PeristiwaApril 17, 2008 1:57 pm

Jalan raya adalah cermin peradaban manusia. Kadang kelucuan kita terpampang di sana. Begitu pula kedewasaan seseorang, mudah ditemukan di jalan raya.

Di jalanan Jakarta yang riuh, pengemudi saling sodok. Untuk sampai di tempat tujuan tepat waktu, dijadikan dalih untuk mengabaikan tata krama berlalu-lintas. Mikrolet, bus kota, mobil pribadi dan sepeda motor bagai berebut lahan. Kemacetan timbul karena orang cenderung egois, enggan berbagi dengan pengguna jalan lainnya.

Penyakit demikian, rupanya tak hanya ada di Jakarta. Di Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, misalnya, orang biasa berdesak-desakan saat naik kendaraan umum. Meski banyak angkutan sejenis mengantre, calon penumpang tetap saja tak sabar menanti giliran. Pengemudi juga merasa diuntungkan lantaran jejalan penumpang. Ora urus, tidak peduli! Termasuk soal keselematan yang menjadi hak semua orang.

Di Giriwoyo, Wonogiri, saya juga menjumpai hal serupa. Puluhan pelajar SLTP berdesak-desakan di atas mobil bak terbuka. Sepertinya, mereka bukan sekadar nebeng. Sebab, lama saya ikuti, mobil itu tak kunjung berhenti. Mobil berbelok ke satu arah, menuju pedesaan, tempat para pelajar itu berasal.

Di Baturetno, masih Kabupaten Wonogiri, saya menjumpai seorang anak yang membonceng sepeda motor pada seorang pedagang mainan anak-anak. Posisinya sama dengan seorang bocah perempuan yang duduk membelakangi sang ayah, di atas sepeda motor sepulang mencari rumput pada suatu petang, di Klaten.

Bagi saya, kedua orang tua itu pantas disebut pembunuh berdarah dingin. Sadar atau tidak, perilaku berlalu lintas yang demikian berpotensi mencelakai orang lain. Pengereman mendadak atau tancap gas secara tiba-tiba merupakan peristiwa lumrah di jalan raya, dan bisa saja tindakan demikian merupakan refleks semata saat menyikami ‘dinamika’ di jalan.

Andai tancap gas tiba-tiba, kedua pembonceng bisa terjatuh karena kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba pula. Mengacu pada hukum gaya (seperti kata guru fisika SMA dulu), bila pembonceng terjatuh, maka ia akan mengikuti arah laju kendaraan. Artinya, bisa saja kepala bagian belakang yang akan terlebih dahulu membentur aspal yang keras. Kita tahu, otak kecil yang menjadi organ vital, rentan pada benturan.

Masih lebih menghibur tindakan awak truk (yang saya jumpai di Klaten), yang memanfaatkan angin untuk mengeringkan, atau sekadar mengusir bau badan yang telanjur melekat pada pakaian yang semula dikenakan. Daripada menjemur di rumah, yang entah kapan bakal sampai, mendingan memanfaatkan tali pengaman muatan sebagai jemuran berjalan.

Jalan raya, memang pantas disebut sebagai cermin kita yang senyatanya. Beradab atau tidaknya seseorang, bisa dilihat dari perilakunya di jalan raya.

PeristiwaDecember 31, 2007 12:45 pm

Konversi lahan di lereng Gunung Lawu menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah, sehingga membuat sejumlah kawasan dilanda bencana tanah longsor. Perlu penelitian lebih mendalam, apakah meningkatnya eksploitasi akar pakis yang banyak dikonsumsi sebagai media tanam anthurium memiliki kontribusi kerusakan lingkungan.

Longsor di Ledoksari, Tawangmangu merenggut 34 nyawa. Pada waktu yang nyaris bersamaan, pada Rabu, 26 Desember, longsor serupa terjadi di enam kecamatan lainnya di Kabupaten Karanganyar, dan menewaskan 32 orang. Bupati Rina Iriani dan seluruh warganya berduka.

Sejumlah longsoran agak besar, terutama di Karangpandan, membuat akses transportasi dari Tawangmangu ke Karanganyar dan kota-kota lain di sekitar Surakarta terhambat. Selama dua hari, distribusi sayuran dari petani Tawangmangu ke pasar-pasar di sejumlah kota, ikut terganggu. Apalagi, beberapa longsoran kecil juga terjadi di jalur alternatif lewat wilayah Kecamatan Matesih.

Peristiwa longsor di belasan tempat itu mengingatkan saya pada peristiwa longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, dua tahun silam. Di dua lokasi itu, selain banyak perbukitan dengan tebing curam, tanaman keras nyaris tiada. Karena itu, tak ada akar kuat yang sanggup menahan pergerakan tanah manakala curah hujan tinggi. Air tak bisa diserap tanah, sedang tanah di permukaan yang gembur mudah larut bersama derasnya air.

