Uluk SalamMarch 15, 2007 8:47 am

Tanpa tahu maksud dan tujuan pengirimnya, tiba-tiba saja saya kedatangan loper elektronik. Si kurir cerdas itu, pun tak meninggalkan pesan sepatah katapun kecuali menyisakan jejak berupa alamat sang pengirim.

Kita tahu, apalagi blogger sejati, pasti sangat mengenal selebritis dunia maya yang satu ini. Andai pun tak mengenal wajahnya, namun jejak hidupnya mudah terlacak. Ia bagai pelayan Tuhan di bumi. Perilakunya pun mirip-mirip kaum Jesuit yang selalu datang, membaur dan menyatu dengan kaum terpinggirkan. Ia memberi daya hidup, selalu mengingatkan agar kita tak pernah lupa, apalagi abai dengan apa yang terjadi di lingkungan terdekat kita.

Setiap tarikan nafasnya, Sang Sufi Tak Kasat Mata selalu mengajak kita berpaling pada hal-hal kebendaan. Sementara dengus embusan nafasnya, selalu mendorong kita untuk bertindak, setidaknya merenung dan merefleksi diri.

Rasanya, kita masih bisa bersepakat untuk mengapresiasi kelebihan Sang Sufi ini, lalu mengucap syukur kepada-Nya, karena telah mendatangkan mesias ke dunia. Berimanlah kepada Dia Sang Pencipta, karena engkau beruntung telah mengenal dan selalu dituntun oleh Domba Yang Tak Pernah Tersesat ini untuk jangan pernah berpaling dari-Nya.

Uluk SalamDecember 26, 2006 11:01 am

Enam tahun silam, sejumlah bom meledak hampir serentak di berbagai gereja di Jakarta. Sejak peristiwa itu, peringatan Natal selalu bikin cemas. Aparat bersiaga, tak jarang menenteng senjata. Begitu pula pemburu berita. Mereka terpaksa ikut-ikutan meronda. Kecemasan lantas menjadi penyakit bersama, tanpa memandang agama.


Pohon Natal tertinggi di Indonesia yang dibuat untuk merayakan Natal oleh umat Kristiani di Surakarta menjadi tontonan seluruh warga

Kini, semua orang bersukacita karena malam Natal berlangsung tanpa menorehkan catatan duka. Tragedi berdarah seakan menjadi peristiwa lumrah belaka. Dan kita cenderung lupa, siapapun dan minoritas apapun tak layak dianiaya. Apalagi, dengan alasan berbeda agama.

Mestinya kita sudah lelah, bosan dan gemas. Sebab setiap Desember menjelang, kita digiring pada kecemasan yang selalu berulang.

Karena itu, mestinya kita bersama-sama bangkit melawan, mewujudkan dengan tindakan supaya tak ada lagi kecemasan. Saatnya kita merajut kebersamaan, meniadakan prasangka keimanan dan mewujudkan perdamaian.

Selamat merayakan Natal saudara-saudaraku, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Siapkan diri kita, melawan adu domba……..