue pikirin?!? Hehehehe…..

Saya jadi curiga, jangan-jangan Anda bersikap seperti itu karena kepentingan Anda sedang terganggu? Siapa tahu, Anda termasuk anggota barisan pencari proyek ke Balaikota dengan dalih kerja kesenian/kebudayaan?!? Percayalah, kalau demikian adanya, selama kegiatan itu bermanfaat untuk orang banyak, pasti akan saya dukung. Biarkan saya menggunakan hak saya untuk menyampaikan kritik secara terbuka melalui blog pribadi ini.

OK?

Untuk Murtidjono palsu dan Wahyu Indrawan (yang saya yakin orangnya sama), mari kita renungkan dengan kepala dingin dan hati tenang… Semoga pada tahun-tahun mendatang, bisa muncul event yang lebih tertata dan memiliki manfaat bagi banyak pihak, tidak hanya untuk seniman semata-mata, namun juga publik dan masa depan kebudayaan serta dunia pariwisata Kota Surakarta.

Maaf kalau tulisan-tulisan saya telah mengganggu pikiran dan emosi Anda. Semoga kemarahan Anda tidak berlebihan sehingga penyakit gula dan hipertensi tidak lekas hinggap pada tubuh Anda. Amin.

Untuk melihat tanggapan-tanggapan Wahyu Indrawan dan Murtidjono Palsu, silakan buka link-link berikut:
SIEM

SIEM, Festival Musik nonKomponis
SIEM, Festival Musik Asal-asalan
Keunikan (Seniman) Surakarta

PeristiwaAugust 6, 2007 11:15 am

Tak seperti lazimnya peragaan busana, Iwan Tirta menyajikan suguhan menarik untuk publik di berbagai kota di Indonesia, tak terkecuali Surakarta. Menarik yang saya maksud adalah medium ekspresinya, yakni lewat langendriyan, sebuah opera Jawa. Bertajuk Tandhing Gendhing, opera itu berupa fragmen Mahabharata yang bertutur tentang pertikaian Pandhawa dan Kurawa.

Desainer bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja itu menyiapkan desain khusus untuk masing-masing tokoh. Dia yakin, setiap motif batik memiliki filosofi sendiri-sendiri sehingga harus diselaraskan dengan watak dan sifat tokohnya. Rupanya, ia bukan tipe orang yang gegabah untuk urusan demikian. Bima atau Werkudara yang gagah dan lugas misalnya, tidak mungkin mengenakan kostum yang sama dengan Arjuna yang anggun penuh pesona, meski sama-sama berasal dari kultur ‘putih’-nya Pandawa.

Keseriusan Iwan Tirta dalam mencipta desain batik –termasuk berusaha melindungi hak ciptanya, agar tak dibajak seperti tempe- kian meyakinkan saya, bahwa pengetahuannya mengenai batik memang mahaluas dan layak dijadikan rujukan menimba pengetahuan tentang beraneka jenis corak dan motif batik yang hidup di berbagai kelompok masyarakat Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya kepadanya mengenai motif Alas-alasan karya Iwan yang digunakan untuk kostum tari Dirada Meta dalam sebuah acara di Pura Mangkunageran, beberapa bulan silam. Sontak ia menjawab: Itu ngawur! Saya baru diberitahu empat hari sebelum pementasan mengenai penggunaan batik itu untuk kostum tarian penting itu!

Rupanya, Iwan sependapat dengan saya, bahwa merekonstruksi sebuah tarian yang lama ‘punah’ tidaklah mudah. Ia menganalogikannya dengan proses rekonstruksi Candi Prambanan yang tidak boleh asal menyusun bebatuan. “Perlu riset panjang sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Apalagi, dalam kasus tari Dirada Meta sudah tak ada lagi acuannya, termasuk petunjuk teks dan gambar, baik untuk ragam gerak maupun kostumnya.

Saya jadi teringat betapa seluruh anggota yang terlibat dalam tim rekonstruksi tarian Dirada Meta hanya berkutat pada masalah ragam gerak dan gending iringannya yang lantas dihubung-hubungkan dengan peristiwa peperangan RM Said dan pasukannya melawan tentara kolonial Belanda di sebuah hutan di Blora. Rupanya, tim kreatif tarian itu bertindak simplistis, karena pertempuran berlangsung di hutan, maka motif Alas-alasan akan cocok untuk itu. Asal tahu saja, alas adalah bahasa Jawa yang padanan bahasa Indonesianya adalah ‘hutan’.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari kerja keras Iwan Tirta adalah konsistensinya memajukan batik Indonesia, termasuk upaya pelestarian sejumlah motif batik yang hampir punah. Soal karya Tandhing Gendhing, maaf, saya hanya ingin berkomentar singkat saja. Koreografinya yang kedodoran menjadikan karya-karya batik Iwan Tirta jadi tampak terabaikan…… Hanya sekadar kostum!

Semoga di tempat-tempat lain bisa tampil lebih baik. Mumpung masih ada kesempatan.

PeristiwaMarch 15, 2007 9:12 am

Rupanya, Departemen Perhubungan mulai serius dan hati-hati dalam mengatur kinerja sektor transportasi publik. Buktinya, Adam Air sempat dilarang terbang oleh otoritas Bandara Adi Sumarmo, Surakarta, Kamis (15/2).

Pesawat bernomor penerbangan KI-161 yang mengangkut 99 orang, termasuk empat kru, itu seharusnya meninggalkan Bandara Adi Sumarmo pukul 10.08 WIB menuju Cengkareng. Namun, lantaran petugas pre-flight check tak memiliki lisensi untuk menyatakan pesawat Boeing 737-200 tersebut laik terbang, maka otoritas Bandara melarangnya meninggalkan Surakarta.