Di sekitar Tawangmangu, misalnya, kini tak banyak lagi pohon pinus. Hijaunya bukit-bukit di sana lebih disebabkan oleh suburnya tanaman jagung, yang menjadi sumber ekonomi sebagian besar penduduk. Juga oleh berbagai jenis tanaman hias yang memang dibudidayakan.

Saya pun teringat kata-kata Pak Ginting –seorang pengusaha anthurium di Cemani, Sukoharjo, dalam sebuah percakapan ringan, dua bulan silam. Ia bertutur, eksploitasi tanaman pakis yang tak terkontrol, akan membahayakan keseimbangan lingkungan di sekitar Gunung Lawu. Ia menunjuk contoh, banyak warga di lereng Lawu, terutama di kawasan atas, banyak berbisnis batang pakis dalam beberapa tahu terakhir. Volume perdagangannya pun terus berlibat seiring dengan booming bisnis anthurium.

Andai benar kata Pak Ginting, dimana tanaman pakis memiliki peran penting dalam menahan lajur air dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan di pegunungan, maka longsor di beberapa tempat itu merupakan tragedi. Ibarat senjata makan tuan. Apalagi, Tawangmangu, Jenawi, Ngargoyoso, Karangpandan dan beberapa kecamatan sekitar lereng Gunung Lawu merupakan sentra tanaman anthurium, yang bahkan menjadi barometer bisnis tanaman mahal itu di Indonesia.

Jangankan ‘cuma’ puluhan juta, banyak tanaman jenmanii, wave of love dan beberapa varian anthurium dari daerah-daerah itu bisa laku sampai ratusan juta hingga dalam satuan miliar rupiah. Maka, tak aneh bila di daerah itu, kini banyak berseliweran mobil mewah. Orang-orang yang dulunya hidup pas-pasan, kini bisa naik berbagai jenis mobil keluaran terbaru, yang dimiliki setelah sukses berdagang daun.


Anthurium adalah jenis tanaman memanfaatkan akar pakis sebagai media tumbuhnya. Booming tanaman ini sejak beberapa tahun silam menjadikan kebutuhan akar pakis sangat tinggi ====>

Lihat saja sosok Sujarto –akrab disapa dengan sebutan Mbah Suyar, yang oleh sebagian orang di sana dijadikan figur panutan petani anthurium. Mbah Suyar adalah simbol sukses ‘pedagang daun’. Tangan dinginnya membuat ia sukses berbisnis tanaman yang digelutinya sejak awal 1990-an. Sebagai pegawai negeri yang bertugas nyopir ambulans dengan gaji tak seberapa, kini ia bisa memiliki tiga mobil baru dengan total pembelian nyaris Rp 1 miliar.

Sukses itu pula yang membuat ia terpilih sebagai penerima Danamon Award 2007 dalam kategori pengusaha menengah. Bahkan, Bupati Rina yang sangat kelewat terobsesi pada bisnis daun itu, sampai harus mendeklarasikan Karanganyar sebagai Kota Anthurium sejak pertengahan 2007.

Kalau saja bisnis pakis, yang jadi media utama budidaya anthurium menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah di lereng Gunung Lawu, agaknya Bu Bupati harus meninjau ulang kebijakannya menjadikan daerahnya sebagai Kota Anthurium. Setidak-tidaknya, ia harus mencari alternatif cara untuk melindungi alam, demi anak-cucunya kelak.

Setidaknya, jangan sampai peristiwa longsor di Ledoksari terulang kembali. Kesuksesan puluhan warga Dusun Mogol, Ledoksari berdagang anthurium menjadi sia-sia, kalau ujung-ujungnya hanya membuat mereka terkubur sia-sia, meski bersama harta berlimpah.

Kepada keluarga korban longsor, saya ucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka selama di dunia, semoga dijauhkan pula dari siksa kubur, serta bagi keluarga yang ditinggalkan dikaruniakan kesabaran dalam menghadapi cobaan dari-Nya. Amin.

PeristiwaOctober 10, 2007 11:36 am

Beberapa posting saya mengenai SIEM menuai tanggapan beragam. Ada yang mengancam saya, ada pula yang mendiskreditkan saya seperti dilakukan orang yang mengaku bernama Wahyu Indrawan, juga mengaku bernama Murtidjono. Tak apa. Itu bagian dari beda pendapat, juga kritik kepada saya.

Tapi, saya adalah saya. Sikap saya tak akan terpengaruh oleh hal-hal demikian. Berani membuat pernyataan terbuka melalui blog pribadi jelas mengandung konsekwensi keberanian pula menghadapi tanggapan, kritik, juga reaksi berlebihan. Yang saya sayangkan justru ketidakjujuran penanggap di beberapa tulisan saya, termasuk yang mengatasnamakan diri bernama Murtidjono. Itu sama saja dengan sikap tukang fitnah, yang tak berani menunjukkan jati diri, namun hanya kasak-kusuk di belakang.