Semoga, keputusan otoritas Bandara Adi Sumarmo yang melarang terbang sementara Adam Air bukan lantaran sedang ada inspeksi mendadak dari Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di sana. Bukan pula lantaran banyaknya kejadiakn kecelakaan pesawat udara di berbagai tempat di Indonesia.

Satu gosip yang sempat mampir di telinga saya, sang teknisi Adam Air itu tidak memiliki kompetensi mengecek mesin pesawat. “Yang dia miliki hanya lisensi untuk pengecekan perangkat elektronik. Itu pun sudah kedaluarsa,” ujar sumber itu.

Andai isu itu benar, alangkah menyedihkannya. Demi mengejar keuntungan bisnis penerbangan sampai lalai memperhatikan keselamatan penumpangnya.

Meski demikian, kompromi telah diambil. Manajemen Adam Air telah mendatangkan teknisinya yang bertugas di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta untuk mengecek kelaikan terbang pesawat tersebut. Hasilnya, pesawat bisa terbang kembali, meski penumpang terpaksa menunggu selama tiga jam.

“Aneh, mosok pesawat tak boleh terbang karena alasan administrasi,” ujar Basuki, seorang penumpang asal Turisari, Surakarta.

Basuki, mungkin juga penumpang lain, mungkin tak tahu-menahu soal regulasi penerbangan, termasuk prosedur keselamatan yang tak boleh dilanggar oleh perusahaan penerbangan. Barangkali, Basuki-Basuki yang lain juga mengira kalau mekanisme pengaturan penerbangan pesawat seperti halnya antrian jalan bagi bus-bus di terminal. Tepat jam dan menitnya, maka pesawat harus meninggalkan bandara.

Tentu saja, ketidakmengertian yang demikian tak bisa dijadikan alasan bagi perusahaan penerbangan untuk mengabaikan hak-hak konsumen.

PeristiwaMarch 11, 2007 11:44 am

Tersungkurnya burung besi jenis Boeing 737-400 bernomor penerbangan GA-200 milik Garuda Indonesia di Yogyakarta, Rabu (7/3) pagi, menghebohkan dunia.
Soal penyebab jatuh dan dampak berupa terbakarnya puluhan penumpang, sudah pasti menjadi sorotan. Tapi, banyaknya penumpang kewarganegaraan Australia-lah yang kemudian membuat peristiwa itu menjadi luar biasa.

Karena itu, tak aneh kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memerintahkan aparat, termasuk intelijen melakukan penyelidikan kemungkinan adanya faktor-faktor nonteknis terhadap peristiwa tersebut. Bisa jadi, itu merupakan langkah diplomatis yang tepat. Maklum, Australia merupakan sekutu Amerika yang selalu bawel akibat paranoid akan kata ‘terorisme’, sementara di pesawat nahas itu terdapat sejumlah orang penting dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di antaranya adalah Brice Steele, Head of Australian Federal Police di Jakarta.

Soal kemungkinan sabotase, bisa saja dimunculkan pemerintah dan masyarakat Australia bila Pemerintah Indonesia dan otoritas penyelidik kecelakaan itu tak sigap bertindak. Apalagi, banyaknya Australian di dalam pesawat itu dalam rangka tugas khusus, yakni mengawal Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer yang akan melakukan penandatanganan semacam kontrak kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Untung, negeri kita tak tambah runyam, karena tak satu pun pernyataan ‘provokatif’ muncul dari Menteri Downer yang sempat menjenguk para korban, para anggota penyelidik dari Komite Keselamatan Transportasi Australia maupun penyelidik dari Australian Federal Police.

Meski demikian, bukan berarti persoalan penyelidikan kecelakaan serta identifikasi korban menjadi urusan mudah. Tata krama politik mengharuskan penyelidik, khususnya KNKT, harus memberi kesempatan kepada tim khusus dari Australia. Baik untuk penelitian di lapangan maupun penentuan identitas korban.

Khusus mengenai identifikasi korban, seorang anggota tim forensik Indonesia bertutur, dia dan seluruh anggota tim yang tergabung dalam Disaster Victim Identivication (DVI) Indonesia harus nglegani tim negeri jiran. Para penyelidik Australia itu mengulang-ulang proses identifikasi, bahkan menggunakan temuan final tim Indonesia yang sudah bisa memastikan identitas lima korban terbakar asal Australia itu. “Ya mau gimana lagi. Asal mereka marem, kami juga senang,” ujar seorang dokter anggota tim kepada penulis.

PeristiwaFebruary 1, 2007 2:09 pm

Hujan deras belum lama berlalu pada Kamis (1/2) petang. Jalan Slamet Riyadi yang membelah Kota Surakarta juga belum lama dipadati kembali oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Seperti biasa, kawasan Purwosari selalu ruwet pada petang hari. Tempat-tempat penjual makanan enak berserak di sana, juga para pedagang kakilima yang menjajakan aneka rupa: dari kalender, stiker, pakaian, peralatan perbengkelan hingga obat-obatan tradisional dan lapa-lapak penyedia jasa ramalan nasib.

Suasana kian crowded ketika seseorang menyaksikan rangkaian kabel pada sebuah benda menyerupai dinamit tergeletak di pinggiran pembatas jalan. Benda di balik tas plastik hitam (entah diletakkan oleh siapa) itu lantas disimpulkan sebagai jenis peledak. Suasana kota jadi riuh, apalagi kemacetan terjadi dimana-mana. Mudah ditebak, dari mulut pengguna jalan segera tersiar kabar: ada bom di Solo!

Seorang polisi anggota penjinak bom yang didatangkan pun menyimpulkan: si pembuat dinamit bohongan cukup profesional. Bentuknya yang bisa disebut mirip dinamit sungguhan serta penempatannya di pusat keramaian jelas menunjukkan kecerdikan si pembuat dalam menyampaikan pesan teror. Setidaknya, demikian kesimpulan Pak Polisi.

Yang pasti, peristiwa itu merupakan sinyal awal, bahwa aparat keamanan tak boleh duduk tenang. Bisa jadi, si pengirim pesan akan mengulangi perbuatannya, kendati masyarakat menginginkan sebaliknya.

Semoga, polisi tak buru-buru menyimpulkan pelaku teror dengan asumsi semata. Apalagi, cap bahwa Surakarta merupakan ’sarang teroris’ telanjur dilekatkan, termasuk oleh media-media Barat. Keadaan akan menjadi runyam bila teori konspirasi dijadikan pijakan analisis. Sebab, kelahiran Jamaah Islamiyah (yang dicap sebagai salah satu organisasi teroris dunia) cenderung dikaitkan dengan sebagian tokoh masyarakat di Surakarta.

Semoga, aparat kepolisian bisa mengungkap pelaku teror sesungguhnya, termasuk aktor intelektual di baliknya. Sebab, kota yang dalam bahasa politik sering dicap sebagai daerah ‘bersumbu pendek’, peristiwa semacam itu bisa saja memicu kecurigaan dan ketegangan serta meningkatkan suhu politik. Luka dan kepedihan sebagian besar warga kota akibat peristiwa Mei 1998 yang baru saja disembuhkan, bisa-bisa berubah jadi infeksi berkepanjangan.

Orang seperti saya hanya bisa berharap agar semua masyarakat tidak mengembangkan prasangka dengan asumsi dan referensinya sendiri-sendiri. Kedamaian dan harmoni harus terus disemaikan, agar kehidupan kita tidak ikut-ikutan menjadi berantakan…

PeristiwaNovember 15, 2006 3:54 am

Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! Meski terdengar anarkistis, tak ada salahnya kita renungkan kembali makna dan semangat di balik kemunculan jargon yang populer pada masa-masa awal kemerdekaan itu. Tentu, kita harus lebih arif memaknainya. Bukankah kita masih ingin disebut sebagai golongan manusia beradab?

Penafsiran ulang atas gairah untuk ‘menyetrika’ Amerika, yang pasti bukan dengan cara menghalang-halangi kedatangan George Walker Bush ke Indonesia. Bahwa Bush yunior itu brengsek dan suka pamer kekuasaan dimana-mana –termasuk invasi militer ke Irak atau menuduh sebagian orang Islam sebagai teroris, itu hanyalah potret sebagian wajah Amerika.

Baasyir, simbol teroris Islam versi Bush ==>

Kebijakan politik (ekonomi dan militer) luar negeri Amerika, yang selalu memposisikan diri sebagai juru selamat sekaligus penjaga keberlangsungan peradaban manusia di seluruh muka bumi, pasti harus dikritisi. Namun, energi kita akan terbuang sia-sia manakala kita lupa mengingatkan aparatur pemerintah kita sendiri. Dalam konteks hubungan Indonesia-Amerika, sudah selayaknya protes keras justru diarahkan kepada mereka.

Berpijak pada semangat mulia memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan yang telah dicanangkan para pendiri negara, maka negara dan pemerintahan yang berdaulat tak boleh dilecehkan oleh siapapun. Susilo Bambang Yudhoyono dan George W. Bush memiliki posisi setara, sama-sama presiden dari sebuah negara. Keduanya juga menjadi simbol sebuah bangsa, yang memiliki hak dan kedudukan setara menurut piagam PBB.

Oleh karena itu, sungguh aneh kalau pemerintah harus menunjukkan inferioritasnya terhadap Amerika kepada masyarakat internasional. Mematikan jaringan telepon seluler selama 10 jam hanya demi kenyamanan seorang Bush adalah sebuah bukti nyata, bahwa para pemimpin negeri ini masih memiliki mental inlander. Bahwa IMF, Bank Dunia, WTO dan lembaga-lembaga keuangan internasional –yang telah memiskinkan rakyat Indonesia, sepenuhnya dikontrol Amerika, sama sekali tak pernah disikapi secara kritis oleh para pemegang mandat menjalankan pemerintahan yang seharusnya betujuan mensejahterakan rakyatnya.

Tak terbayang, berapa nilai kerugian sosial dan ekonomi yang ditanggung ribuang pengguna saluran komunikasi bergerak itu. Belum lagi nasib ribuan anak-anak dan anggota keluarga sopir angkutan umum dan pedagang kakilima yang terpaksa tak beroperasi selama beberapa hari, gara-gara seorang Bush harus merasa nyaman dan aman duduk-duduk di kompleks Istana Bogor. Jalan raya di pusat kota Bogor harus dikosongkan, meski kita tahu, Bush sama sekali tidak menggunakan jalur darat selama berada di kota hujan itu.

Semoga, pembicaraan antara SBY dan Bush tak hanya berisi seputar komitmen negara itu untuk membiayai pelatihan dan kerjasama memerangi terorisme, atau janji pemberian utang baru dengan bunga lunak dan rentang waktu pengembalian yang cukup panjang. Terorisme, bukan hanya musuh Amerika, melainkan musuh seluruh umat manusia. Kalaupun Amerika lantang menyatakan diri sebagai ‘pemimpin’ masyarakat dunia dalam melawan terorisme, hal itu tak lain hanyalah ilusi belaka.