Saya tahu persis siapa Pak Murti. Karena itu, tak mungkin seorang Murtidjono akan membuat tanggapan semacam itu atas sikap saya terhadap SIEM . Kalaupun tidak setuju dengan pernyataan saya, saya juga sudah paham bagaimana cara Pak Murti merespon, termasuk kalimat seperti apa yang akan digunakannya untuk menegur saya. Orang yang mengaku bernama Murtidjono dan Wahyu Indrawan, saya yakin merupakan orang yang sama, yakni si kerdil yang tak berani menunjukkan jati dirinya secara terbuka.

Saudara Wahyu, perlu Anda tahu bahwa saya menyaksikan acara itu dari awal hingga akhir, tidak seperti Anda yang mengaku melihat pada hari ke-4 dan kelima, namun sanggup menghitung total penonton sejak hari pertama. Anda telah bertindak inkonsisten. Sebaliknya saya, yang sudah tidak percaya pada materi penampil SIEM, justru menonton terus dari awal hingga akhir. Sebab, saya merasa tidak fair kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun membuat penilaian.

Tuduhan Anda bahwa saya sok-sokan dan sebagainya, biarlah itu jadi catatan saya. Mungkin selama ini saya tidak bisa berperilaku seperti layaknya ‘wartawan’ lain yang lebih suka mundhuk-mundhuk terhadap siapa saja, terutama narasumber. Soal bagaimana membawa diri saat menjalankan tugas jurnalistik, biarlah narasumber sendiri yang menilai saya. Toh, kalau memang saya tak sopan, pasti sang narasuber akan menggunakan haknya untuk menolak kehadiran saya, bahkan mengusirnya sejak awal kedatangan bila perlu….. Emang gue pikirin?!? Hehehehe…..

Saya jadi curiga, jangan-jangan Anda bersikap seperti itu karena kepentingan Anda sedang terganggu? Siapa tahu, Anda termasuk anggota barisan pencari proyek ke Balaikota dengan dalih kerja kesenian/kebudayaan?!? Percayalah, kalau demikian adanya, selama kegiatan itu bermanfaat untuk orang banyak, pasti akan saya dukung. Biarkan saya menggunakan hak saya untuk menyampaikan kritik secara terbuka melalui blog pribadi ini.

OK?

Untuk Murtidjono palsu dan Wahyu Indrawan (yang saya yakin orangnya sama), mari kita renungkan dengan kepala dingin dan hati tenang… Semoga pada tahun-tahun mendatang, bisa muncul event yang lebih tertata dan memiliki manfaat bagi banyak pihak, tidak hanya untuk seniman semata-mata, namun juga publik dan masa depan kebudayaan serta dunia pariwisata Kota Surakarta.

Maaf kalau tulisan-tulisan saya telah mengganggu pikiran dan emosi Anda. Semoga kemarahan Anda tidak berlebihan sehingga penyakit gula dan hipertensi tidak lekas hinggap pada tubuh Anda. Amin.

Untuk melihat tanggapan-tanggapan Wahyu Indrawan dan Murtidjono Palsu, silakan buka link-link berikut:
SIEM

SIEM, Festival Musik nonKomponis
SIEM, Festival Musik Asal-asalan
Keunikan (Seniman) Surakarta

PeristiwaAugust 6, 2007 11:15 am

Tak seperti lazimnya peragaan busana, Iwan Tirta menyajikan suguhan menarik untuk publik di berbagai kota di Indonesia, tak terkecuali Surakarta. Menarik yang saya maksud adalah medium ekspresinya, yakni lewat langendriyan, sebuah opera Jawa. Bertajuk Tandhing Gendhing, opera itu berupa fragmen Mahabharata yang bertutur tentang pertikaian Pandhawa dan Kurawa.

Desainer bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja itu menyiapkan desain khusus untuk masing-masing tokoh. Dia yakin, setiap motif batik memiliki filosofi sendiri-sendiri sehingga harus diselaraskan dengan watak dan sifat tokohnya. Rupanya, ia bukan tipe orang yang gegabah untuk urusan demikian. Bima atau Werkudara yang gagah dan lugas misalnya, tidak mungkin mengenakan kostum yang sama dengan Arjuna yang anggun penuh pesona, meski sama-sama berasal dari kultur ‘putih’-nya Pandawa.

Keseriusan Iwan Tirta dalam mencipta desain batik –termasuk berusaha melindungi hak ciptanya, agar tak dibajak seperti tempe- kian meyakinkan saya, bahwa pengetahuannya mengenai batik memang mahaluas dan layak dijadikan rujukan menimba pengetahuan tentang beraneka jenis corak dan motif batik yang hidup di berbagai kelompok masyarakat Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya kepadanya mengenai motif Alas-alasan karya Iwan yang digunakan untuk kostum tari Dirada Meta dalam sebuah acara di Pura Mangkunageran, beberapa bulan silam. Sontak ia menjawab: Itu ngawur! Saya baru diberitahu empat hari sebelum pementasan mengenai penggunaan batik itu untuk kostum tarian penting itu!