Mereka terlalu paranoid. Manusia di seluruh dunia sudah kian cerdas dan semakin berani mengkritik kebijakan luar negeri Amerika dan sekutunya. Karena itu, mereka menempuh berbagai cara sebagai upaya mengalihkan perhatian agar masyarakat dunia tidak menuntut pertanggungjawaban Amerika sebagai panglima lintah darat dunia, yang telah menghisap kekayaan dan daya hidup bangsa-bangsa di negara miskin selama bertahun-tahun.

Meski terkesan berlebihan, tak ada salahnya kalau pemerintah kita meminta kepada pemerintah Amerika agar memberikan (minimal) kompensasi atas potensi kerugian ekonomis yang diderita ribuan warga Bogor akibat kedatangan Bush. Di luar itu, tak ada salahnya kalau Presiden SBY memberanikan diri meminta Bush untuk memelopori penghapusan utang terhadap Indonesia.

Utang luar negeri sebesar Rp 1.300 triliun lebih bukan angka yang kecil. Apalagi bila dibandingkan pendapatan sopir angkutan dan pedagang kakilima yang hanya Rp 50 ribu sehari. Padahal, pendapatan segitu pasti ludes untuk makan empat orang dalam satu keluarga.

PeristiwaNovember 14, 2006 7:24 am

Suatu sore, dalam perjalanan pulang. Satu lagi, saya lihat sebuah bangunan rumah-toko (ruko) tengah dibangun, seperti ingin menambah daftar panjang ‘indikator perekonomian’ Kota Surakarta. Ya, sejak tiga tahun terakhir, pertumbuhan properti memang kian pesat meski rata-rata sepi penyewa. Bukan masalah perekonomian itu yang menarik perhatian saya. Tapi, itu loh, bendera merah-putih lusuh yang berkibar di puncak bangunan!

Mungkin, si kontraktor atau pemilik bangunan itu berniat menunjukkan nasionalismenya. Meski semua mafhum, motif ekonomi tak pernah bersangkut paut dengan hal-hal patriotis, kecuali kebutuhan si pelaku akan sebuah paspor atau alat-alat bukti bahwa ia memiliki kewarganegaraan (dalam rangka melakukan kegiatan-kegiatan ekonominya).

Yang pasti, sang pengibar bendera termasuk orang beruntung. Pada masa Soeharto berkuasa, tentu ia kelewat bodoh sehingga sudah pasti segera diambil paksa oleh aparat. Nasionalismenya bakal diselidik, begitu pula dengan motif tindakannya. Ia bahkan bakal dirunut latar belakang keluarga, sanak saudara hingga pergaulannya. Lebih dari itu, ia mesti bisa membuktikan diri bebas dari G30S/PKI atau memiliki keterlibatan pada kelompok ekstrem kanan, dan sebagainya dan seterusnya. Semua hal bisa menjadi alasan bagi sang interogator untuk menyiksa, sebelum akhirnya menjebloskannya sebagai tahanan subversif (entah lewat proses peradilan atau tanpanya).

Tapi, sebagai warga negara Indonesia (yang baik dan konsekwen), risih juga rasanya melihat bendera lusuh dan compang-camping itu masih berkibar. Kalaupun tak tahu dimana bisa memperoleh bendera, lebih baik tidak perlu memasangnya. Begitu saya pikir. Toh, dengan sedikit repot, bisa menanyakan pada anak, saudara atau tetangga yang masih bersekolah. Mereka pasti tahu dimana letak toko penjual perlengkapan Pramuka!

Bagi orang seperti saya –yang pernah memperoleh dasar-dasar kepramukaan sejak SD hingga SMP serta pernah ikut penataran P4 hingga 100 jam ditambah mata pelajaran kewarganegaraan dan kewiraan, pasti tak akan tega memasang bendera begitu rupa (betapapun saya jengkel dan pernah muak dengan sebagian materi pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa/PSPB)!

Aneh! Mungkin, lagi-lagi mungkin, si pemasang bendera itu terbiasa menyepelekan hal-hal yang dikiranya sebagai perkara remeh, sehingga salah satu simbol negara itu pun diposisikannya lebih rendah dibanding umbul-umbul iklan sebuah produk.

Padahal, menurut keyakinan saya, orang itu pasti pernah mengalami masa, dimana TVRI masih menjadi satu-satunya media siaran audiovisual, yang (meski kadang berlebihan) tapi paling rajin menayangkan secara live acara-acara semacam Asian Games atau berita kunjungan presiden kita ke luar negeri atau sebaiknya ketika kedatangan tamu negara, dimana bendera merah-putih menjadi penanda sekaligus identitas sebuah bangsa dan negara berdaulat.

Semoga bukan karena euforia reformasi yang dijadikan dasar penafsiran akan makna ‘kebebasan’, sehingga bisa bersikap dan bertindak semau gue. Sebab sebuah kehidupan selalu memiliki aturan dan tatanan. Minimal, kita bisa mengukur sendiri, mana yang pantas atau tidak layak dilakukan. Bukankah kita tak mau lagi hidup kita diatur dan dikontrol ala Orde Baru?

Tak ada salahnya kita mengapresiasi sikap dan meneladani tindakan anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok musik Cokelat. Mereka lantang menyanyikan lagu (kalau tak salah) Bendera, bahkan dalam rangka perayaan tujuh belasan tahun ini, membuat rekaman khusus dan aransemen baru atas sejumlah ‘lagu-lagu wajib’ yang hingga kini masih banyak beredar dengan edisi sederhana: dicetak di atas kertas buram!

PeristiwaOctober 9, 2006 9:05 am

Seorang Mantri Ternak dari sebuah rumah pemotongan hewan di Surakarta cekatan beraksi. Di depan kamera seorang jurnalis televisi, ia membolak-balik daging lalu sesekali menciumnya. Hanya dua tempat dari belasan kios terbuka di Pasar Gede yang disinggahinya, Senin (9/10) pagi. Mungkin, ia hanya bermaksud menerapkan metode random sampling walau yang dikunjunginya dua tempat yang bersebelahan.

Dua orang pedagang — keduanya perempuan, meneriakkan kalimat setengah mengejek. “Wah, Pak Mantri rajin… Daripada kemari, mbok ke Pasar Legi saja. Sudah dilapori dari dulu, kok didiamkan saja,” ujar ibu pedagang. Anehnya, Pak Mantri seolah tak mendengar protes kedua pedagang itu. Hanya sekitar sepuluh menit beraksi, Pak Mantri dan rombongan sudah beranjak pergi menuju Pasar Semanggi untuk tujuan yang sama.

Lalu, kedua pedagang itu berceloteh, melampiaskan kekesalannya, sambil menunjuk nama seorang pedagang dengan insisial S di Pasar Legi. Sudah menjadi rahasia umum, kata kedua pedagang itu, S menjual daging sapi yang dioplos dengan daging babi. Bukan hanya saat ramadhan dan hari raya, dimana permintaan daging melonjak, namun pada hari-hari biasa pun, S selalu menjual daging oplosan. “Setiap hari, S selalu datang kemari membeli daging babi (untuk bahan oplosan),” tuturnya.

Kedua pedagang itu jengkel, omzetnya menurun gara-gara maraknya peredaran daging oplosan. Namun, bukan penurunan omzet itu yang membuatnya masygul. “Konsumen ditipu, sementara mereka mengira pedagang di sini menjual daging yang sama dengan harga lebih mahal. Ini kejahatan yang tak boleh dibiarkan,” tutur Ny. Kushartati, seorang pedagang.

Semula, rombongan hendak kembali ke kantornya setelah tidak menemukan bukti di kedua lokasi operasi. Seorang jurnalis yang sudah memperoleh informasi adanya praktek curang perdagangan daging di Pasar Legi lantas mendesakkan pertanyaan kepada Pak Mantri, apakah rombongan juga akan melakukan operasi serupa di pasar itu. Pak Mantri sempat ragu (karena berdalih kesiangan walau jam baru menunjukkan pukul 8.30 WIB), sebelum akhirnya berbelok arah ke pasar yang terletak di belakang Istana Mangkunegaran itu.

Rupanya, informasi pedagang Pasar Gede benar adanya. Di Pasar Legi, mereka menemukan sedikitnya sepuluh kilogram daging sapi campuran daging babi dalam tiga tas plastik warna hitam di bawah sebuah meja tak bertuan. Lalu, rombongan itu bergegas menuju los daging. Kurang dari sepuluh menit, ‘operasi’ itu kembali menemukan daging babi yang dijajakan di meja-meja khusus daging sapi. Seperti ogah menyelidik, daging yang ditemukan itu lantas diangkut ke kantor, sementara pedagang hanya ‘dihimbau’ untuk tidak menyesatkan pembelinya.

Cerita operasi yustisi (begitu mereka menyebutnya), akhirnya memang hanya berakhir sampai di situ. Sejumlah pedagang yang menjual daging sapi sungguhan – yang juga mengeluhkan adanya sejumlah pedagang daging oplosan, tak beroleh tanggapan, apalagi tindakan.

Pak Mantri hanya menyita daging-daging oplosan itu. Kepada para pedagang, ia berpesan agar pemilik daging mengambilnya di rumah pemotongan hewan, tempat mereka berkantor. Sebuah himbauan sia-sia, sebab tak pernah ada cerita (dalam dongeng sekalipun), seorang maling datang menghadap polisi untuk mengakui perbuatannya.

Di luar aksi tipu-tipu (baik yang dilakukan pedagang maupun pemain ‘drama’ operasi yustisi) itu, ada satu hal yang sangat mencemaskan saya. Mengoplos daging sapi dengan daging babi, sama saja dengan memantik api di gudang jerami.

Mencampur daging sapi yang halal dengan daging babi yang haram (bagi muslim), sama saja menyiram bensin pada tumpukan jerami. Semua orang tahu, Surakarta dikenal sebagai daerah bersumbu pendek dalam istilah politik. Dan, di kota itu, cukup banyak kelompok masyarakat yang mudah beringas, yang biasanya akan bertindak secara ’suka rela’ untuk melempar korek api ke arah tumpukan jerami yang sudah terlebih dahulu dibasahi dengan bensin…………………..

Catatan:
Pada paragraf ke-9 kalimat terakhir terdapat kesalahan fatal. Semula tertulis “Mengoplos daging sapi dengan daging sapi…..“, padahal yang dimaksud adalah “Mengoplos daging sapi dengan daging babi.” Dengan demikian, kekeliruan sudah dibuat benar. (Jkt, 11 Okt 2006 pk 12.26 WIB)

Terima kasih untuk budiw

PeristiwaSeptember 21, 2006 11:10 am


Kamis (29/9) pagi, ini adalah pengalaman pertama melihat betapa sibuknya lalu lintas air di Selat Malaka. Sebelumnya, saya mengira kabar semacam itu hanyalah sebuah dongeng belaka, sementara kehadiran perompak hanyalah bumbu penyedap seperti pada umumnya cerita tutur. Dari kapal ferry Penguin yang membawa saya dari Harbour Front di Singapura menuju pelabuhan Batam Center di Kepulauan Riau.