Rupanya, Iwan sependapat dengan saya, bahwa merekonstruksi sebuah tarian yang lama ‘punah’ tidaklah mudah. Ia menganalogikannya dengan proses rekonstruksi Candi Prambanan yang tidak boleh asal menyusun bebatuan. “Perlu riset panjang sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Apalagi, dalam kasus tari Dirada Meta sudah tak ada lagi acuannya, termasuk petunjuk teks dan gambar, baik untuk ragam gerak maupun kostumnya.

Saya jadi teringat betapa seluruh anggota yang terlibat dalam tim rekonstruksi tarian Dirada Meta hanya berkutat pada masalah ragam gerak dan gending iringannya yang lantas dihubung-hubungkan dengan peristiwa peperangan RM Said dan pasukannya melawan tentara kolonial Belanda di sebuah hutan di Blora. Rupanya, tim kreatif tarian itu bertindak simplistis, karena pertempuran berlangsung di hutan, maka motif Alas-alasan akan cocok untuk itu. Asal tahu saja, alas adalah bahasa Jawa yang padanan bahasa Indonesianya adalah ‘hutan’.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari kerja keras Iwan Tirta adalah konsistensinya memajukan batik Indonesia, termasuk upaya pelestarian sejumlah motif batik yang hampir punah. Soal karya Tandhing Gendhing, maaf, saya hanya ingin berkomentar singkat saja. Koreografinya yang kedodoran menjadikan karya-karya batik Iwan Tirta jadi tampak terabaikan…… Hanya sekadar kostum!

Semoga di tempat-tempat lain bisa tampil lebih baik. Mumpung masih ada kesempatan.

PeristiwaMarch 15, 2007 9:12 am

Rupanya, Departemen Perhubungan mulai serius dan hati-hati dalam mengatur kinerja sektor transportasi publik. Buktinya, Adam Air sempat dilarang terbang oleh otoritas Bandara Adi Sumarmo, Surakarta, Kamis (15/2).

Pesawat bernomor penerbangan KI-161 yang mengangkut 99 orang, termasuk empat kru, itu seharusnya meninggalkan Bandara Adi Sumarmo pukul 10.08 WIB menuju Cengkareng. Namun, lantaran petugas pre-flight check tak memiliki lisensi untuk menyatakan pesawat Boeing 737-200 tersebut laik terbang, maka otoritas Bandara melarangnya meninggalkan Surakarta.

Semoga, keputusan otoritas Bandara Adi Sumarmo yang melarang terbang sementara Adam Air bukan lantaran sedang ada inspeksi mendadak dari Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di sana. Bukan pula lantaran banyaknya kejadiakn kecelakaan pesawat udara di berbagai tempat di Indonesia.

Satu gosip yang sempat mampir di telinga saya, sang teknisi Adam Air itu tidak memiliki kompetensi mengecek mesin pesawat. “Yang dia miliki hanya lisensi untuk pengecekan perangkat elektronik. Itu pun sudah kedaluarsa,” ujar sumber itu.

Andai isu itu benar, alangkah menyedihkannya. Demi mengejar keuntungan bisnis penerbangan sampai lalai memperhatikan keselamatan penumpangnya.

Meski demikian, kompromi telah diambil. Manajemen Adam Air telah mendatangkan teknisinya yang bertugas di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta untuk mengecek kelaikan terbang pesawat tersebut. Hasilnya, pesawat bisa terbang kembali, meski penumpang terpaksa menunggu selama tiga jam.

“Aneh, mosok pesawat tak boleh terbang karena alasan administrasi,” ujar Basuki, seorang penumpang asal Turisari, Surakarta.

Basuki, mungkin juga penumpang lain, mungkin tak tahu-menahu soal regulasi penerbangan, termasuk prosedur keselamatan yang tak boleh dilanggar oleh perusahaan penerbangan. Barangkali, Basuki-Basuki yang lain juga mengira kalau mekanisme pengaturan penerbangan pesawat seperti halnya antrian jalan bagi bus-bus di terminal. Tepat jam dan menitnya, maka pesawat harus meninggalkan bandara.

Tentu saja, ketidakmengertian yang demikian tak bisa dijadikan alasan bagi perusahaan penerbangan untuk mengabaikan hak-hak konsumen.

PeristiwaMarch 11, 2007 11:44 am

Tersungkurnya burung besi jenis Boeing 737-400 bernomor penerbangan GA-200 milik Garuda Indonesia di Yogyakarta, Rabu (7/3) pagi, menghebohkan dunia.
Soal penyebab jatuh dan dampak berupa terbakarnya puluhan penumpang, sudah pasti menjadi sorotan. Tapi, banyaknya penumpang kewarganegaraan Australia-lah yang kemudian membuat peristiwa itu menjadi luar biasa.

Karena itu, tak aneh kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memerintahkan aparat, termasuk intelijen melakukan penyelidikan kemungkinan adanya faktor-faktor nonteknis terhadap peristiwa tersebut. Bisa jadi, itu merupakan langkah diplomatis yang tepat. Maklum, Australia merupakan sekutu Amerika yang selalu bawel akibat paranoid akan kata ‘terorisme’, sementara di pesawat nahas itu terdapat sejumlah orang penting dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di antaranya adalah Brice Steele, Head of Australian Federal Police di Jakarta.

Soal kemungkinan sabotase, bisa saja dimunculkan pemerintah dan masyarakat Australia bila Pemerintah Indonesia dan otoritas penyelidik kecelakaan itu tak sigap bertindak. Apalagi, banyaknya Australian di dalam pesawat itu dalam rangka tugas khusus, yakni mengawal Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer yang akan melakukan penandatanganan semacam kontrak kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Untung, negeri kita tak tambah runyam, karena tak satu pun pernyataan ‘provokatif’ muncul dari Menteri Downer yang sempat menjenguk para korban, para anggota penyelidik dari Komite Keselamatan Transportasi Australia maupun penyelidik dari Australian Federal Police.

Meski demikian, bukan berarti persoalan penyelidikan kecelakaan serta identifikasi korban menjadi urusan mudah. Tata krama politik mengharuskan penyelidik, khususnya KNKT, harus memberi kesempatan kepada tim khusus dari Australia. Baik untuk penelitian di lapangan maupun penentuan identitas korban.

Khusus mengenai identifikasi korban, seorang anggota tim forensik Indonesia bertutur, dia dan seluruh anggota tim yang tergabung dalam Disaster Victim Identivication (DVI) Indonesia harus nglegani tim negeri jiran. Para penyelidik Australia itu mengulang-ulang proses identifikasi, bahkan menggunakan temuan final tim Indonesia yang sudah bisa memastikan identitas lima korban terbakar asal Australia itu. “Ya mau gimana lagi. Asal mereka marem, kami juga senang,” ujar seorang dokter anggota tim kepada penulis.

PeristiwaFebruary 1, 2007 2:09 pm

Hujan deras belum lama berlalu pada Kamis (1/2) petang. Jalan Slamet Riyadi yang membelah Kota Surakarta juga belum lama dipadati kembali oleh lalu lalang kendaraan bermotor. Seperti biasa, kawasan Purwosari selalu ruwet pada petang hari. Tempat-tempat penjual makanan enak berserak di sana, juga para pedagang kakilima yang menjajakan aneka rupa: dari kalender, stiker, pakaian, peralatan perbengkelan hingga obat-obatan tradisional dan lapa-lapak penyedia jasa ramalan nasib.

Suasana kian crowded ketika seseorang menyaksikan rangkaian kabel pada sebuah benda menyerupai dinamit tergeletak di pinggiran pembatas jalan. Benda di balik tas plastik hitam (entah diletakkan oleh siapa) itu lantas disimpulkan sebagai jenis peledak. Suasana kota jadi riuh, apalagi kemacetan terjadi dimana-mana. Mudah ditebak, dari mulut pengguna jalan segera tersiar kabar: ada bom di Solo!

Seorang polisi anggota penjinak bom yang didatangkan pun menyimpulkan: si pembuat dinamit bohongan cukup profesional. Bentuknya yang bisa disebut mirip dinamit sungguhan serta penempatannya di pusat keramaian jelas menunjukkan kecerdikan si pembuat dalam menyampaikan pesan teror. Setidaknya, demikian kesimpulan Pak Polisi.

Yang pasti, peristiwa itu merupakan sinyal awal, bahwa aparat keamanan tak boleh duduk tenang. Bisa jadi, si pengirim pesan akan mengulangi perbuatannya, kendati masyarakat menginginkan sebaliknya.

Semoga, polisi tak buru-buru menyimpulkan pelaku teror dengan asumsi semata. Apalagi, cap bahwa Surakarta merupakan ’sarang teroris’ telanjur dilekatkan, termasuk oleh media-media Barat. Keadaan akan menjadi runyam bila teori konspirasi dijadikan pijakan analisis. Sebab, kelahiran Jamaah Islamiyah (yang dicap sebagai salah satu organisasi teroris dunia) cenderung dikaitkan dengan sebagian tokoh masyarakat di Surakarta.

Semoga, aparat kepolisian bisa mengungkap pelaku teror sesungguhnya, termasuk aktor intelektual di baliknya. Sebab, kota yang dalam bahasa politik sering dicap sebagai daerah ‘bersumbu pendek’, peristiwa semacam itu bisa saja memicu kecurigaan dan ketegangan serta meningkatkan suhu politik. Luka dan kepedihan sebagian besar warga kota akibat peristiwa Mei 1998 yang baru saja disembuhkan, bisa-bisa berubah jadi infeksi berkepanjangan.