Puluhan kapal, baik yang berukuran besar maupun kecil, diam mengapung di samudera luas, yang dari kejauhan terlihat bagai bangunan yang menyembul dari kedalaman. Ada kapal tanker dan kontainer yang gagah, ada pula kapal-kapal berukuran lebih kecil yang terkesan hanya menjadi penghias –pernik-pernik alam- di antara kapal-kapal raksasa yang antri bersandar, mendekati pelabuhan dengan gedung-gedung pencakar langit di latar belakang pelabuhan.


Rupanya, nahas sedang menimpa APL Dubai sebuah kapal kontainer yang mengangkut ratusan (entah, mungkin malah ribuan) kontainer. Kebakaran, rupanya menimpa sebagian peti kemas di atas kapal itu. Dari kejauhan, yang terlihat hanyalah sebuah kapal pemadam kebakaran dan sebuah lagi (entah apa jenis kapal itu) berusaha memadamkan apinya dari samping kapal.


Memang, kebakaran itu (tampaknya) tak terlalu mengganggu lalu lintas laut, apalagi bagi kapal-kapal dagang yang hendak bersandar di pelabuhan yang sibuk itu. Sebab, posisi dan jarak masing-masing kapal pasti sudah menyesuaikan aturan main menyangkut lokasi parkirnya sendiri-sendiri.

Andai kabut tak menutup langit di atas perairan itu, pasti gambarnya akan menjadi lebih bagus dibanding yang terpampang sekarang. Apa boleh buat, Singapura, Batam dan sebagian langit di atas Pulau Sumatra memang sedang tak ada unsur birunya dalam sepekan terakhir. Awan (mungkin plus asap), bahkan tampak sangat berkuasa menahan sinar matahari agar tak mencapai bumi…..

PeristiwaMay 27, 2006 2:35 pm

Aku terpaksa memajukan jadwal bangunku, hampir empat jam lebih dari kebiasaan. Bukan karena suara berisik yang bersumber pada kaca jendela dan almari yang mengusikku. Namun, goyangan itu betapa kuatnya! Di luar rumah, segera muncul suara gaduh bersahutan, dan sebagian jerit kaum perempuan.

Aku baru sadar, yang membangunkanku adalah gempa hebat, yang kemudian kutahu dari siaran televisi, bahwa gempa itu berkekuatan 5,9 sekala Richter. Aku segera beranjak pergi, karena aku menduga bakal terjadi letusan besar dari Gunung Merapi. Istriku mencegahku pergi. Namun, akhirnya ia ikut pergi bersamaku.


Rekaman lensa atas dampak gempa tektonik yang bersumber di kedalaman laut selatan, nuh jauh di selatan Yogyakarta

Awalnya, aku lihat suasana Hotel Novotel, sebab kuyakin para tamu berhamburan keluar. Nihil! Hotel terasa senyap sehingga aku mengarahkan sepeda motorku ke rumah nenek istriku di Karangnongko, tak jauh dari Merapi. Kami kuatir, nenek yang berusia hampir 100 tahun itu tak sanggup menjauh dari rumah bila keadaan memburuk. Alhamdulillah, semua aman-aman saja.

Segera aku berbelok ke Rumah Sakit Tegalyoso, Klaten. Usai memotret beberapa, aku mencoba mencari subyek bidikan. Dan….. masya Allah, aku melihat sepupuku keluar dari bangsal menyelip di antara korban dan para anggota keluarga korban. Rupanya, gempa telah menyapu sebagian besar rumah di Kecamatan Gantiwarno, sebagian Wedi dan Prambanan. “Istriku tertimpa atap rumah, kulit kepalanya terkelupas. Adik iparku juga patah tulang,” ujar sepupuku.

Belum sempat terucap di ruang sebelah mana istrinya dirawat, sepupuku sudah mengabarkan ada sepupuku yang lain tergolek lemah. Lengan kanannya patah. Kelu. Aku hanya bisa menangis. Lalu, aku mengabarkan kejadian itu pada ayahku, yang rupanya belum tahu keadaan keponakan-keponakannya. Sambil mengabarkan keadaan keluarga di rumah yang baik-baik saja, ayah gantian memberi kabar buruk. Ada satu sepupuku yang lain meninggal dengan amat menyedihkan. Tertimpa atas rumah dan tembok rumah tetangganya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya…

PeristiwaMay 6, 2006 6:01 am

Kabut selalu menunjukkan sikap tak bersahabat terhadap siapa pun yang mendekati dirinya. Angkuh, tapi selalu berusaha tenang dan menampakkan diri sebagai yang perkasa. Merapi, bahkan seperti mengejek puluhan pemburu foto yang mengitarinya dengan mengumbar senyum manis, namun kerap mengeluarkan ludah api.

Seperti tampak pada Jumat malam (5/5) pukul 19.48 WIB, Merapi seperti sedang berkolaborasi dengan sang bulan. Hanya belasan menit, kabut menghilang digantikan gugusan awan yang menaungi merapi. Awan putih, sinar rembulan yang lembut dan merah ludah api Merapi, nampak bagai goresan warna yang tertata di atas kanvas. Meski, goresan itu tak sepenuhnya menunjukkan ketegasan: apakah hendak dibuat lukisan realis, surealis atau sekadar bermain-main komposisi warna abstrak.