Orang seperti saya hanya bisa berharap agar semua masyarakat tidak mengembangkan prasangka dengan asumsi dan referensinya sendiri-sendiri. Kedamaian dan harmoni harus terus disemaikan, agar kehidupan kita tidak ikut-ikutan menjadi berantakan…

PeristiwaNovember 15, 2006 3:54 am

Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! Meski terdengar anarkistis, tak ada salahnya kita renungkan kembali makna dan semangat di balik kemunculan jargon yang populer pada masa-masa awal kemerdekaan itu. Tentu, kita harus lebih arif memaknainya. Bukankah kita masih ingin disebut sebagai golongan manusia beradab?

Penafsiran ulang atas gairah untuk ‘menyetrika’ Amerika, yang pasti bukan dengan cara menghalang-halangi kedatangan George Walker Bush ke Indonesia. Bahwa Bush yunior itu brengsek dan suka pamer kekuasaan dimana-mana –termasuk invasi militer ke Irak atau menuduh sebagian orang Islam sebagai teroris, itu hanyalah potret sebagian wajah Amerika.

Baasyir, simbol teroris Islam versi Bush ==>

Kebijakan politik (ekonomi dan militer) luar negeri Amerika, yang selalu memposisikan diri sebagai juru selamat sekaligus penjaga keberlangsungan peradaban manusia di seluruh muka bumi, pasti harus dikritisi. Namun, energi kita akan terbuang sia-sia manakala kita lupa mengingatkan aparatur pemerintah kita sendiri. Dalam konteks hubungan Indonesia-Amerika, sudah selayaknya protes keras justru diarahkan kepada mereka.

Berpijak pada semangat mulia memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan yang telah dicanangkan para pendiri negara, maka negara dan pemerintahan yang berdaulat tak boleh dilecehkan oleh siapapun. Susilo Bambang Yudhoyono dan George W. Bush memiliki posisi setara, sama-sama presiden dari sebuah negara. Keduanya juga menjadi simbol sebuah bangsa, yang memiliki hak dan kedudukan setara menurut piagam PBB.

Oleh karena itu, sungguh aneh kalau pemerintah harus menunjukkan inferioritasnya terhadap Amerika kepada masyarakat internasional. Mematikan jaringan telepon seluler selama 10 jam hanya demi kenyamanan seorang Bush adalah sebuah bukti nyata, bahwa para pemimpin negeri ini masih memiliki mental inlander. Bahwa IMF, Bank Dunia, WTO dan lembaga-lembaga keuangan internasional –yang telah memiskinkan rakyat Indonesia, sepenuhnya dikontrol Amerika, sama sekali tak pernah disikapi secara kritis oleh para pemegang mandat menjalankan pemerintahan yang seharusnya betujuan mensejahterakan rakyatnya.

Tak terbayang, berapa nilai kerugian sosial dan ekonomi yang ditanggung ribuang pengguna saluran komunikasi bergerak itu. Belum lagi nasib ribuan anak-anak dan anggota keluarga sopir angkutan umum dan pedagang kakilima yang terpaksa tak beroperasi selama beberapa hari, gara-gara seorang Bush harus merasa nyaman dan aman duduk-duduk di kompleks Istana Bogor. Jalan raya di pusat kota Bogor harus dikosongkan, meski kita tahu, Bush sama sekali tidak menggunakan jalur darat selama berada di kota hujan itu.

Semoga, pembicaraan antara SBY dan Bush tak hanya berisi seputar komitmen negara itu untuk membiayai pelatihan dan kerjasama memerangi terorisme, atau janji pemberian utang baru dengan bunga lunak dan rentang waktu pengembalian yang cukup panjang. Terorisme, bukan hanya musuh Amerika, melainkan musuh seluruh umat manusia. Kalaupun Amerika lantang menyatakan diri sebagai ‘pemimpin’ masyarakat dunia dalam melawan terorisme, hal itu tak lain hanyalah ilusi belaka.

Mereka terlalu paranoid. Manusia di seluruh dunia sudah kian cerdas dan semakin berani mengkritik kebijakan luar negeri Amerika dan sekutunya. Karena itu, mereka menempuh berbagai cara sebagai upaya mengalihkan perhatian agar masyarakat dunia tidak menuntut pertanggungjawaban Amerika sebagai panglima lintah darat dunia, yang telah menghisap kekayaan dan daya hidup bangsa-bangsa di negara miskin selama bertahun-tahun.

Meski terkesan berlebihan, tak ada salahnya kalau pemerintah kita meminta kepada pemerintah Amerika agar memberikan (minimal) kompensasi atas potensi kerugian ekonomis yang diderita ribuan warga Bogor akibat kedatangan Bush. Di luar itu, tak ada salahnya kalau Presiden SBY memberanikan diri meminta Bush untuk memelopori penghapusan utang terhadap Indonesia.