PeristiwaMarch 15, 2006 12:00 pm

Rancangan Undang-undang tentang Antipornografi dan Pornoaksi memang bikin gerah. Semua politisi, seperti sedang bermain-main. Mereka membuat keruh suasana lantas nantinya akan pada tampil seperti pahlawan.


Didik Nini Thowok bersama 500-an penari Tayub sedang berpawai menolak RUU Antipornografi

Yang putih, yang merah, kuning dan apapun warnanya menjadi tak usah repot-repot mengail di air keruh. Ikan sudah menggelepar, tinggal ditangkapi pakai tangan kosong, atau bahkan pakai saringan kelapa supaya dapat banyak. Yang hijau (karena merasa putih), bisa bereksperimen tentang gagasan penerapan syariat Islam, sehingga pada pemilu mendatang bisa mendulang suara.


Puluhan seniman dari berbagai cabang kesenian mempertunjukkan ekspresi berkesenian mereka

Yang abangan begitu pula. Mereka bisa saja ikut-kutan mendorongnya, sehingga muncul antipati terhadap gagasan-gagasan sektarian dari Si Putih. Akibatnya, mereka tinggal berharap, siapa tahu pada pemilu nanti, mereka yang kurang sreg dengan penerapan syariat Islam bisa berbondong-bondong memenuhi kotak-kotak pemungutan suara. Politisi, memang selamanya susah dipercaya!


Pernyataan Komunitas Bebas Berekspresi menyerukan pembubaran Pansus RUU Antipornografi & Pornoaksi dan meminta dana pembahasan dialihkan untuk menanggulangi kemiskinan dan bencana alam

PeristiwaFebruary 25, 2006 10:56 am

Jihad memiliki beragam makna, sebanyak kriteria kebenaran yang dianut oleh masing-masing penafsirnya. Maka, tak ada salahnya menghormati perbedaan yang pasti akan muncul dengan beragam manifestasinya. Sepanjang tak ada pelanggaran hak hidup dan hak asasi yang dimiliki kelompok lain, serta tak ada pemaksaan kehendak dan tafsir akan kebenaran atas orang lain, maka biarkan saja. Jaman yang akan mengujinya. Tuhan, pasti dan akan selalu adil. Selamanya……………

PeristiwaFebruary 24, 2006 11:15 am

Seorang ibu sedang bermain-main dengan anaknya di tengah ribuan santri yang sedang mempersiapkan diri melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad. Aksi yang berlangsung di Solo, Jumat (24/2) siang itu diikuti oleh sedikitnya 20 ribu umat Islam dari berbagai kota sekitar.

Peristiwa 10:22 am

Pasukan santri berkuda bersama sedikitnya 20 ribu umat Islam dari aliansi sejumlah organisasi Islam dan pondok pesantren dari berbagai kabupaten/kota melakukan unjuk rasa bersama di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (24/2) sore. Mereka mendesak pemerintah segera mengesahkan UU Antipornografi dan Pornoaksi serta mengecam pembuatan kartun Nabi Muhammad. Massa berkumpul di Lapangan Kottabarat dilanjutkan dengan long march sepanjang 5 kilometer hingga Alun-alun Utara Kraton Surakarta.

PeristiwaFebruary 17, 2006 10:32 am


Prajurit Ketanggung

Memperingati ulang tahun ke-261 yang jatuh pada 17 Pebruari 2006, Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah menyelenggarakan kirab agung pada Jumat (17/2) sore. Peringatan kali ini menjadi bersejarah karena pertama kali diikuti perwakilan dari Kasultanan Yogyakarta, yakni prajurit Lombok Ijo dan prajurit Ketanggung. Kelahiran kota Surakarta ditandai dengan pindahnya kompleks kerajaan Mataran dari Kartasura ke Desa Sala, Surakarta pada 1745. Kraton Surakarta pecah menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada 1755.

PeristiwaFebruary 16, 2006 5:29 am

Republik Aeng-aeng, Solo memang suka bikin ulah, bikin kegiatan-kegiatan sensasional. Kelompok yang dibentuk oleh praktisi iklan luar ruang, Mayor Haristanto itu, kembali membuat ulah dalam rangka memperingati ulang tahun Kota Surakarta ke-261. Belasan pemuda ia ajak mengepel Jalan Slamet Riyadi sepanjang lima kilometer pada Kamis, 16 Pebruari siang.

Separuh badan jalan protokol itu, mulai perempatan Gendengan dan berakhir di depan Balaikota, dipel dengan menggunakan karung goni. Seorang anggota kelompok itu menaburkan serbuk deterjen yang disemprot dengan air sebanyak lima tangki yang disediakan Dinas Pemadam Kebakaran setempat.

PeristiwaFebruary 12, 2006 5:01 pm

Mantan Presiden Soeharto sedang berbincang lepas dengan keluarganya seusai nyekar mendiang istrinya di makam keluarga, kompleks Astana Giribangun di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, pertengahan 1997.

PeristiwaFebruary 10, 2006 10:33 am

Seribuan aktivis masjid, santri sejumlah pondok pesantren dan pelajar Islam di Surakarta melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad di sejumlah media barat di Bundaran Gladag, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (10/2). Selain mengutuk pelakunya, mereka mendesak pemerintah Indonesia memutus hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Denmark, Norwegia, Prancis, New Zealand, Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Massa juga mengancam akan melakukan pengusiran warga asing dari Surakarta.