Utang luar negeri sebesar Rp 1.300 triliun lebih bukan angka yang kecil. Apalagi bila dibandingkan pendapatan sopir angkutan dan pedagang kakilima yang hanya Rp 50 ribu sehari. Padahal, pendapatan segitu pasti ludes untuk makan empat orang dalam satu keluarga.

PeristiwaNovember 14, 2006 7:24 am

Suatu sore, dalam perjalanan pulang. Satu lagi, saya lihat sebuah bangunan rumah-toko (ruko) tengah dibangun, seperti ingin menambah daftar panjang ‘indikator perekonomian’ Kota Surakarta. Ya, sejak tiga tahun terakhir, pertumbuhan properti memang kian pesat meski rata-rata sepi penyewa. Bukan masalah perekonomian itu yang menarik perhatian saya. Tapi, itu loh, bendera merah-putih lusuh yang berkibar di puncak bangunan!

Mungkin, si kontraktor atau pemilik bangunan itu berniat menunjukkan nasionalismenya. Meski semua mafhum, motif ekonomi tak pernah bersangkut paut dengan hal-hal patriotis, kecuali kebutuhan si pelaku akan sebuah paspor atau alat-alat bukti bahwa ia memiliki kewarganegaraan (dalam rangka melakukan kegiatan-kegiatan ekonominya).

Yang pasti, sang pengibar bendera termasuk orang beruntung. Pada masa Soeharto berkuasa, tentu ia kelewat bodoh sehingga sudah pasti segera diambil paksa oleh aparat. Nasionalismenya bakal diselidik, begitu pula dengan motif tindakannya. Ia bahkan bakal dirunut latar belakang keluarga, sanak saudara hingga pergaulannya. Lebih dari itu, ia mesti bisa membuktikan diri bebas dari G30S/PKI atau memiliki keterlibatan pada kelompok ekstrem kanan, dan sebagainya dan seterusnya. Semua hal bisa menjadi alasan bagi sang interogator untuk menyiksa, sebelum akhirnya menjebloskannya sebagai tahanan subversif (entah lewat proses peradilan atau tanpanya).

Tapi, sebagai warga negara Indonesia (yang baik dan konsekwen), risih juga rasanya melihat bendera lusuh dan compang-camping itu masih berkibar. Kalaupun tak tahu dimana bisa memperoleh bendera, lebih baik tidak perlu memasangnya. Begitu saya pikir. Toh, dengan sedikit repot, bisa menanyakan pada anak, saudara atau tetangga yang masih bersekolah. Mereka pasti tahu dimana letak toko penjual perlengkapan Pramuka!

Bagi orang seperti saya –yang pernah memperoleh dasar-dasar kepramukaan sejak SD hingga SMP serta pernah ikut penataran P4 hingga 100 jam ditambah mata pelajaran kewarganegaraan dan kewiraan, pasti tak akan tega memasang bendera begitu rupa (betapapun saya jengkel dan pernah muak dengan sebagian materi pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa/PSPB)!

Aneh! Mungkin, lagi-lagi mungkin, si pemasang bendera itu terbiasa menyepelekan hal-hal yang dikiranya sebagai perkara remeh, sehingga salah satu simbol negara itu pun diposisikannya lebih rendah dibanding umbul-umbul iklan sebuah produk.

Padahal, menurut keyakinan saya, orang itu pasti pernah mengalami masa, dimana TVRI masih menjadi satu-satunya media siaran audiovisual, yang (meski kadang berlebihan) tapi paling rajin menayangkan secara live acara-acara semacam Asian Games atau berita kunjungan presiden kita ke luar negeri atau sebaiknya ketika kedatangan tamu negara, dimana bendera merah-putih menjadi penanda sekaligus identitas sebuah bangsa dan negara berdaulat.

Semoga bukan karena euforia reformasi yang dijadikan dasar penafsiran akan makna ‘kebebasan’, sehingga bisa bersikap dan bertindak semau gue. Sebab sebuah kehidupan selalu memiliki aturan dan tatanan. Minimal, kita bisa mengukur sendiri, mana yang pantas atau tidak layak dilakukan. Bukankah kita tak mau lagi hidup kita diatur dan dikontrol ala Orde Baru?

Tak ada salahnya kita mengapresiasi sikap dan meneladani tindakan anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok musik Cokelat. Mereka lantang menyanyikan lagu (kalau tak salah) Bendera, bahkan dalam rangka perayaan tujuh belasan tahun ini, membuat rekaman khusus dan aransemen baru atas sejumlah ‘lagu-lagu wajib’ yang hingga kini masih banyak beredar dengan edisi sederhana: dicetak di atas kertas buram!

PeristiwaOctober 9, 2006 9:05 am

Seorang Mantri Ternak dari sebuah rumah pemotongan hewan di Surakarta cekatan beraksi. Di depan kamera seorang jurnalis televisi, ia membolak-balik daging lalu sesekali menciumnya. Hanya dua tempat dari belasan kios terbuka di Pasar Gede yang disinggahinya, Senin (9/10) pagi. Mungkin, ia hanya bermaksud menerapkan metode random sampling walau yang dikunjunginya dua tempat yang bersebelahan.