PeristiwaFebruary 8, 2006 5:27 am

Karena regenerasi merupakan keniscayaan, maka harus disusun perencanaan. Seperti dilakukan para aktivis Hisbuth Tahrir Indonesia Surakarta, maka mendidik tunas militan dan teguh dalam keyakinan harus dilakukan sejak dini seperti tampak dalam sebuah aksi unjuk rasa pada 16 Januari 2006.

Bagi aktivis Hisbuth Tahrir, kebanyakan orang sudah melupakan misi dasar untuk membangun peradaban baru. Masa depan haram digadaikan.

PeristiwaFebruary 7, 2006 9:17 am

Publikasi kartun Nabi Muhammad oleh sebuah penerbitan di Denmark yang disusul publikasi serupa di media-media barat terus menyulut amarah umat Islam. Di Solo, Jawa Tengah, puluhan mahasiswa yang berafiliasi dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berunjuk rasa di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Selain mengutuk Denmark, para mahasiswa juga meminta agar pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Denmark.

Peristiwa 5:42 am

Bau anyir menyergap ketika aku melintas di jalan samping masjid kecil, sekitar 1 kilometer dari lokasi tanah longsor Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara. Rupanya, sumber bau berasal dari genangan air di sekitar masjid itu, yang ternyata sisa untuk memandikan jenazah yang baru ditemukan, dua hari setelah peristiwa memilukan itu.

Dari balik kaca, kulihat seorang ustad sedang khusyuk berdoa usai melakukan shalat jenazah untuk para korban. Aku berusaha mendekat dan memasuki masjid. Di dalam masjid, bau anyir yang berasal dari cairan tubuh mayat lebih terasa menusuk hidung. Bulu kuduk merinding. Aku teringat Dia Yang Maha Kuasa, pemilik bumi, langit dan seisinya. Anganku melayang pada Surat Yaasiin ayat 82.

Aku masih beruntung bisa bersaksi. Karena dengan begitu, aku jadi teringat akan kebesaran kuasa-Nya.

Peristiwa 4:05 am

Sejumlah anggota Komisi Pertahanan DPR RI seperti Permadi dan Djoko Susilo sedang melakukan inspeksi persenjataan yang dimiliki Komandu Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat di Markas Kopassus Grup-2, Kartasura, Jawa Tengah.

Kunjungan anggota parlemen itu dalam rangka mengumpulkan bahan dan data dalam rangka pengembangan persenjataan sebagai alat pertahanan di Indonesia. Semua angkatan dalam tubuh TNI (Darat, Laut dan Udara) membutuhkan pembaruan alat-alat pertahanan serta perbaikan sejumlah peralatan pertahanan yang sudah out of date dibanding peralatan yang dimiliki negara-negara tetangga.

PeristiwaFebruary 4, 2006 7:46 am

Para pelayat meninggalkan kediaman Hernianto, 29 tahun, seusai mengikuti prosesi pemakaman di Desa Sayangan, Kecamatan Polokarto, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (4/2) siang. Hernianto, terpidana 12 tahun dalam kasus Bom Bali I meninggal di LP kerobokan, Denpasar, Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau 15.00 WIB akibat komplikasi sejumlah penyakit seperti diabetes, anemia dan saluran kandung kemih.

Peristiwa 7:42 am

Jenazah Hernianto, 29 tahun, sedang diangkat untuk dimasukkan ke liang lahat di
pemakaman umum tak jauh dari rumahnya di Desa Sayangan, Kecamatan Polokarto,
Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (4/2) siang. Hernianto, terpidana 12 tahun dalam kasus
Bom Bali I meninggal di LP kerobokan, Denpasar, Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau
15.00 WIB, akibat komplikasi sejumlah penyakit seperti diabetes, anemia dan saluran
kandung kemih.

Peristiwa 7:35 am

Puluhan anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sedang melakukan shalat jenazah
untuk Hernianto, 29 tahun di Masjid Syuhada, tak jauh dari rumah almarhum di Desa
Sayangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (4/2) siang. Hernianto,
terpidana 12 tahun dalam kasus Bom Bali I meninggal di LP Kerobokan, Denpasar,
Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau 15.00 (WIB) akibat komplikasi sejumlah penyakit
seperti diabetes, anemia dan saluran kandung kemih

PeristiwaFebruary 1, 2006 10:41 am

Anggota resimen Para Komando sedang berlatih beladiri di markas Kopassus Grup-2 di Kartasura, Jawa Tengah.

PeristiwaJanuary 29, 2006 2:44 pm

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa umatnya dan memuliakan mereka di surga-Nya.
Banjarnegara, 5 Januari 2006

Peristiwa 2:42 pm

Sebuah tangki bahan bakar menjadi saksi bisu yang memperparah kelangkaan bahan bakar minyak di berbagai kota di Indonesia. Cepu, pada akhir 2005

Peristiwa 2:40 pm

Nova Maulana, penderita busung lapar di Negeri Adil Makmur, lahir di kota kecil yang sering dibanggakan sebagai lumbung padi Indonesia. Semoga Nova dan rekan senasibnya tak sekadar jadi obyek proyek belas kasih dunia bernama Millenium Development Goals…

Peristiwa 2:34 pm

Potret jaman, ketika ketika banyak orang ingin menyebut diri sebagai tokoh, dewa penyelamat kaum marjinal

Peristiwa 2:32 pm

30 November 2004. Tanggal bersejarah bagi penumpang Lion Air nomor penerbangan JT-538, yang hingga kini masih menunggu datangnya dewi keadilan