Dua orang pedagang — keduanya perempuan, meneriakkan kalimat setengah mengejek. “Wah, Pak Mantri rajin… Daripada kemari, mbok ke Pasar Legi saja. Sudah dilapori dari dulu, kok didiamkan saja,” ujar ibu pedagang. Anehnya, Pak Mantri seolah tak mendengar protes kedua pedagang itu. Hanya sekitar sepuluh menit beraksi, Pak Mantri dan rombongan sudah beranjak pergi menuju Pasar Semanggi untuk tujuan yang sama.

Lalu, kedua pedagang itu berceloteh, melampiaskan kekesalannya, sambil menunjuk nama seorang pedagang dengan insisial S di Pasar Legi. Sudah menjadi rahasia umum, kata kedua pedagang itu, S menjual daging sapi yang dioplos dengan daging babi. Bukan hanya saat ramadhan dan hari raya, dimana permintaan daging melonjak, namun pada hari-hari biasa pun, S selalu menjual daging oplosan. “Setiap hari, S selalu datang kemari membeli daging babi (untuk bahan oplosan),” tuturnya.

Kedua pedagang itu jengkel, omzetnya menurun gara-gara maraknya peredaran daging oplosan. Namun, bukan penurunan omzet itu yang membuatnya masygul. “Konsumen ditipu, sementara mereka mengira pedagang di sini menjual daging yang sama dengan harga lebih mahal. Ini kejahatan yang tak boleh dibiarkan,” tutur Ny. Kushartati, seorang pedagang.

Semula, rombongan hendak kembali ke kantornya setelah tidak menemukan bukti di kedua lokasi operasi. Seorang jurnalis yang sudah memperoleh informasi adanya praktek curang perdagangan daging di Pasar Legi lantas mendesakkan pertanyaan kepada Pak Mantri, apakah rombongan juga akan melakukan operasi serupa di pasar itu. Pak Mantri sempat ragu (karena berdalih kesiangan walau jam baru menunjukkan pukul 8.30 WIB), sebelum akhirnya berbelok arah ke pasar yang terletak di belakang Istana Mangkunegaran itu.

Rupanya, informasi pedagang Pasar Gede benar adanya. Di Pasar Legi, mereka menemukan sedikitnya sepuluh kilogram daging sapi campuran daging babi dalam tiga tas plastik warna hitam di bawah sebuah meja tak bertuan. Lalu, rombongan itu bergegas menuju los daging. Kurang dari sepuluh menit, ‘operasi’ itu kembali menemukan daging babi yang dijajakan di meja-meja khusus daging sapi. Seperti ogah menyelidik, daging yang ditemukan itu lantas diangkut ke kantor, sementara pedagang hanya ‘dihimbau’ untuk tidak menyesatkan pembelinya.

Cerita operasi yustisi (begitu mereka menyebutnya), akhirnya memang hanya berakhir sampai di situ. Sejumlah pedagang yang menjual daging sapi sungguhan – yang juga mengeluhkan adanya sejumlah pedagang daging oplosan, tak beroleh tanggapan, apalagi tindakan.

Pak Mantri hanya menyita daging-daging oplosan itu. Kepada para pedagang, ia berpesan agar pemilik daging mengambilnya di rumah pemotongan hewan, tempat mereka berkantor. Sebuah himbauan sia-sia, sebab tak pernah ada cerita (dalam dongeng sekalipun), seorang maling datang menghadap polisi untuk mengakui perbuatannya.

Di luar aksi tipu-tipu (baik yang dilakukan pedagang maupun pemain ‘drama’ operasi yustisi) itu, ada satu hal yang sangat mencemaskan saya. Mengoplos daging sapi dengan daging babi, sama saja dengan memantik api di gudang jerami.

Mencampur daging sapi yang halal dengan daging babi yang haram (bagi muslim), sama saja menyiram bensin pada tumpukan jerami. Semua orang tahu, Surakarta dikenal sebagai daerah bersumbu pendek dalam istilah politik. Dan, di kota itu, cukup banyak kelompok masyarakat yang mudah beringas, yang biasanya akan bertindak secara ’suka rela’ untuk melempar korek api ke arah tumpukan jerami yang sudah terlebih dahulu dibasahi dengan bensin…………………..

Catatan:
Pada paragraf ke-9 kalimat terakhir terdapat kesalahan fatal. Semula tertulis “Mengoplos daging sapi dengan daging sapi…..“, padahal yang dimaksud adalah “Mengoplos daging sapi dengan daging babi.” Dengan demikian, kekeliruan sudah dibuat benar. (Jkt, 11 Okt 2006 pk 12.26 WIB)

Terima kasih untuk budiw